
Alvi. Guru kiler tersebut memasuki ruangan kakek Farhan dengan menyunggingkan senyum, duduk di samping brankar. Bukannya di sambut, kakek Farhan malah celingan-celiguk seperti mencari seseorang.
"Istri kamu mana?" benarkan, ternyata kehadiran Alvi tak di harapkan di sini.
"Alana nggak enak badan Kek, makanya nggak bisa jenguk, cuma nitip salam." jawab Alvi. "Bagaimana keadaan kakek?"
"Alana sakit?" kaget Kakek Farhan. "Sudah kamu bawa kerumah sakit kan? kenapa masih di sini, sana rawat cucu kakek." usirnya.
Alvi membuang nafas kasar, bisa-bisanya ia di usir oleh kakeknya sendiri demi orang lain, yang baru beberapa minggu menjadi istrinya.
"Apa jangan-jangan." Kakek Farhan mengantung kalimatnya, dengan tatapan penuh selidik pada Alvi. "Kakek bakal punya cicit?" girang kakek Farhan.
"Kakek!" tegur Alvi.
Bagaimana Alana bisa hamil, jika ia saja belum berani menyentuhnya. Lagi pula jika Alana hamil bagaimana dengan masa depan istrinya yang bercita-cita menjadi pengacara? ia tidak ingin masa depan gadis berambut indah tersebut hancur karena dirinya.
Sepulang dari rumah sakit, Alvi tidak langsung pulang kerumah, ia menyempatkan diri mengunjungi sahabat somplaknya. Tanpa memencet bel, ia mengetikkan sandi lalu masuk begitu saja di aparteman mewah Devan.
Alvi mendudukkan diri di samping Devan yang kini sedang fokus memandangi layar Tv, apa lagi yang Devan lakukan jika bukan melihat dramanya sendiri sembari memuji ketampanannya. Sangat narsis bukan?
"Khem," dehem Alvi.
"Eh setan!" Kaget Devan kala menyadari kehadiran Alvi yang tiba-tiba ada di dalam apartemennya. "Lo lewat mana?"
"Pintu." Santai Alvi melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang.
"Iyalah lewat pintu, kalau lewat tembok lo bukan manusia." kesal Devan.
Bagaimana Devan tidak heran, baru beberapa hari yang lalu ia mengganti sandi apartemennya, dan belum ada yang tahu selain manajernya. Tapi Alvi bisa masuk begitu saja ke apartemennya, hebat.
Alvi menatap malas Devan, kenapa harus bertanya, padahal sahabatnya itu sudah tahu kenapa ia bisa masuk.
"Oke...oke." Devan mengangkat tangannya menyerah di sertai cengiran khasnya. "Lo ngapain kerumah gue?" selidik Devan. "Mau curhat?"
__ADS_1
"Hm."
"Lo ada masalah sama kakak ipar gue?" Devan mengendus-endus tubuh Alvi. "Kok lo bau ya Vi?"
Sontak Alvi menciumi seluruh tubuh yang bisa ia cium, perasaan ia tidak bau, masih segar bahkan parfum yang ia pakai masih menguar di indera penciumannya.
"Bau-bau jatuh cinta maksud gue?" cengir Devan tanpa dosa. "Ayo lo, ngaku aja, lo mulai ada rasa sama kakak ipar gue kan?" goda Devan menaik turunkan Alisnya.
Plak
Bukannya mendapat jawaban, Devan malah mendapat tabokan dari Alvi.
"KDRT ini mah!" ujar Devan tak terima namun Alvi malah diam saja tidak menanggapi candaanya.
Entahlah Alvi juga tidak tahu bagaimana perasaanya sekarang. Mungkin karena ia belum pernah jatuh cinta sebelumnya, makanya ia tidak tahu bagaimana rasanya.
Ia sebenarnya bulum ingin berurusan dengan makhluk bernama perempuan, ia takut kejadian di masa lalu terulang lagi dengan orang yang berbeda. Sejak SMP kepercayaannya terhadap perempuan sirna begitu saja dan menganggap semua perempuan itu sama, hingga membuat dirinya menutup diri dan menciptakan gunug es dalam dirinya.
Namun kahadiran seorang Gadis mampu merobohkan itu semua, akankah gadis tersebut tidak akan mengecewakannya seperti apa yang di lakukan seseorang di masa lalu?
"Jangan karena masa lalu, lo kehilangan seseorang yang benar-benar tulus. Genggam Dia seerat mungkin, seperti tali layangan yang jika di lepas akan terbang tanpa bisa lo gapai, hingga penyesalan datang pada diri lo."
Benar kata Devan seharusnya ia menjaga apa yang ia punya sekarang.
***
Alvi sengaja tidak mengucapkan salam kala mendengar suara nyanyian dari dalam kamar, ia membuka pintu kamar secara perlahan, lalu menutupnya kembali tanpa menimbulkan suara, menyandarkan tubuhnya di belakang pintu, memperhatikan gadis yang kini duduk di depan mejas rias yang sedang bernyanyi.
Sudut bibir Alvi terangkat, bahkan jantungnya sedikit berdebar mendengar senandung istrinya.
Alvi jadi teringat kata-kata Devan tadi, baiklah ia akan mencoba menjadi suami yang baik bagi Alana.
***
__ADS_1
Alana. Gadis berambut indah tersebut mendudukkan diri di meja rias setelah membersihkan diri, usai menjalankan sholat Isya. Bernyanyi sesuka hatinya tanpa menyadari kehadiran seseorang di dalam kamar tersebut.
"Tuhan tolong aku katakan padanya!" suara Alana semakin tinggi kala lagu yang ia nyanyikan sampai pada Reff lagu berjudul Bukan salah jodoh ciptaan Ardiansyah Martin.
"Aku cinta Alvi bukan soal jodoh." sembari menepuk-nepuk wajahnya yang sudah ia olesi serum pemutih. "Alvi untuk aku bukan yang lainnya...."
Alana bangkit dari duduknya masih melanjutkan nyanyian yang ia rubah liriknya sedikit. "Satu yang kurasa pasti bukan salah jodoh..."
Nyanyian Alana terhenti berbarengan dengan pekikan keluar dari mulutnya kala melihat kehadiran Alvi yang kini bersandar pada daun pintu sembari tersenyum tipis kearahnya.
"Aa!" pekik Alana.
"Apa?" santai Alvi setelah menetralkan degup jantungnya, berjalan kearah Alana lalu menyerahkan jas yang ia pakai tadi. Kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Alana meruntuki mulut lemesnya, ia memukul-mukul mulutnya hingga puas, menyembunyikan wajahnya pada jas Alvi yang kini berada di tangannya.
"Muka gue mau di taro di mana?" cicitnya.
Alvi keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka dengan penampilan jauh dari kata rapi namun terlihat semakin tampan di mata Alana. Rambut sedikit basah, lengan kemeja di gulung sampai siku, dan jangan lupakan dua kacing kemeja bagian atas terbuka.
"Udah makan?" tanya Alvi sembari melap wajahnya dengan tisu.
Alana mengangguk seperti orang bodoh masih memerhatikan Alvi, pergerakan suaminya terlihat slow mooting di matanya.
"Wajah kamu merah Alana. Kamu demam lagi?" khawatir Alvi memeriksa kening Alana.
"Ng-gak" Alana menepis tangan Alvi kemudian mengibaskan sebelah tangannya. "Panas ya pak, saya keluar cari angin dulu." tanpa menunggu persetujuan Alvi, Alana berlari keluar kamar, bisa-bisa ia pingsan berada di dekat Alvi.
ia mengelus dadanya setelah sampai di balkon menghirup udara sebanyak-banyaknya, bukan cuma jantung yang berpacu lebih cepat bahkan ia sampai sesak nafas di dalam sana.
Alvi mengedikkan bahu acuh melihat tingkah aneh Alana. Panas? udara di dalam kamar sangat sejuk, Ac juga berfungsi dengan normal. Ia jadi khawatir dengan keadaan Alana, wajah gadis berambut indah tersebut memerah, namun tubuhnya tidak panas. Sepertinya Ia harus menanyakan gejala ini pada dokter Angga, jangan sampai sakit yang di derita Alana sangat serius.
Detik berikutnya senyum Alvi kembali terlihat kala mengingat bagaimana nyanyian Alana tadi, benarkah Alana mencintai?
__ADS_1
...TBC...