
Alana dengan setia mendengarkan curhatan hati mis Tania. Mulai dari Mis Tania bertemu dengan pria yang selama ini dia cintai saat masuk SMA, selalu bersama dan tak terpisahkan hingga sarjana. Selalu mengerjakan proyek bareng dan sebagainya. Alana hanya bisa memberikan semangat pada mis Tania. Walau kurang setuju saat mendengar mis Tania mengatakan, akan merebut pria itu dari istrinya.
Tapi mungkin Alana juga akan merasakan sakitnya seperti mis Tania kalau saja ia tidak bertemu dengan Alvi. Mengharapkan cinta Dito yang tak pernah menganggapnya sebagai seorang gadis.
"Mis udah kasi tau dia kan tentang perasan mis?"
"Berulang kali Al, tapi dia selalu mengacuhkan saya." curhat Tania. "Saat akan kembali ke Indonesia, saya juga menciumnya berharap dia tau ketulusan saya."
"Responnya gimana?"
"Acuh, mungkin karena terburu-buru saat mengetahui kondisi kekeknya."
Alana berusaha menghibur mis Tania, menawarkan diri akan selalu mendengarkan curhatan hati wanita itu kapanpun dia mau.
***
Mobil Alvi sudah terparkir rapi di garasi rumah orang tuanya, yang artinya suaminya sudah pulang. Ah kenapa ia lupa waktu seperti ini, bahkan lupa mengabari Alvi. Dengan langkah sedikit ragu ia membuka pintu rumahnya dan mendapati bunda Anin duduk di Sofa memandanginya.
"Bunda?" Alana senyum kikuk.
__ADS_1
"Alvi tanya keberadaan kamu, itu artinya kamu nggak minta izin tadi."
"Maaf bunda. Alana lupa."
"Lain kali kalau mau pergi kemanapun kamu harus izin sama suami kamu nak. Kamu tanggung jawab Alvi sekarang, hormati suami kamu!" Nasehat bunda Anin.
Alana mengangguk. izin masuk ke kamarnya. Ia membuka pintu perlahan dan mendapati Alvi duduk di atas tempat tidur dengan berbagai buku di hadapannya.
Melihat kedatangan Alana, refleks Alvi menyembunyikan buku-buku tersebut di bawah selimut.
"Dari mana?" selidik Alvi.
"Habis jalan sama mis Tania." lirih Alana duduk di pinggir ranjang. "Maaf Aa, aku cuma sebentar kok, cuma pas pulang nggak sengaja liat anak-anak di jalan ngemis gitu."
Bukan maksud Alvi membatasi pergaulan Alana, tapi sejak Alana mengenal Tania, gadis itu banyak berubah, berani keluar tanpa sepengetahuannya, juga suka pulang larut.
"Belanja apa aja sayang?" melirik sekitarnya dan Alana tak membawa satupin barang, padahal daftar pengeluarkan Alana hari ini sangat banyak, terutama makanan.
"Ah iya aku hampir lupa A." Alana mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam di dompetnya, lalu memperlihatkan pada Alvi. "Aku tadi pakai kartu Aa buat belanja, banyak banget. Tapi bukan buat aku."
__ADS_1
Alis Alvi terangkat membentuk setengah lingkaran, lalu buat siapa Alana membelanjakan uang sebanyak itu?
Alana mulai menceritakan apa yang di lakukannya sepulang bertemu dengan Tania di pusat perbelanjaan. Gadis itu berhenti di suatu tempat saat melihat seorang anak mengemis di pinggir jalan dan mendapat perlakuan kasar dari pengendaran lain. Hati nurani Alana membuatnya tak tega.
Ia menghampiri kakak beradik itu di pinggir jalan.
"Dek dimana orang tua kalian?" tanya Alana, membantu anak laki-laki umur tujuh tahun mungkin. Mengusap siku juga lutut anak laki-laki itu dari kotoran pasir di pinggir jalan.
"Ibu kami sakit kak, dan belum makan dari kemarin." lirih anak lebih besar lagi.
Hati Alana ikut sakit melihat anak-anak kurang beruntung itu, pakaian lusuh tak layak pakai melekat di tubuh masing-masing. Genangan air kini menganak di peluk matanya siap tumpah kapan saja. Apa lagi mengingat perlakuan pengendara bermotor tadi yang lansung mendorong anak itu.
"Jangan nangis dek." mengusap air mata anak laki-laki tujuh tahun itu.
Alana membawa kedua anak itu ke apotik terdekat untuk mengobati lutut juga siku anak yang terjatuh. setelahnya ia minta agar dirinya di antar kerumah mereka untuk melihat kondisi sang ibu yang katanya sakit dan belum makan.
***
Jangan lupa vote mumpung hari senin ya akak cantik.
__ADS_1
Mampir juga di novel kakak aku nih.