
Alana, gadis berambut indah tersebut mesem-mesem nggak jelas melihat suaminya mondar mandir di dalam kamar. Alvi terlihat sangat tampandengan setelan sarung dan baju kaos hitam usai melaksanakan sholat maghrib.
Ia mengeser duduknya ketika Alvi ikut duduk di sampingnya, lelaki itu melingkarkan tanganya pada pinggang Alana, menumpu dagunya di pundak gadis berambut indah tersebut.
"Kenapa senyum-senyum, Hm?" tanya Alvi.
"Aa ganteng banget pakai sarung."
"Aa emang ganteng." Narsis Alvi, membuat Alana tertawa.
Gadis itu sedikit memiringkan kepalanya, memudahkan Alvi mengecup bibir pink menggoda itu.
"Jadi kan?"
"Iya, tapi aa selesaikan pekerjaan dulu," sahut Alvi memindahkan Alana kepangkuannya.
Tangan kiri lelaki itu setia melingkar di pinggang Alana, sementara tangan kanannya sibuk mengerjakan sesuatu di Laptopnya.
"Aku turun aja deh," ujar Alana tak ingin mengganggu Alvi, agar mereka bisa segera keluar jalan-jalan, kebetulan di lapangan depan kompleks mereka ada pasar malam.
"Nggak usah, gini aja." semakin erat memeluk gadisnya, bahkan kini ia kembali menumpu dagunya pada pundak Alana.
"Aku mimpi tadi, Aa bilang I LOVE YOU sama aku, tapi kok nyata banget ya?"
"Ngarep," sahut Alvi.
Alana memgerucutkan bibirnya, kapan Alvi bisa mengatakan cinta padanya? "
"Ngarep lah, kita dah lama nikah, tapi Aa nggak pernah bilang cinta sama aku."
"Harus banget?"
"Hiris bingit." cibir Alana.
Gadis itu melirik jam dinding, masih ada setengah jam, pasar malam akan di mulai, dan ia mulai bosan dalam pangkuan Alvi. Apa lagi lelaki itu tak mengajaknya bicara, dan hanya fokus pada berkas di atas meja.
Hingga pertanya yang tidak pernah telintas di pikirannya, keluar begitu saja di mulutnya.
"Aa Seandainya aku...."
"Jangan mengandai-andai, Aa tahu pengandaian kamu nggak ada yang berfaedah." Potong Alvi tak ingi mendengar pengandain Alana yang sering di luar akal.
"Yaudah misalnya nih...." Alana mencubit lengan Alvi sebelum lalaki itu membuka suara. "Jangan di potong dulu, dengerin napa."
"Apa?" tanya Alvi.
Lelaki itu menurunkan Alana dari pangkuannya lalu mendarkan kelala gadis itu di dada bidangnya. bersiap mendengarka segala celotehan unfaedah dari Alana. Namun percayalah, kecerewetan seperti inilah yang membuatnya selalu rindu jika sedang berjauhan.
"Misalnya nih, misalnya. Aku hamil terus melahirkan, tapi pada saat itu terjadi komplikasi hingga Aa harus milih antara aku atau anak kita, Aa bakal pilih siapa?"
Hening, tak ada sahutan dari Alvi, lelaki itu bergeming terus mengelus tangan mungil Alana.
"Kalau nanti itu terjadi, aku mau Aa pilih nyelamatin anak kita agar Aa punya teman." Entahlah, ada apa dengan pikiran Alana sekarang.
"Tapi jagain anak aku, jangan di telantarin kalau Aa sudah dapat penganti aku, ntar aku sedih lagi."
__ADS_1
"Kenapa harus milih? kalian akan baik-baik saja." serius Alvi.
"Serius banget sih A, aku cuma mengandai-andai loh, belum tentu juga terjadi."
"Kalau gitu nggak usah hamil, kalau kamu pengen anak, adopsi saja, Aa nggak keberatan," ujar Alvi yang telanjur serius menanggapi candaan Alana.
"Enak aja." kembali mencubit lengan Alvi. "Kata bunda, perempuan bisa di katakan sempurna jika sudah memiliki Anak."
"Mau kamu ounya anak atau nggak kamu tetap sempurna di mata Aa."
"Gembel, banget." mencubit perut Alvi.
"Gombal sayang."
Lama saling bercerita dan berbagi kisah, hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 20:00, usai sholat isya mereka berdua bersiap untuk jalan-jalan melepas suntuk di malam hari.
Namun ada saja perdebatan antara mereka jika bepergian seperti ini, tertunda hanya karena persoalan kendaraan, mereka harus mengulur waktu beberapa menit.
"Naik mobil Al."
"Jalan kaki, titik!" titah Alana tak terbantahkan. "Orang dekat banget juga."
"Udara sangat dinggin."
Alana menarik Alvi agar mengahadapnya, menangkup kedua pipi lelaki itu, membuat bibir tebalnya semakin manyun. "Liat penampilan aku. Aku seperti boneka kedinginan di bungkus jaket setebal ini."
Memperlihatkan penampilannya pada Alvi. Jaket kebesaran milik Alvi sudah melekat di tubuhnya karena lelaki itu memaksnya, dengan alasan di luar sangar dingin, dan sekarang lelaki itu ingin naik mobil padahal di tempuh jalan kaki saja tidak memakan waktu sentengah jam.
"Tunggu di sini!" Alvi kembali masuk kerumah sederhana itu untuk mengambil sesuatu.
"Aa, aku bukan baby sampai harus di pakain gini," kesal Alana. "Takut banget aku kena fllu."
"Imun kamu itu lemah, kena angin malam dikit aja Fllu." terang Alvi.
"Bakteri lo liatkan perjuangan suami gue?" teriak Alana entah pada siapa. "Jadi jangan nyerang gue, nggak kasian sama perjuangan suami gue?"
Alvi tertawa mendengar celotehan Alana, bisa-bisanya gadis itu berbicara dengan bakteri. Ia mengengam tangan gadisnya keluar pagar mulai menyusuri jalan kompleks perumahan mereka yanf terlihat ramai malam ini.
Lengkahnya ikut terhenti ketika gadisnya berhenti di deoan rumah seseorang.
"Kak Arka." sapa Alana ketika melihat cowok tampan keluar dari rumah bernuansa putih di samping rumah mereka.
"Alana, pak." sapa Arka sembari mengandeng anak kecil di sampingnya.
"Hay cantik, mau ke pasar malam juga?" sapa Alana pada anak kecil mengemaskan itu.
"Iya bunda cantik." jawab anak yang mengemaskan itu.
Alana tekikik geli, selalu saja dirinya gemas jika beetemu anak Arka tetangganya itu. Gadis itu melepaskan genggaman tangan Alvi, berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Disya.
"Kalau gitu bareng bunda aja, gimana?" tawar Alana.
Bukannya menjawab Disya malah menatap Daddynha, seakan meminta persetujuan.
"Boleh sayang."
__ADS_1
"Yey, akhilnya Isya pelgi sama bunda." sorak Disya.
"Dadah Daddy." Disya melambaikan tangannya pada Arka sebelum pergi bersmaa Bunda cantiknya.
Di pertengahan jalan, tangan Alana terasa pegal, membuanya mau tak mau menyerahkan Disya pada Alvi.
"Sama om dulu ya, bunda cape."
Disya mengeleng, takut pada Alvi yang sedari tadi diam saja.
"Bunda?" akhirnya Alvi mengeluarkan suara juga, tak tahan mendengar panggilan anak kecil itu pada gadisnya. Terlebih Arka seorang Duda dan lebih muda darinya.
"Iya Aa, aku sering main sama Disya kalau lagi bosan di rumah, dan katanya, dia oengen manggil aku bunda."
"Sering? sama siapa? Daddynya?" intro Alvi.
"Ish bukan, tapi Disya di antar Naninya kerumah."
Alana memberikan Disya pada Alvi, namun gadis kecil mengemaskan itu malah memeluk Alana erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alana.
"Takut A." tawa Alana mengelus punggung Disya.
"Jangan takut sayang, dia suami bunda."
"Kayak Daddy?"
"Iya."
Alana mengusel-usel pipi cubi Disya di gendongan Alvi. "Gemes banget kan A? jadi pengen punya anak."
"Hm."
"Ais, kaku banget sih A, gimana mau punga anak kalau gini, gendong aja nggak bisa." omel Alana.
"Disya mau jalan nggak?"
Disya mengangguk lucu, membuat Alvi tak tahan untuk menciumnya. Harus di akui Disya sangatlah mengemaskan, pantas saja Alana kencantol. Namun, ia sedikit kesal karena Daddy Disya adalah Duda, takut Alana berpaling.
"Biar gini aja," ujar Alvi.
Malam kamis mereka habiskan bertiga di pasar malam layaknya keluarga kecil bahagia, Disya mampu meluluhkan gunung es dalam diri Alvi, padahal lelaki itu tak mudah bergaul dengan orang baru. Bahkan Disya yang awalnya takut dengan keberadaan Alvi, kini malah menempel bagai perangko.
...TBC...
Dedek gemes nggak pernah bosan buat ngigetin para readers tersayang dedek. Jangan lupa Vote, komen, dan like ya, biar dedek makin semangat upnya. Dan maaf juga kalau up nya sering slow.
Oh iya dedek gemes bawa novel lagi buat kalian, rekom banget, cerita poligami.
Novel ini rekom juga buat kalian
Lagi nih nggak kalah seru !!!
__ADS_1