Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 38


__ADS_3

"Aa marah?"


Pertanyaan yang entah kesekian kalinya keluar dari mulut Alana hanya karena Alvi mendiamkannya.


"Saya tidak marah." Alvi mengantung kalimatnya. "Saya baru menyadari beberapa hal kemarin, tidak seharusnya kita terlalu akrab di sekolah." Jelas Alvi.


"Kenapa?"


"Itu bisa membawa pengaruh negatif buat kamu. Mulai hari ini kamu berangkat sekolah sama sopir, tidak terlalu akrab dengan saya di sekolah." Alvi kembali mengeluarkan peraturan-peraturan yang tidak di sukai Alana.


"Ok." Ujar Alana bangkit dari duduknya tanpa menyentuh sarapannya sedikitpun.


Katakanlah Ia egois, tidak ingin mengerti apapun. Tapi bukan ini yang ia inginkan. Alana ingin di akui sebagai istri, tidak masalah baginya jika seluruh sekolah tahu itu.


Alvi menghela nafas panjang, ia harus menampung stuk sabar sebanyak-banyaknya untuk menghadapi mood remaja seperti Alana. Ia tidak boleh terbawa suasana jika ingin semua berjalan lancar.


"Minum dulu susunya!"


"Itu untuk pak Alvi!" Alana menunjuk segelas susu di meja makan. Ya hanya segelas susu karena ia kehabisan stok dan lupa membelinya.


Baiklah, sekarang Alvi mengerti bahwa Alana kini marah padanya, terbukti dengan panggilan yang tiba-tiba berubah padahal mereka hanya berdua saja. Alvi sudah nyaman dengan panggilan Alana dan ia menyukai jika Alana memanggilnya dengan sebutan Aa. Dan sekarang ada rasa entahlah kala Alana kembali memanggilnya pak.


Di ambilnya segelas susu di atas meja kemudian meneguknya hingga setengah, lalu Alvi menyerahkan gelas tersebut pada Alana. "Minum, setidaknya untuk pengganjal perut." Perintah Alvi.


Mood remaja seperti Alana memang sangat labil, terbukti sekarang rasa kesalnya menguap, sudut bibirnya terangkat kala mendapat perhatian kecil dari Alvi. Ia mengambil segelas susu tersebut lalu meneguknya hingga tandas.


"Saya berangkat pak." Namun tetap saja ia masih enggan memaggil Alvi dengan sebutan Aa.


***


Free class, adalah surga bagi siswa-siswi yang mengantuk dan malas belajar, seperti Alana sekarang. Mendengar kelas mereka Free ia menerbitkan senyumnya berjalan keluar dari kelas yang membosankan itu. Kali ini tujuannya bukan kantin, akan tetapi perpustakaan.


Berjalan sendirian di koridor sekolah tak membuatnya kesepian, karena memang ia sudah terbiasa sendiri. Sendiri lebih menyenangkan dari pada punya teman banyak tapi bermuka dua, pikir Alana. Baik di depan kita tapi ngomongin di belakangan, kan bang*sat.

__ADS_1


Salsa. Gadis berambut sabahu itu, teman perempuan satu-satunya di SMA Angkasa maupun di luar sekolah, tidak barsamanya karena sibuk ngebucin dengan Azka ketua Avegas. Selama mereka baikan, hidup Salsa selalu di kelilingi Akla si bucin gila.


Alana mendudukkan dirinya di salah satu kursi di dalam perpustakaan. Tujuannya datang ke perpustakaan bunkanlah belajar, tapi mengintip kegiatan Alvi, yang kebetulan menggunakan perpustakaan sebagai kelas XII Ipa 2.


Buku adalah salah satu pengalihan yang tepat jika ingin memperhatikan seseorang dari jauh, dan sekarang itulah yang di lakukan Alana. Berpura-pura membaca buku sekali-kali memperhatikan Alvi menjelaskan teori di depan siswa-siswinya. Yang membuat Alana waspada adalah, di kelas XII Ipa 2 terlalu banyak cabe-caben, secara kelas tersebut di huni oleh Bela dan antek-anteknya.


"Serius amat belajarnya neng." Tegur seorang cowok yang terkenal dengan playboy kelas kakapnya yaitu 2R.


Alana mendengus, tubuh kekar kedua cowok tersebut menghalangi objeknya.


"Minggir nggak lo." Lirih Alana, tak ingin suaranya kedengaran oleh Alvi.


"Liatin apa sih Al?" Kepo Ricky hendak menoleh ke belakang namun dengan cepat Alana mencegahnya. Bisa-bisa ia di ledek habis-habisan jika ketahuan ngintilin Alvi ke mana-mana.


"Lo berdua ngapain di perpus?" Selidik Alana, karena kedua cowok di depannya sebelas dua belas dengannya paling malas memasuki ruangan yang bernama perpustakaan.


"Belajar."


Sahut keduanya berbarengan.


"An jim banget." Tawa Alana pecah merasa tidak percaya dengan jawaban kedua anggota inti Avegas.


"Kalian berdua kok genteng banget ya hari ini." puji Alana menangkup kedua pipinya, sembari mengejap-erjapkan matanya "Jadi pengen foto."


Sontak Ricky dan Rayhan mengambil gaya Cool, jarang-jarang Alana memuji mereka, biasanya juga kata-kata menyakitkan keluar dari mulut gadis berambut indah tersebut.


"Geser dikit...geser dikit." intruksi Alana membuat kedua mahkluk astral tersebut merapat pada jendela di sudut ruangan.


"Nah kan pas." Seringai licik Alana.


Setelah mengambil gambar yang pas, Alana terkikik geli sembari meng Zoom lalu mengecilkannya lagi, itu ia lakukan berulang kali. Bukan foto Rahyan dan Ricky yang ia ambil, melainkan Foto Alvi yang sedang menjelaskan materi. Mereka berdua hanya menjadi pengalihan Alana agar bergeser dari hadapannya.


***

__ADS_1


Gadis berambut indah tersebut mengembungkan pipinya berkali-kali, ketika melihat pesan yang di kirimkan Alvi padanya.


My Husband : Saya ada perkerjaan mendadak di kantor, jangan tunggu, saya pulang larut.


My Husband : jangan lupa makan malam, terus tidur!


Kebiasaan yang tak pernah hilang dari gadis berambut indah tersebut, yaitu meng Read pesan kemudian membalasnya dalam hati. Hingga membuatnya di cap Sombong, padahal ia hanya lupa bahwa hanya membalas pesan dalam hati saja.


***


Hari rabu, hari paling aneh bagi Gadis berambut indah tersebut, mulai dari parkiran hingga koridor menuju kelasnya. Teman-teman sekolahnya menatapnya dengan tatapan berbeda-beda, Jijik, kasihan, itulah yang bisa ia tangkap dari tatapan yang tertuju padanya.


Salsa, gadis itu berlari ke arah Alana kala melihat gadis berambut indah tersebut hampir sampai di mading sekolah.


"Al, bolos yuk!" Ajak Salsa tiba-tiba.


Alana mengernyit, tidak biasanya Salsa mengajaknya bolos, malahan gadis berambut sebahu tersebut yang selalu menasehatinya jika ingin bolos sekolah dan sekarang Salsa mengajaknya? ada yang tidak beres, pikir Alana.


Alana menepis tangan Salsa dari lengannya. "Apaan sih Sal." Ujarnya sembari terus berjalan walau tatapan teman-teman yang mereka lewati semakin menyudutkan dirinya. Hanya menatap tak berani menegur karena mereka tahu siapa Alana.


Ia semakin penasaran, apa yang berusaha di sembunyikan Salsa darinya. Di tengah lapangan beberapa Anggota Avegas mengumpulkan lembaran berwarna putih yang entah apa tulisannya. Di ujung koridor dan beberapa tempat lainnya, Anggota inti Avegas melakukan hal yang sama.


Ada yang tidak beres


Itulah yang dapat Alana tangkap dari gelagat para sahabatnya. Perasaannya mulai tidak enak, ia semakin melebarkan langkahnya, menghiraukan teriakan Salsa yang berusaha mencegahnya mendekati mading.


"Al lewat koperasi bentar yuk, gue lupa bawa dasi." alasan Salsa berusaha mengulur waktu hingga Angota Avegas berhasil menyingkirkan semua lembaran laknat yang entah siapa penyebarnya.


Sudut bibir Alana terangkat sebelah, menarik dasi yang mengantung di leher Salsa. Sahabatnya yang satu ini memang tidak pandai berbohong apa lagi sedang panik seperti sekarang.


"Lo nggak pandai bohong!" tekan Alana kemudian berlari hingga ia sampai di depan mading tanpa terhalang apapun.


Alana merasa dunianya sekarang benar-benar runtuh melihat lembaran demi lembaran yang tertempel rapi di mading berlapis kaca tebal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2