Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 81


__ADS_3

Udara subuh sangat dingin, namun Alana tetap memaksakan diri untuk mandi akibat ulah Alvi semalaman. Gadis itu terus mengusap hidungnya hingga memerah, geli sekaligus gatal.


"Hatccchii....!" Alana terus berjalan ke arah Alvi setelah keluar dari kamar mandi, mengigil kedinginan walau mandi menggunakan air hangat.


Dengan sigap Alvi meraih tubuh Alana, membungkusnya dengan selimut tebal lalu memeluknya seerat mungkin.


"Hatchiii...!" kembali mengusap hidungnya yang gatal.


"Udah di bilangin nggak usah mandi." omel Alvi.


"Idih di bilingin nggik isih mindi." ledek Alana kesal pada Alvi. Jelas-jelas yang membuatnya mandi subuh-subuh buta seperti ini adalah dirinya.


Bukanya marah, Alvi malah tersenyum, mau bagaimana pun Alana tetap mengemaskan di matanya. Ia mengusap hidung memerah Alana dengan ibu jarinya.


"Masih dingin?"


Alana mengangguk dalam pelukan Alvi.


"Makanya kalau Aa ngomong itu di dengerin." mode cerewet Alvi mulai On ketika kesehatan Alana mulai terganggu. "Semalam udah di bilangin nggak usah keluar, di luar dingin, pakai ngeyel pengen keluar, mana ngemilnya eskrim lagi. lihat! Fllu kan? siapa ya susah? kamu sendiri." Alvi terus mengomeli Alana dengan caranya.


"Kok aku yang salah? Aa aja tuh kurang tegas larang aku." sungut Alana tak ingin di salahkan.


"Hm." pasrah Alvi.


"Nggak terima aku salahin?" Alis Alana terangkat.


"Nggak," sahut Alvi melepas pelukannya pada Alana, lelaki itu berjalan menuju meja rias gadisnya, membuka laci untuk mengambil sesuatu.


Kini ia berdiri tepat di hadapan Alana, melepas belutan handuk yang membungkus rambut basah sang istri. Mulai mengeringkan rambut gadis itu agar segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Usai sholat, seperti biasa Alana akan mencium tangannya, dan ia akan mengecup kening gadisnya sedikit lama. Hari ini keduanya memutuskan mengaji bersama.


"Hatchiii!!!"


Alvi tersenyum, mengusap hidung Alana lalu mengecupnya. "Jangan di paksain, kita lanjut magrib nanti." menutup Al-qur an di hadapanya, walau mereka mengaji baru beberapa lembar.


Alana ikut membereskan peralatan mengaji mereka, juga melipat bekas sajah Alvi. Jujur saja pagi ini ia sedikit oleng kerena suhu tubuh lumayan hangat.


Benar yang di katakan Alvi, imun tubuhnya sangat lemah, hanya terkenal angin malam sedikit saja sudah membuatnya Fllu. Ia meringis kesakitan ketika perutnya terasa melilit, dan juga perih.


"Aa." lirih Alana.


Alvi yang sibuk memeriksa beberapa pekerjaanya menoleh, dan mendapati istrinya meringis dengan keringat di pelipis gadis itu, padahal cuaca masih sangat dingin. Dengan sigap ia menghampiri Alana. memeriksa suhu tubuh gadis itu.


"Perut aku sakit lagi." mengcekram erat lengan Alvi.


Tanpa banyak bicara Alvi mengendong Alana ke atas ranjang, meraih ponsel nya di atas nakas. Sebelah tangannya mengelus perut Alana, sebelah lagi sibuk mencari kontak seseorang.


"Kerumah gue sakarang!" titah Alvi setelah sambungan telfon terhubung.


"...."

__ADS_1


"Lo mau bunuh istri gue bego?"


"...."


Alvi kembali meletakkan ponselnya, setelah Angga menuruti perintahnya.


Di situasi seperti ini ia sering ke bingungan sendiri, karena dirinya panik.


"Masih sakit?"


Alana mengangguk, terus menekan perutnya, meringis kesakitan walau tak mengeluarkan suara, ia sudah sering seperti ini tanpa sepengetahuan Alvi. Sebentar lagi juga sembuh sendiri, itu adalah kata menyebalkan yang selalu keluar dari mulutnya.


"Aku nggak papa Aa."


"Nggak usah sok kuat."


Alana memang mengatakan tidak apa-apa namun cengraman gadis itu pada lengan Alvi sangat kuat, nenandakan dirinya tengah menahan sakit yang luar biasa, belum lagi kepalanya mulai terasa berat.


Cengraman Alana sedikit demi sedikit mengendur, suara rintihan juga mulai tak terdengar, karena penasaran Alvi melerai pelukannya, ia terkejut melihat gadisnya sudah tak sadarkan diri.


***


"Gimana?"


"Alana sudah sering seperti ini?" bukannya menjawab Angga malah melempar pertanyaan.


"Nggak!" sangah Alvi di sertai gelengan kepala.


Usai kepergian Angga, kini Alvi menatap penuh selidik pada gadis yang masih terbaring di tempat tidur. Apa ia harus marah atau kasihan melihat gadisnya sekarang? obat yang susah payah ia dapat untuk kesuburan gadisnya tak ada satupun yang di minum, bahkan obat maag gadis itu tak berkurang sama sekali.


Alvi menghela nafas panjang, menutup mata sejenak, ia kembali meletakkan dua botol obat di atas nakas, lalu menghampiri Alana, duduk di pinggir ranjang, mengusap pipi gadisnya.


"Aa harus gimana lagi biar kamu nurut Al? Aa nggak mau kamu sakit kayak gini."


Alana mengeliat , perlahan-lahan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Alvi yang kini tersenyum manis padanya. Gadis itu membalas senyuman Alvi, menyandarkan kepalanya pada kepala dipan dengan bantuan Alvi.


"Minum dulu!" Alvi menyerahkan segelas air pada Alana. "Masih pusing?"


"Dikit." kembali mengosok hidungnya.


"Jangan di gosok terus sayang."


"Cie...cie...takut banget istrinya lecet." mencolek dagu Alvi.


"Kenapa bisa kambuh?"


"Mana...mana...aku tahu Aa." gugup Alana tak ingin Alvi tahu belakangan ini ia sering melanggar semua larangan Alvi karena di diamkan beberapa hari.


"Kata dokter Angga kamu sering telat makan? makan pedas-pedas."


Alana menelan salivanya kasar, ternyata Alvi udah tahu itu, ia semakin gugup saat melihat botol obat di atas nakas.

__ADS_1


"Kamu juga nggak minum obat yang Aa berikan." omel Alvi.


"Aku lupa Aa." Alasan Alana. "Lagian kaki aku sudah sembuh, ngapain minum obat itu lagi?" menunjuk botol obat tanpa merek di samping obat maagh nya. "Pait banget, mana pilnya besar banget."


Kini Alvi yang terdiam.


"Sebenranya itu obat apa sih A? kok nggak ada mereknya?"


"Jangan telat makan lagi Al, kalau bisa sarapan lebih pagi lagi." Alvi mengahlikan.


"Gimana nggak telat makan, orang yang sering ngigetin akhir-akhir ini sibuk banget, sampai lupa sama orang rumah." sindir Alana.


"Baiklah, Aa yang salah. Sekarang waktunya makan dan minum obat?"


Alana mengulum senyum, kenapa suaminya tak pernah marah? bahkan selalu mengalah jika bersamanya, padahal di luar sana Alvi sangat tegas.


"Obatnya kenapa di buang Aa?" tanya Alana ketika 2 botol di atas nakas Alvi lempar ke tempat sampah.


"Obat itu harusnya habis kemarin."


"Ya maaf, aku kan lupa."


"Ngapain minta maaf, Hm." Mengacak acak rambut Alana.


Alvi menyuapi Alana bubur dengan telaten. Namun seperti biasa, Alana akan makan sedikit saja. Gadis itu tak pernah suka dengan namanya bubur, apa lagi melihat teksturnya seperti, ah sudahlah, bagi gadis itu tekstur bubur sangat menjijikkan.


"Dikit lagi Al."


"Yang lain aja deh Aa, nasi goreng gitu."


"Nanti ya, sekarang makan bubur dulu, perut kamu masih sensitif pagi-pagi."


"Suapin pakai mulut Aa." seringai Alana. "Gimana mau nggak?" gadis itu senyum penuh kemenangan. Alvi juga tidak suka dengan bubur tapi sok-sok an memaksanya makan bubur.


"Nggak mau kan?" Alana tertawa melihat ekspresi Alvi yang tiba-tiba berubah.


"Apasih yang nggak buat kamu," Dengan terpaksa Alvi memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya dan besiap menyalurkannya pada mulut Alana.


"Ais Aa jorok banget." mendorong dada Alvi agar tidak mendekat padanya, ia menunduk memeluk pinggang lelaki itu agar Alvi tidak menuruti tantangan gilanya.


"Katanya tadi mau." kini Alvi menyeringai setelah memuntahkan bubur itu ke tisu dan membuangnya ke tempat sampah. Sementara Alana masih bersembunyi di tubuhnya.


"Jangan ngadi-ngadi Aa."


...TBC...


Dedek gemes nggak pernah bosa ngigetin kalian, jangan lupa vote, komen, dan like nya okey😉.


Mampir juga di novel kakak online aku nih sambil nunggu Aa.


__ADS_1


__ADS_2