
Mendengar kabar sadarnya kakek Farhan setelah tidur selama beberapa hari membuat Alana sangat bahagia, Ia mengajak Alvi untuk menemui kakek Farhan sekaligus pamit besok pagi.
Gadis itu duduk di samping brangkar, sementara Alvi duduk di sofa, ya laki-laki itu tak pernah duduk berlama-lama di samping kakek Farhan, paling hanya berdiri kurang lebih lima menit, setelah itu pergi. Bukan karena tak suka, hanya saja melihat keadaan kakek Farhan membuatnya bersedih.
"Akhirnya kakek sadar juga," ujar Alana mengenggam tangan kakek Farhan. "Aku kangen sama kakek," lanjutnya.
Semua alat medis di tubuh kakek Farhan sudah di lepas.
"Alana mau pamit sama kakek, besok Alana udah berangkat ke Boston. Kakek jaga kesehatan ya dan nurut sama Aa," ujar Alana.
"Alvi nggak ikut?" tanya Kakek Farhan.
"Nggak Kek. Aa bakal nemenin Kakek berobat ke London."
"Kakek nggak mau, biarkan kakek di sini saja, kakek nggak mau meninggal di negara orang." Kakek Farhan melepas gengaman tangan Alana. "Biarlah Alvi ikut dengan kamu nak."
"Kalau gitu Alana juga nggak mau pergi, Alana bakal disini jagain kakek," tegas Alana. "Buat apa Alana pergi kalau pikiran Alana di sini. Alana nggak bakal tenang di sana kalau kakek nggak berobat."
Alvi memijit pangal hidungnya, mulai frustasi mendengar perdebatan kedua manusia berbeda generasi yang sama-sama keras kepala. Ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Alana, menepuk pundak sang istri.
__ADS_1
"Nggak udah khawatir Al. Kakek akan pergi bagaimanapun caranya," ujar Alvi menatap kakek Farhan lalu mengkode agar Pria tua itu mengalah. "Sekarang kita pulang, udah tengah malam, besok kamu harus bangun pagi," ajak Alvi.
***
Hari yang tak pernah Alana inginkan akhirnya tiba, gadis itu sedari tadi cemberut menunggu sang suami selesai memasukkan kopernya ke bagasi mobil. Perhatiannya teralihkan pada pagar utama ketika seseorang gadis berlari mendekat sembari memanggil namanya.
Senyum Alana mengembang, dan langsung berdiri agar memudahkan Salsa memeluknya.
"Maaf gue nggak bisa nganter lo sampai bandara," ujar Salsa masih memeluk sahabatnya. "Jangan lupain gue kalau lo punya teman baru."
"Gue nggak janji ya," jawab Alana melepas pelukan Salsa.
"Dih, jahat banget."
"Alana, udah jam delapan sayang." peringatan Ayah Kevin.
"Dah Salsa, gue nggak bakal lupain lo, tenang aja."
"Harus," sahut Salsa.
__ADS_1
Sejak meninggalkan rumah, Alana terus mengenggam tangan sang suami, rasanya tak rela melepaskan tangan kekar itu. Bahkan ia menyuruh Ayah Kevin menyetir agar Alvi hanya fokus padanya saja.
Alana dan orang tuanya akan berangkat menggunakan pesawat umum layaknya penumpang lain, karena jet pribadi ayah Kevin akan di pakai Alvi ke London bersama Kakek Farhan dan dokter Angga.
Sepanjang memasuki bandara, Alana tak sekalipun melepaskan pelukannya di lengan Alvi, bahkan matanya mulai berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya tak ingin berpisah dengan sang suami.
"Jangan nangis sayang," ujar Alvi menghapus air mata di pipi gadisnya. Ia mengecup kening Alana begitu lama, rasanya tak rela melepaskan kepergian sang istri. "Hati-hati ya, kabarin Aa setelah sampai," lanjutnya menahan nafas agar tak ikut menangis mendengar isakan Alana.
"Ayo sayang!" panggil bunda Anin saat keberangkatan di umumkan untuk kedua kalinya.
"Aa janji bakal datang tiap minggu kan? nggak bohong?" mendongak menatap mata Alvi yang mulai memerah.
"Aa janji."
Dengan berat hati Alana melepaskan pelukannya, berjalan menjauhi Alvi, melambaikan tangan mungilnya walau terasa berat. Baru beberapa meter, gadis itu berbalik lalu berlari menghampiri Alvi kembali, memeluk tubuh kekar itu sekali lagi.
Kelakuan Alana berhasil mengundang perhatian beberapa pasang mata, ada yang merasa haru, iri dan sedih, melihat pemandangan itu. Apa lagi saat Alana menangis saat Bunda Anin menarik nya menjauh dari Alvi, karena pesawat yang mereka akan tumpangi akan lepas landas sebentar lagi.
Sesekali Alana menoleh kebelakang melihat Alvi yang masih berdiri di sana sembari tersenyum kearahnya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa like, komen, dan Vote.