
Jam istirahat pertama telah tiba 3 menit yang lalu, semua siswa yang ada di dalam kelas berhamburan keluar untuk melaksanakan kegiatan masing-masing, begitupun dengan Alana dan Salsa mereka berjalan menyusuri koridor sekolah, tujuan utama mereka tak lain adalah kantin.
Perjalanan mereka dihiasi dengan canda tawa, Salsa sekali-kali melempar godaan pada Alana. Tawa Alana terhenti kala melihat siswa-siswi mengerumuni seseorang yang tak lain adalah suaminya, ingat suaminya.
Tanpa ba...bi...bu Alana menghampiri segerombolan cewek-cewek centil tersebut.
"Hay pak Alvi." sapa Alana riang dengan senyuman khasnya. Sontak para cewek-cewek yang caper pada Alvi dengan alasan tugas, menatap Alana tak suka, tapi itu bukan urusan Alana.
"Sendiri aja pak, istirnya mana?" setelah mengatakan hal tersebut, Alana berjalan tanpa dosa melewati Alvi dan cewek-cewek genit tersebut dengan tatapan tak percaya. Bahkan Salsa melongo melihat kelakuan Alana yang terbilang berani.
Miliknya ya miliknya orang lain tidak boleh memilikinya.
Itu adalah hal yang tidak bisa hilang dari seorang Alana, gelar anak tunggal masih melekat padanya karena kekerasan kepalanya tidak mau mempunyai adik, hanya karena tidak ingin berbagi orang tua.
"Pak Alvi udah nikah?"
"Kapan?"
"Kok kita-kita nggak di undang."
"Pasti istri pak Alvi cantik."
Alvi hanya bisa senyum kaku menanggapi pertanyaan para siswanya, ini smua akibat ulah Alana.
lain hal dengan Alana yang kini memamerkan senyumnya karena berhasil memproklamasikan bahwa sekarang Alvi sudah mempunyai pawang, ya walau belum ada yang tahu bahwa itu adalah dirinya.
"Ck." Salsa berdekcak duduk berhadapan dengan Alana setelah memesan makanan.
"Napa lo Sal."
Salsa mengeleng tak percaya. "Kayaknya ada yang cemburu nih." goda Salsa.
"Masa sih gue cemburu? itu artinya gue cinta dong sama pak Alvi." serius Alana menatap Salsa.
"Kayaknya lo emang jatuh cinta deh Al." ujar Salsa sok tahu.
Alana mengibas-ibaskan tangannya, menyangkal tebakan sok tahu Salsa. "Nggak mungkin Sal." Gadis berambut indah tersebut mengelak. "Gue cuma nggak suka milkk gue di ganggu.
See? sifat posesif ayah Kevin menurun langsung pada putrinya, bahkan lebih parah dari sang ayah.
"Lo pilih Rayhan apa Samuel?"
"Samuel." jawab Alana cepat walau belum tahu apa maksud Salsa bertanya seperti itu padanya.
__ADS_1
"Samuel dan Keenan."
"Keenan."
"Dito dan Azka?"
"Azka."
"Azk dan Alvi."
"Alvi."
Tawa Salsa pecah di udara. "Nah kan, lo lebih milih Pak Alvi di banding Azka, apa coba namanya." goda Salsa mengoyang-goyangkan telunjuknya.
"Cie...cie...nyebut-nyebut nama Azka." Alana malah balik menggoda Salsa.
***
Berkali-kali Alana menghela nafas kasar, malam yang selalu dia habiskan meraton drakor kini di gantikan dengan belajar. Entahlah duduk di hadapan soal-soal membuatnya cepat mengantuk padahal jam masih menunjukkan angka delapan.
Mau tidur atau sembunyi-sembunyi nonton itu tidak mungkin, melihat Alvi sedari tadi berdiri di samping kursinya, memperhatikan gadis berambut indah tersebut mengerjakan soal-soal.
Alana meletakkan puplen yang dia pegan ke atas meja, lalu menumpu dagunya pada tumpukan buku paket di depannya. "Besok aja a." tawarnya malas.
"Semua."
Alvi mulai menjelaskan ulang materi-materi yang belum Alana mengerti, bukannya mendengarkan, Alana malah bertopang dagu dengan senyuman terus menghiasi bibir indahnya. Menatap wajah tampan suaminya tanpa berkedip sedikitpun, memperhatikan jakung Alvi yang naik turun, bibir tebal yang setia mengeluarkan suara yang begitu candu untuknya.
Pikiran Alana mulai melanglang buana membayangkan bagaimana manisnya bibir tebal tersebut jika dia menyesapnya.
"Udah ngerti?" tanya Alvi.
Alana mengagukkan kepalanya masih dengan senyuman.
"Alana."
Alana mengedip-ngedipkan matanya, membuat Alvi semakin mendekatkan wajahnya, detik berikutnya, benda kenyal itu bersatu padu, memadu kasih merasai manisnya satu sama lain. Alana memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang di berikan Alvi padanya.
"Alana." panggilan tersebut seperti bisikan di telinga Alana, di bukanya perlahan-lahan matanya dan mendapati Alvi tengah menatapnya tajam.
"Kamu mikiran apa, hm?" tanya Alvi datar.
Gila...gila...gila. Alana mengumpat dirinya sendiri, bisa-bisanya dia berkhayal di cium oleh Alvi, malah terang-teregan di depan yang punya bibir lagi.
__ADS_1
"Sepertinya kamu memang tidak mengerti." Alvi meletakkan lembar soal yang dia pegang. "Tidurlan, saya masih ada urusan." lanjut Alvi kemudian keluar dari kamar meninggalkan Alana seorang diri.
Rasa malas Alana seketika menguap melihat tatapan tajam Alvi dan juga suara yang tak seperti bisanya, di ambilnya kembali pulpen di atas meja kemudian mengerjakan soal-soal yang di berikan Alvi padanya. Mungkin dengan cara ini Alvi tidak marah lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 10, semua soal telah Alana kerjakan. Ya Alana bukanlah gadis bodoh dalam hal pelajaran, namun rasa malas yang menumpuk membuatnya di cap bodoh. Alana lebih memilih menonton atau membaca novel di banding belajar, padahal cita-citanya sangatlah tinggi, ingin masuk ke Harvard universitas, menjadi pengacara sukses, tapi usahanya nol besar.
Belum ada tanda-tanda Alvi akan masuk kedalam kamar, benarkah Alvi marah padanya? semoga tidak.
***
Ternyata apa yang di takutkan Alana tidak terjadi, karena kini Alvi mengajaknya berangkat sekolah bareng. Alana bergeming di dalam mobil, rasanya sangat sulit untuk membuka pintu mobil Alvi, pasalnya parkiran sangat ramai oleh anak-anak SMA Angkasa. Jika turun dari mobil Alvi bersama dengan pemiliknya sudah di pastikan Alana akan menjadi pusat perhatian. Pengemar Alvi di sekolah bukan main banyaknya, bisa-bisa Alana mendapat semprot.
"Kenapa?" tanya Alvi.
"Nggak papa a, malu aja."
"Kenapa harus malu?"
"Dahlah a, udah sana nanti saya nyusul."
"Jam saya jam pertama di kelas kamu, jangan sampai bolos." peringatan Alvi sebelum keluar dari mobil sport biru tersebut, meninggalkan Alana seorang diri di dalam sana.
Alana mendudukan diri meja paling belakang, meja yang sangat cocok untuk menghindari para guru jika ingin bermalas-malasan. Gila lehanya tidak ada obat, lain kali Alana tidak akan berangkat bareng Alvi lagi titik tidak pake koma. Baru pagi-pagi seperti ini dia sudah keluar keringat hanya karena menghindari fans-fans fanatik Alvi melihatnya turun dari mobil.
"Tumben masuk." sindir Alana kala seorang cowok duduk di sampingnya.
"Kengen seseorang." bisik Azka di telinganya.
"Sayangnya orang yang lo kangenin nggak masuk, gimana tuh."
"Salsa..."
Belum juga Azka selesai bicara, guru kimia yang terkenal tegas dan tak ingin buang-buang waktu sudah masuk. Azka hanya melirik sekilas kemudian kembali menatap Alana.
"Salsa kemana?" bisik Azka.
"Nggak tau." acuh Alana.
Baru saja Azka akan mengelus puncak kepala Alana, suara bariton dari depan mengelegar.
"Banyak bangku kosong, jangan duduk dengan lawan jenis." tegas Alvi dengan tatapan datar menyoroti seorang manusia berbeda jenis di meja belakang.
"Suami lo posesif gila." ledek Azka kemudian bangkit dari duduknya, lalu melewati Alvi begitu saja keluar dari kelas XII Ipa 3 tanpa permisi.
__ADS_1
...TBC...