Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 153


__ADS_3

Selain ingin membagikan kabar bahagia, ada perasaan lain yang seakan mendorong Alana agar segera ke Bandung. Perasaan yang mulai kalut mambuat Alana menancap gas di jalan tol. Ia melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata.


"Pelan-pelan Al, lo nyari mati!" perintah Salsa tetapi di haraukan oleh Alana.


"Duduk dan nikmati saja, bawel banget sih lo," gerutu Alana tak sedikitpun menurukan kecepatan mobilnya.


"Goblok!" maki Salsa saat Alana menyalip mobil dengan kecepatan tinggi, dan hampir saja menabrak mobil di depannya.


"Gue yang bawa mobil!"


"Nggak ada," tolak Alana.


Setelah olah raga jantung akhirnya mereka sampai di Bandung jam 8 lewat beberapa menit, karena sudah tahu di mana tempat Alvi menginap, Alana langsung saja melajukan mobilnya ke hotel sang ayah.


Dan disinilah kedua gadis remaja itu berdiri, di depan meja resepsionis. Hampir setengah jam ia memohon agar resepsionis memberi tahu di mana kamar Alvi berada.


Di saat Alana sedang berusaha membujuk resepsionis. Lain halnya dengan Tania yang kini mulia beraksi menjalankan rencananya. Sekarang ia benar-benar melupakan harga diri demi mendapatkan orang yang sangat ia cintai.


Melihat seorang pelayan akan mengantar makan malam ke kamar Alvi, Tania menghentikan pelayan itu. Membujuk sang pelayan agar mau bekerja sama dengan iming-iming sejumlah uang yang sangat mengiurkan.


Apalah daya, sang pelayan hanya manusia biasa dan sekarang sangat membutuhkan uang demi kesembuhan sang ibu. Pelayan itu menyetujui permintaan Tania. Membiarkan wanita rubah itu menuangkan obat kedalam jus yang di bawa sang pelayan.


"Bagaimana jika menantu Tuan Kevin tau Nona? saya takut jika di pecat," ujar sang pelayan.

__ADS_1


Seluruh staf di hotel itu mengetahui siapa Alvi yang sebenarnya. Laki-laki beruntung yang berhasil menikahi anak tunggal kaya raya. Tuan Kevin sendiri yang memberi pengumuman bahwa Alvi adalah menantunya, dan menyuruh semua pelayan agar melayani sang menantu dengan baik selama di Bandung.


"Tidak akan ada yang tahu, kau tenang saja,"


Pelayan itu menggangguk patuh, kembali mendorong troli makanan ke kamar Alvi.


Di sisi lain, Alana masih berusaha membujuk resepsionis. Berkali-kali Alana menghubungi Alvi tetapi ponsel laki-laki itu belum aktif. Entah di mana Alvi dan apa yang di lakukannya hingga sampai saat ini ponselnya belum aktif.


"Plislah mbak, dia suami saya bukan orang lain," mohon Alana, bahkan Salsa ikut membantu.


"Maaf Nona, demi menjaga privasi tamu kami. Kami tidak bisa memberikan info begitu saja apa lagi orang yang ingin anda temui adalah menantu Tuan Kevin," jawab mbak-mbak resepsionis.


"Saya Alana, anak Tuan Kevin, Istri Tuan Alvi." Alana bersih keras, bahkan gadis itu memperlihatkan KTP juga kartu namanya.


Perasaan Alana semakin tidak tenang, terpaksa ia harus menggunakan kekuasaan agar bisa menemui Alvi secepat mungkin. Alana sangat takut suaminya kenapa-kenapa, tubuh Alvi sedikit hangat pagi tadi.


"Mana manajernya, saya ingin bicara," raut wajah Alana berubah datar.


"Nona, manajer kami sangat sibuk dan tidak ada waktu melayani gadis seperti Anda."


Brak


Hilang sudah kesabaran Alana, ia mengembrak meja resepsionis, perasaannya tidak enak, dan resepsionis di hadapannya mulai menyebalkan.

__ADS_1


"Panggil manajer hotel ini sekarang, atau saya pecat kalian semua!" ujar Alana penuh penekanan.


Kini semua mata tertuju pada Alana, karena suara gadis itu lumayan besar.


Mbak-mabak resepsionis mendengus kesal, menghubungi sang manajer agar segera ke meja resepsionis. Mbak itu mengadukan perilaku Alana yang tidak sopan.


"Telfon Tuan Kevin sekarang, saya ingin bicara!" perintah Alana pada manjer hotel di hadapannya.


Sang menajer mematuhi walau tidak yakin gadis di hadapannya adalah putri tunggal tuan Kevin. Pakaian yang di kenakan Alana sangat sederhana tidak seperti anak-anak orang kaya lainnya, yang berpenampilan mewah dan glamor.


"Maaf Tuan, mangganggu waktunya sebentar, ada seorang gadis yang ingin bicara dengan Anda," ujar pak Manajer setelah sambungan telfon terhubung. ia menyerahkan benda pipih itu pada Alana.


"Ayah," panggil Alana.


Mbak-mbak resepsionis juga Manajer hotel menelan salivanya dengan susah mendengar panggilan Alana.


Alana mengembalikan ponsel itu setelah berbicara pada Ayah Kevin agar memerintahkan mbak-mbak menyebalkan di hadapannya memberi tahu di mana letak kamar Alvi.


"Maaf Nona," ujar Mbak resepsionis dan pak Manajer secara bersamaan.


"Nggak papa, itu sudah tugas kalian," jawab Alana sebelum pergi untuk menemui Alvi.


***

__ADS_1


Jangan lupa budayakan komen, like, dan Vote.


__ADS_2