
Baru saja akan melangkah, suara Alvi mengelegar di ruang tamu. Niat Alana ingin mengadu di urungkan, ia mengapus air matanya lalu menghampiri suami dan kakek martuanya.
"Lalu di mana ibu aku? apa aku hanya anak yatim piatu yang kebetulan di rawat oleh keluarga Vernando?" tanya Alvi penuh tekanan, menukik tajam kakek Farhan dengan tatapan elangnya.
"Kamu cucu kakek Ndo, ibu kamu meninggal karema kecelakaan saat usiamu 9 bulan."
Deg, bagai terasambar petir, jatung Alvi berdetak sangat cepat seiring otot tubuhnya melemah. Kenapa baru serangan Alvi mengetahi semuanya? padahal dirinya selalu bertanya di mana ibunya? benarkah Anna ibunya? lalu kenapa wanita itu tega meninggalkannya tanpa perasaan?
Dan sekarang semua pertanyaan Alvi telah terjawab, pantas saja Anna begitu tega meninggalkan dirinya dan ayahnya di saat mereka lagi membutuhkan sosok seorang ibu.
"Kekak tidak pernah beritahu kamu karena tidak ingin kamu sedih Ndo," lirih kakek Farhan.
"Di mana makam ibu ku?"
Kakek Farhan mengeleng, "Ibumu tidak mempunyai makam." Ia menjeda, "Ibumu meninggal saat perjalanan bisnis, kapal yang ia tumpangi terjatuh ke laut dan sampai sekarang kami tidak bisa menemukannya."
__ADS_1
Alvi menendang meja di hadapannya, membuat meja kaca itu terjatuh dan pecah. Pecahan kaca berserakan di mana-mana bahkan ada sedikit menancap di kaki Alvi, tetapi laki-laki itu menghirakukannya.
"Kenapa baru sekarang? apa kakek nggak pernah mikirin perasaan aku? aku juga punya hak mengetahui di mana ibu ku!" bentak Alvi penuh amarah.
Melihat Alvi mulai tak terkendali, Alana maju dan langsung memeluk lelaki berbadan tegap itu, mencoba memberi kehangatan, dan menenangkan Alvi agar tidak lupa diri.
"Bibi, tolong antar kakek ke kamar tamu!" perintah Alana masih setia memeluk Alvi.
Bi Neneng mengangguk patuh, mengantar kakek Farhan ke kamar tamu dengan hati-hati.
Alana memejamkan mata saat tak sengaja menginjak pecahan kaca, tapi semua itu ia hiraukan dan hanya fokus menengangkan sang suami yang mungkin saja sangat terguncang. Alana bergerak sedikit lalu mendudukkan diri di sofa dengan Alvi berada dalam pelukannya. Menepuk-nepuk punggung laki-laki itu yang kini mulai tenang walau nafas masih memburu dan belum ada suara keluar dari mulutnya.
"Hm."
"Kita ke kamar ya!" ajak Alana.
__ADS_1
Alvi tak menyahut, ia memeluk tubuh hangat istrinya, pelukan yang mampu membuat dirinya tenang dalam keadaan marah ataupun sedih. Tapi sekarang pikirannya sedang kacau, tak bisa befikir jernih.
"Izinin Aa minum Al." Izin Alvi, mungkin dengan minum minuman beralkohol tinggi bisa menenangkan jiwa dan pikirannnya.
"Nggak A," ujar Alana tak mengizinkan, "Minuman hanya penenang sesaat, itu pun jika Aa nggak menimbulkan kekacauan. Nggak ada yang ngalahin obat penang Allah, ya itu shalat. Aa belum sholat isya kan? sekarang kita shalat dan tenangkan diri Aa. Berdo'a semoga mama dan papa tenang di alam sana."
Benar apa yang di katakan Alana, terbukti sekarang hati dan pikiran Alvi sedikit jernih setelah melaksanakan shalat dengan istrinya. Belum juga Alana membuka mukenanya Alvi kembali memeluk gadis itu.
"Manja ya sekarang baby besar aku," canda Alana melingkarkan tangannya di tubuh Alvi yang kini juga sedang memeluknya, sekali-kali mengusap punggung juga meremas bagian belakang rambut Alvi. "Kalau Aa mau nangis, jangan di tahan biar lega sayang."
Malam yang dingin itu Alvi benar-benar meluapkan seluruh isi hatinya pada Alana, menangis dalam pelukan gadis itu tanpa ada rasa malu sedikitpun.
...TBC...
Jangan lupa like, komen, dan vote. Karena dukungan dari kalian salah satu mood booster dedek untuk menulis part selanjutnya.
__ADS_1
Mampir juga kuy di novel mak Online aku yang baik hati ini.