
Sesuai perintah Alvi, Alana duduk anteng di sofa memandangi layar laptop di atas meja. Jantungnya berpacu sangat hebat mananti detik-detik pengumuman di situ web online Harvard Universitas.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat pengumuman telah keluar, tangannya perlahan-lahan mengerakkan kursor mencari namanya di antara ratusan nama lainnya.
Mata Alana berbinar sempurna melihat namanya ada di deretan para peserta lulus lainnya. Sontak ia berdiri lalu bergoyang seperti orang kesurupan tanpa memedulikan asisten rumah tangganya. Dirinya sangat bahagia, akhirnya satu langkah lebih maju dirinya menuju cita-cita yang sangat ia impikan.
"Yey...ye...aku lulus." nyayi Alana seperti orang gila.
Melihat bi Neneng tengah menatapnya, ia berlari dan langsung memeluk wanita paruh baya itu. "Bibi saya lulus!" teriaknya histeris menguncang tubuh bi Neneng yang tidak tahu apa-apa tapi tetap mengucapkan selamat pada Alana.
Tak ingin bahagia seorang diri, Alana mengabari semua orang tersayangnya tak terkecuali Orang tuanya juga Alvi yang masih di sekolah. Tetapi respon mereka membuat Alana bersedih seketika, sangat di luar dugaan, hanya mengucapkan selamat, bahkan saat Alana mengajak untuk merayakan kelulusan, mereka menolak dengan alasan sibuk dengan perkejaan masing-masing.
"Aa aku lulus," ujar Alana penuh semangat.
"Selamat sayang," jawab Alvi di seberang telfon seperti tak bersemangat.
"Itu aja A?" Kecewa Alana.
"Iya, memangnya kamu mau Aa ngomong apa?"
__ADS_1
"Pulang." rengek Alana. "Aku mau rayain kelulusan aku sama Aa."
"Aa lagi sibuk ngurus proposal Alana, besok aja ya." Bujuk Alvi.
"Oh gitu ya, semangat kerjanya A," ujar Alana dengan nada kecewa.
Alvi memandagi layar ponselnya di mana Alana baru saja memutuskan sambungan telfon. Ia meletakkan benda pipih itu tepat di samping laptopnya.
"Istri lo?" tanya Tania.
"Hm."
"Lo banyak berubah ya, makin hangat."
"Gue bisa kerjain sendiri lebih baik lo pulang," usir Alvi merasa risih akan kelakuan Tania yang terus menempel padanya.
"Kita satu Tim, gue nggak enak kalau cuma lo yang kerjain."
Alvi mengeser laptop di hadapannya kehadapan Tania, melirik arloji di pergelangan tangannya. Sebentar lagi maghrib ia harus pulang jika tidak ingin Alana benar-benar marah.
__ADS_1
"Kalau gitu lo aja, gue ada janji makan malam." Berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Tania.
Tania senyum sinis menatap kepergian Alvi, ia berjanji pada diri sendiri akan mencari tahu siapa istri dari Alvi sebenarnya, siapa yang berani merebut cinta pertamanya. Baginya Dirga tak dapat di andalan lagi, laki-laki itu tak pernah mau memberitahunya siapa istri Alvi, bahkan alamat rumah Alvi saja Dirga enggang memberikannya.
"Sudahlah nyerah aja, Alvi nggak bakal tergoda sama lo."
Tania memutar bola mata jengah mendengar suara tak asing itu, siapa lagi jika bukan si manusia menyebalkan yang selalu mengejar-ejarnya.
"Alvi dan istrinya sudah hidup bahagia dan tentu saja saling mencintai. Gue pernah coba misahin tapi hasilnya." Dirga menjeda, mengangkat kedua tangannya lalu mengedikkan bahu. "Nol besar. Rugi dan buang-buang waktu."
"Nggak ada yang nggak mungkin dalam kamu gue asa lo tau Ga." Seringai licik tercetak jelas di bibir Tania. Perempuan itu mengeluarkan sifat aslinya karena di ruang guru itu tak ada lagi orang selain dirinya dan Dirga.
"Terserah lo mau berjuang bagaimana untuk dapetin Alvi, tapi satu hal, jangan pernah sentuh atau melukai istrinya, atau lo berurusan sama gue."
Usai mengatakan itu, Dirga meninggalkan Tania seorang diri. Ia memang mencintai Alana, tapi bukan berarti ia egois mengorbangkan kebahagian gadis itu hanya untuk memenuhi keinginannya semata.
...TBC...
Jangan lupa like, komen, dan Vote.
__ADS_1
Mampir juga di novel kakak Aku