
Arga berlari menghampiri Oma dan Opanya di ruang tamu setelah di turunkan oleh Alvi. Ia langsung memeluk kaki Ayah Kevin.
"Opa jahat pergi nggak ngajak Arga. Arga 'kan pengen ikut," ucap Arga dengan wajah cemberut.
Ayah Kevin tertawa, menunduk lalu mengendong Arga. "Arga tadi sekolah sayang. Nanti kita jalan-jalan nggak usah ajak dedek," ucap Ayah Kevin menguyel-uyel hidung Arga dengan hidungnya.
Walau Arga bukan anak kandung Alvi dan Alana, tetapi Anin dan Kevin tidak pernah membedakan kasih sayangnya. Arga tetaplah cucu pertama bagi mereka. Bahkan mereka tidak ingin mencari tahu siapa orang tua bocil cerewet itu.
"Beneran ya Opa, awas kalau bohong kita kemusuhan," ancam Arga.
"Benar dong."
"Arga sayang, turun ya Opanya baru pulang pasti capek!" perintah Alvi yang baru saja datang setelah menggoda sang istri di kamar.
Arga sontak menoleh dengan mata berkaca-kaca, detik selanjutnya tangis bocil itu pecah dalam gendongan Kevin membuat seisi rumah heran. Terlebih Baby A yang awalnya tidur di atas stroler terbangun.
"Kenapa sayang?" Anin menghampiri suaminya, mengusap kepala Arga.
"Daddy sama Mommy sakit Opa ... Badan daddy sama mommy merah-merah di gigit nyamuk raksasa," adu Arga.
__ADS_1
Raut wajah yang tadinya khawatir kini tergantikan dengan senyuman. Anin dan Kevin saling pandang kemudian tertawa. Sementara Alvi mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lagi-lagi dirinya di buat malu oleh anaknya sendiri.
"Daddy sama mommy kamu nggak sakit sayang. Itu tandanya mereka lagi proses buat dedek untuk Arga." Kevin memberi penjelasan sedikit ambigu pada cucunya.
"Mas!" tegur Anin.
"Tapi Arga udah punya dedek Opa."
"Ya nggak papa, biar rumah ramai kayak taman bermain."
"Jadi daddy sama mommy nggak sakit?" tanya Arga dengan polosnya.
"Sekarang Arga ganti baju dulu, setelah itu main sama Opa." Kevin menurunkan Arga dari gendongannyan setelah melihat Alana menuruni satu persatu anak tangga.
"Ayo nak, ganti baju sama mommy."
Alana meraih tangan Arga dan mengantarnya ke kamar. Menganti baju dan yang lainnya. Alana tak lupa menemani putranya makan, karena Arga hanya nurut padanya, bukan sama Alvi.
"Arga bakal punya dedek gemes lagi Mommy?" tanya Arga di sela-sela makannya.
__ADS_1
"Kan udah ada sayang."
"Tapi kata Opa kalau badan Mommy sama Daddy merah-merah tandanya lagi proses buat dedek untuk Arga."
Blush, rona merah menyembul keluar di pipi Alana. Ingin rasanya ia meneriaki ayah Kevin, tapi urung karena Arga, ia tidak ingin Arga mencontohnya.
Usai menemani Arga sarapan, Alana kini beralih pada dua kecobongnya di kamar. Alvi sudah memindahkan dua bidadari kecilnya tadi.
"Kenapa sayang? Kangen ya sama Mommy, hm? Atha sama Alha habis jalan sama Oma, iya?" Alana menunduk mencolek pipi cubi keduanya.
Alatha dan Agatha sedang tertawa di atas ranjang karena Alvi mengelitiknya. Suara tawa Baby A sangat renyah membuat Alana bahagia.
"Sayang, bentar lagi Anivesary kita, rencanya mau kemana?" tanya Alvi di sela-sela aktivitasnya bermain dengan si kecil.
"Terserah Aa aja deh, aku nggak tau. Lagian sekarang kita punya tiga ekor bakal ribet." Alana menyandarkan kepalanya di pundak Alvi.
"Emang hewan ada tiga ekor, hm?" Menjawil hidung mancung Alana. "Kita bisa nitip anak-anak sama Bunda sehari aja. Lagian setelah kamu lahiran belum pernah liburan," saran Alvi.
"Yaudah deh Aa yang atur aja, tapi jangan jauh-jauh takutnya aku kangen sama anak-anak."
__ADS_1
...****************...