
Arag masih menangis dalam gendongan Alvi hingga sosok yang selalu membelanya datang.
"Ayah Opa, bunda Oma!" Arga meretangkan tangannya saat ayah dan bunda Alana memasuki rumah.
Bunda Anin mengernyit melihat cucu kesayangannya menangis dalam gendongan Alvi, dengan sigap wanita paruh baya itu mengambil alih mengendong Arga.
"Alvi, Arga kenapa. Nak?"
Yang ditanya hanya mengaruk tengkuknya tak tahu harus menjawab apa.
"Mana Alana? jangan bilang dia belum bangun padaha udah jam sembilan," ujar bunda Anin mencari keberadaan sang anak. Bunda Anin tak suka jika Alana bangun siang atau bermalas-malasan padahal sedang hamil.
"Mommy sakit Oma, badannya melah-melah digigit namuk laksasa," jawab Arga dengan polosnya.
"Alana sakit?"
"Nggak Ayah, Arga cuma salah paham, itu ...." gugup Alvi tak tahu harus menjawab apa, telinganya mulia memerah.
Ayah Kevin mengulum senyum, sekarang ia mengerti perkataan Arga barusan.
"Ini belum seberapa Alvi, kedua anakmu juga belum lahir." Peringatan Ayah Kevin.
__ADS_1
Karena menunggu Alana terlalu lama, Alvi kembali menemui sang istri di kamar, lalu berjalan beriringan menemui bunda dan ayahnya di ruang tamu. Sedikit menunduk mencium kedua tangan orang tuanya.
Awalnya Alana tidak setuju saat bunda Anin meminta Arga untuk membawanya keluar kota beberapa hari, tetapi dengan bujukan Ayah Kevin juga Alvi akhirnya ia mengalah dan merelakan putranya pergi.
Sepeninggalan Arga dan orang tuanya, rumah terasa sepi tak ada lagi kejahilan anak itu. Sedari tadi Alana hanya berdiam diri di dalam kamar. Alvi menghampiri Alana.
"Ayo kita jalan-jalan sekalian belanja keperluan kamu. Baju kamu banyak yang kecil, kita belanja baju ibu hamil." Ajak Alvi demi menghilangkan kesedihan Alana yang baru pertama kali berpisah dengan Arga.
"Sepuasnya?" tanya Alana. "Setelahnya kita pergi ke kebun binatang, mau?"
Alvi menyetujui semua permintaan sang istri. Kali ini ia tak memanggil Hendri untuk mengantar mereka kemanapun karena tidak ada Arga. Sampai di pusat perbelanjaan, Alana seperti orang kelaparan berburu barang, keluar masuk di toko satu ke toko lainnya.
"Sayang, belanja untuk cebong nanti aja, sekarang belanja untuk keperluan kamu dulu." Menarik Alana ke area pakaian ibu hamil. Membantu bumil kesayangannya memilih pakaian.
Pilihan Alvi terjatuh pada berbagai daster simpel karena istrinya belakangan ini sering kegerahan. Juga dress untuk berpergian agar perut istrinya tidak terlalu tertekan.
Karyawan yang mengikuti mereka sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat pertengkaran-pertengkaran kecil pasutri itu perihal memilih barang.
Walau belanjaan di tangan Alvi sudah banyak, Alana masih belum puas, kini ia memasuki sebuah tokok pakaian khusus pengantin baru katanya. Pilihannya tertuju pada deretan lingerie di bagian kiri ruangan.
Alana mengambil dua model yang berbeda lalu memperlihatkan pada Alvi. "Menurut Aa lebih bagus yang mana?"
__ADS_1
Membayangkan Alana memakai itu saja sudah membuatnya panas dingin apa lagi jika bumil kesayangannya memakai itu, akan ia pastikan istrinya tidak akan lolos.
"Apapun yang kamu pakai tetap cantik sayang," bisik Alvi setelahnya mengambil beberapa lingerie lalu menyerahkannya pada karyawan.
"Itu kebanyakan Aa," protes Alana.
Usai belanja gila-gilaan, mereka makan siang sebentar di salah satu restoran. Alvi langsung memesan tiga porsi karena tahu nafsu makan istrinya bertambah walau kadang-kadang hilang dan membuatnya kesal.
Seperti dugaannya, Alana menghabiskan hampir dua porsi makanan itu sakin lahapnya. Ia mengusap suduh bibir sang istri.
"Pelan-pelan makanya sayang, jangan buru-buru gitu Aa nggak bakal ninggalin."
"Enak banget, nambah lagi boleh?"
"Tantu."
Usai makan siang dan memastikan Alana tidak lelah, barulah mereka menuju kebung binatang sesuai permintaan sang istri. Katanya Alana ingin melihat saudara Jack.
...****************...
Jangan lupa like, komen dan vote. Mampir juga di cerita baru dedek "Cinta dan masa Lalu"
__ADS_1