
Jarum jam menunjukkan angka 9, namun tugas Alana belum ada yang selesai. Gadis tersebut tak henti-hentinya mengembungkan pipi lalu memanyungkan bibirnya. Mengeser kursor kesana kemari namun editannya belum juga selesai. Mana tugas Bahasa Indonesia di kumpul besok.
Ia menghela nafas kasar, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Matanya berkunang-kunang memandangi laptop di depannya.
Alvi yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri Gadis berambut indah tersebut, lalu berdiri di samping kursi Alana sembari mengosok rambut basahnya dengan handuk kecil.
"Kenapa?" tanyanya ketika melihat Alana cemberut.
"Di suruh buat konten, tapi nggak ngerti ngeditnya." cemberut Alana memandangi Alvi.
Alvi hanya menganguk mengerti meraih mouse di mana tangan Alana berada, lalu menjelajahi aplikasi pengedit video untuk membantu gadis barambut indah tersebut menyelesaikan tugasnya.
Alana mendegus kesal kala setetes air membasahi pundaknya, tentu saja air itu berasal dari rambut Alvi.
"Kebiasaan banget nggak ngeringin rambut dulu." gerutu Alana bangkit dari duduknya, lalu menyuruh Alvi duduk di tempatnya tadi.
"Ribet."
"Sini biar aku keringin rambut Aa." Alana merebut handuk kecil di tangan Alvi lalu berdiri di belakang lelaki tersebut. Mengusap lembut rambut lebat Alvi sembari memperhatikan cara mengedit lelaki itu.
"Tau nggak..."
"Nggak tahu." potong Alvi.
Kesal akan jawaban Alvi, Ia mendorong kepala lelaki tersebut kedepan. "Ngapain di potong Aa!" kesalnya. "Aa banyak berubah tau," jujur Alana, belakang ini Alvi banyak berubah jika bersamanya, dan itu membuatnya sangat kesal.
"Berubah?" bingun Alvi.
"Iya, tambah jorok!"
Bagaimana tidak, Alana mengatakan hal itu, Alvi semakin jorok di matanya, pulang kerja jas yang biasa di gantung dengan rapi kini hanya di lempar ke sofa, setelah mandi bukannya ngeringin rambut lelaki tersebut malah duduk santai, tidak memperdulikan bajunya basah atau tidak, membuat Alana selalu berinisiatif mengeringkannya.
Alvi mengulum senyum tanpa Alana sadari, bukan tanpa alasan ia melakukan semua hal tersebut. Ia ingin di perhatikan dan di layani oleh Alana namun malu jika memintanya sendiri. Rambut sengaja tidak ia keringkan agar Alana mengeringkannya seperti saat ini.
Setelah mengeringkan rambut Alvi, Alana hendak pergi namun tangannya di tarik oleh lelaki tarsebut.
"Mau kemana?"
"Ambil kursi." jawab Alana, tidak mungkinkan dirinya berdiri terus?
"Nggak usah." Alvi menarik tangan Alana sedikit kencang membuat tubuh gadis tersebut terhuyung dan jatuh di pangkuannya "Begini saja."
"Aa." pekik Alana kaget akan tindakan Alvi.
__ADS_1
Bukanya menyahut Alvi malah meletakkan dagunya di pundak Alana lalu melanjutkan editannya yang tertunda.
Alana bergerak tidak nyaman di pangkuan lekaki tersebut kala merasakan sesuatu di bawah sana mengeras.
Alvi menahan pingang Alana dengan sebelah tangannya. "Jangan bergerak kamu membuatku gugup." bisik Alvi dengan suara seraknya.
Semakin Alana bergerak sesuatu di bawah sana semakin mengeras.
Klik
Alana mengembangkan senyumnya, saat melihat Alvi menyelesaikan editannya. Walau masih di landa kegugupan Ia mencoba bersuara.
"Makasih Aa." ia berusaha bersikap biasa-bisa saja.
Tidak ada jawaban dari Alvi, hanya tangan kekar tersebut melingkar di pinggang rampingnya. Ia menelan ludahnya kala merasakan hembusan nafas hangat menyentuh ceruk lehernya, lalu kecupan mendarat di sana.
"Aa." lirih Alana menahan nafas.
"Aku menginginkan kamu malam ini."
Tubuh Alana menegang, ia bukan gadis polos yang tidak mengerti arti kalimat Alvi barusan. Hanya saja ia belum siap untuk itu.
"Alana." panggil Alvi dengan suara serak. Sebagai laki-laki normal, tinggal sekamar dalam waktu cukup lama dengan Alana tentu saja ia mengiginkannya, sudah cukup ia menyiksa dirinya sendiri menahan hasrat tersebut.
"Cinta pertama Aa siapa?" Alana mengalihkan pembicaraan.
"Saya nggak pernah jatuh cinta."
"Jadi aku yang pertama?" binar bahagia tercetak jelas di wajah Alana. "Frist kiss Aa."
"Kamu."
"Benarkah?"
"Hm." malas Alvi, ia tahu gadis di pangkuannya ini sengaja mengulur waktu. Baiklah ia akan bermain-main sebentar saja.
"Aa juga Frist kiss aku, tapi tidak dengan cinta pertama." jujur Alana.
Sontak pelukan di pinggang Alana mengendur, Alvi merasa kecewa dengan jawaban yang di lontarkan Istrinya. Siapa lelaki beruntung yang berhasil mendapatkan cinta pertama Alana? Apa gadis di depanya masih cinta dengan lelaki tersebut sebab itu ia menolak ajakannya?
"Siapa?" tanya Alvi dingin, hasratnya mengusap begitu saja.
"Dito." jujur Alana tidak ingin menyembunyikan apapun dari Alvi, ia tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara mereka berdua nanti.
__ADS_1
"Kamu suka sama dia?"
"Iya.."
Rahangnya mengeras, wajahnya memerah mendengar jawaban Alana barusan. Jadi selama ini ia mencintai perempuan yang mencintai lelaki lain? kenapa ia begitu bodoh melabuhkan hatinya secepat itu pada Alana? Akankah ia akan kecewa untuk kedua kalinya dangan mahluk bernama perempuan?
Alana mengelus rahangnya yang mengeras, mungkin takut dengan tatapan yang ia layangkan. "Tapi itu dulu A saat aku masih kelas XI, tapi tenang saja Dito hanya menganggapku adik."
Ia senyum sinis? Adik? bukan itu yang ia tangkap dari tatapan Dito di hari pernikahan mereka. Jelas pancaran mata Dito menyiratkan cinta yang sengat mendalam pada istrinya.
"Itu hanya masa lalu, sekarang aku hanya mencintai Aa." Alana mengecup bibir tebal Alvi namun tidak ada balasan dari lelaki tersebut.
Ia tahu Alvi sedang marah sekarang, tangan mungilnya menangkup kedua pipi Alvi. "Boleh aku tanya sesuatu?"
Tidak ada jawaban hanya tatapan tajam yang ia dapatkan.
"Aa cinta sama aku?" Alana menjeda kalimatnya , lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya. "Aku tidak ingin melakukannya atas dasar na*su, tapi aku ingin melakukannya atas dasar cinta."
"Aku ngatuk A." Ujarnya mencoba menghindari tatapan Alvi. Ia merebahkan dirinya membelakangi Alvi yang entah sedang apa di meja belajarnya. Ia kecewa akan respon lelaki tersebut.
Suara isakan lolos di bibir tipis gadis berambut indah itu, takut akan tatapan Alvi, bukan lagi tatapan tajam ia dapatkan, melainkan tatapan penuh kemarahan. Apa salah jika ia jujur?
Alvi mengacak-acak rambutnya mendengar isakan Alana. Ia memaki dirinya sendiri, tidak bisa mengontrol emosi sakin kesalnya, untung saja ia tidak sampai membentak gadis berambut indah tersebut.
Ia melangkah menuju ranjang, tidur di samping Alana lalu memeluk gadis itu dari belakang. "Maaf."
"Aku nggak suka di tatap seperti itu A, aku takut." jujur Alana dengan suara bergetar.
Alvi menarik pundak Alana hingga menghadapnya, menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya. "Maaf."
"Janji nggak bakal ngulangin lagi?" Alana mengantung jari kelingkingnya di udara.
"Hm, tapi jangan pernah membicarakan lelaki lain di depan saya!"
Alana mengangguk antusias, lalu menatap rahang tegas Alvi, mengelus lembut dengan jarinya. "Aa cinta sama aku? kalau ia jadikan aku milik aa seutuhnya," pinta Alana.
"Kamu siap?" Alvi mengulum senyum, kini istri kecilnya semakin hari semakin nakal padanya.
"Tapi pelan-pelan," lirih Alana menyembunyikan wajahnya didada bidang Alvi. Sebenarnya ia takut, kebanyakan novel yang ia baca, malam pertama itu sangat menyakitkan.
"Pasti."
...TBC...
__ADS_1
Cie yang lagi nungguin😅