Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 91


__ADS_3

Lama menunggu akhirnya Alana masuk ke dalam kamar juga, tapi yang membuat Alvi binggug adalah, gadisnya muncul dengan mata memerah menahan tangis padahal baru saja ia mendengar tawa gadis itu bersama kakek Farhan.


Alvi menarik tangan Alana ketika gadis itu membereskan barang-barangnya lalu kembali memasukkan ke dalam tas.


"Kamu mau kemana? nggak jadi nginap?"


"Kenapa Aa harus pakai cara ini?" lirih Alana.


"Cara apa sayang?" binggung Alvi.


"Aa kan yang nyuruh kakek buat aku datang kesini? padahal Aa tahu sendiri aku nggak mau ketemu sama Aa untuk sementara waktu."


"Maaf, tapi Aa rindu sama kamu."


Alvi mengira caranya ini akan membuat hubungan mereka membaik tapi ia salah, lihatlah sekarang gadisnya semakin marah. Ia bergeming ketika Alana meninju dadanya sangat keras, menarik baju kaos yang ia kenakan.


"Kenapa Aa begitu egois? kenapa Aa hanya memikirkan diri sendiri tanpa mikirin perasaan aku? kenapa!" bentak Alana berderai air mata. "Aku cuma minta waktu sebentar untuk nenangin diri, bukan kabur dari rumah atau mau ninggalin kamu."


"Hati aku sakit banget A, apa lagi tadi kakek bertanya seperti itu. Aku nggak sempurna, aku bukan istri yang baik buat kamu, aku nggak bisa ngasih kamu keturunan."


"Menangislah!" Alvi mendekap tubuh Alana menyembunyikannya di dada bidangnya, ia mengelus rambut indah itu.


"Aku ingin pisah." serak Alana dalam pelukan Alvi.


"Kamu nggak boleh pergi dari Aa sampai kapanpun, kamu cuma milik Aa." Alvi melerai pelukannya, menangkup wajah Alana, menatap mata sembab gadisnya. "Kamu ingin nenangin diri kan? berapa lama? satu minggu? dua minggu? Aa bakal turutin, asal kamu nggak pergi ninggalin Aa.


"Aa janji nggak bakal ganggu kamu, sampai kamu sendiri yang nyuruh Aa buat jemput kamu di rumah bunda."


"Tapi setelah ini kamu nggak boleh mikirin itu lagi, percaya sama Allah semua akan baik-baik saja. Kamu itu perempuan kuat, pasti bisa melewati cobaan ini, Aa janji bakal cari dokter kandungan terbaik buat kamu."


Alvi memasangkan jaket tebal ke tubuh mungil Alana, agar gadis itu tidak kedinginan. Jarak rumah orang tua Alana dan Kakek Farhan sangatlah jauh.


"Mau pulang sekarang?"


Alana mengangguk walau tak sekalipun ia menatap Alvi, melihat wajah Alvi membuatnya teringat dengan kebohongan-kebohongan yang di lakukan lelaki itu.


"Jangan nangis!" Mengusap air mata Alana dengan ibu jarinya. "Nanti kepala kamu sakit."


***


Setelah menempuh jarak cukup jauh yang memakan waktu beberapa jam, akhirnya mereka sampai di depan rumah mewah bernuansa putih gold, dimana beberapa mobil mewah berjejer rapi di garasi.

__ADS_1


Alvi memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil ayah Kevin, pelan-pelan ia melepas setbelt yang membalut tubuh Alana ,agar gadis itu tidak terbangun. Ia mengendong Alana ke dalam rumah mewah itu ketika wanita paruh baya yang tak lain mertuanya membukakan pintu.


Untung saja ia mengabari orang tua Alana sebelum berangkat, karena ia tahu mereka akan sampai tengah malam.


Usai membaringkan Alana dan menyelimutinya, ia keluar dari kamar bernuansa kuning seperti kamar mereka.


"Mau ke mana?" tanya Bunda Anin ketika melihat Alvi menuruni satu persatu anak tangga.


"Mau ke kamar tamu bunda," sahut Alvi.


Alis bunda Anin terangkat, mendengar jawaban menantunya. "Ngapain ke kamar tamu? tidur di kamar Alana, kalian sudah menikah."


"Aku...."


"Alvi, dengerin bunda. Kalian sudah menikah, Alana istri kamu, sebagai pemimpin keluarga kamu harus tegas. Alana tidak akan dewasa jika terus begini, kamu terlalu menuruti semua keinginannya."


"Bunda tahu kamu seperti ini karena cinta sama anak bunda, tapi nggak gini caranya Nak. Jangan karena cinta kamu terus-terus mengalah sama anak bunda, pikirkan perasaan kamu juga." ceramah bunda Anin.


"Alvi nggak papa Bunda, nggak baik terlalu mengekang anak remaja seperti Alana, semakin di kekang semakin mereka melunjak. Dia masih remaja, butuh kebebasan, selama dia tahu batasan itu nggak masalah," jawab Alvi bijak.


Bunda Anin mengeleng tak percaya, entah sebanyak apa stuk sabar Alvi menghadapi sikap putrinya yang sangat manja dan menyebalkan itu. Bagaimana bisa Alvi tetap tenang dan tidak marah.


"Anin!" panggil Ayah Kevin ketika Anin belum juga selesai bicara dengan manantunya, lelaki tua itu tidak suka jika istrinya dekat dengan laki-laki, baik itu menantu atau saudaranya sekalipun.


"Iya mas, tunggu!" sahut Anin.


Sebelum pergi bunda Anin menepuk pundak menantunya. "Bunda ada kabar baik buat kamu." senyum bunda Anin semakin lebar. "Bunda menemukan dokter kandungan terbaik, nanti bunda kirim kontaknya."


"Makasih bunda."


Usai berbincang-bincang dengan mertuanya, Alvi mengistirahatkan tubuhnya di kamar tamu, seluruh tubuhnya terasa remuk beraktivitas seharian, apa lagi pulang balik antara kantor, rumah kakek Farhan dan juga mertuanya.


Sebelum matahari terbit, Alvi pamit pulang pada Ayah kevin yang kebetulan juga ikut sholat subuh berjamaah di masjid. Laki-laki itu bernar-benar menepati janjinya, tak mengirim kabar atau sekedar menyapa gadisnya di pagi hari.


Ia memfokuskan dirinya bekerja dan berkerja ke sekolah jika ada kelas saja.


Jika Alvi berusaha mati-matian tak menyapa Alana atau sekedar menanyakan kabar. Lain halnya dengan gadis itu, Alana terlihat sangat ceria seperti tidak terjadi apa-apa, kembali menjadi anak ayah bunda tanpa seorang suami.


Bunda Anin menghampiri Alana ke dalam kamarnya, wanita paruh baya itu melempar senyum ketika melihat putrinya tengah tengkurap memandangi layar laptop.


Bunda Anin mendudukkan diri di pinggir ranjang. "Alana, bunda mau bicara sama kamu."

__ADS_1


Menyadari keberadaan bunda Anin, Alana menutup laptopnya kemudian duduk sila di atas kasur menghadap wanita paru baya itu. "Bicara apa?"


"Sudah berapa lama kamu tinggal di sini sayang?" lembut Anin.


"Kurang lebih satu minggu, kenapa bunda?"


"Kamu nggak lupakan, kalau punya suami yang harus kamu urus dan layani?"


Alana tertawa mendengar pertanyaan konyol bundanya, mana mungkin ia lupa dengan suaminya.


"Ya kali Alana lupa."


"Pulang ya!" bujuk bunda Anin.


Alana melepas genggaman tangan bunda Anin, kini tak ada lagi senyum menghiasi wajah gadis itu. "Bunda ngusir aku?"


"Bunda nggak ngusir kamu sayang, bunda cuma kasian sama Alvi. Suami kamu belakangan ini terlalu fokus berkerja, datang cepat pulang tengah malam. Bunda senang, dengan begitu semua pekerjaan cepat beres, tapi kesehatan juga penting, jangan sampai Alvi sakit."


"Pulang ya, kamu seorang istri sayang, bukan anak gadis. Kalau ada masalah di selesaikan bukan pergi dari rumah, Alvi bohong demi kebaikan kamu, jadi jangan marah sama Alvi. Bunda tahu kamu nggak suka kebohongan, tapi sekali ini saja dengerin bunda ya!"


"Bunda juga belain Alvi? kenapa semua orang nggak ada yang ngertiin perasaan aku? Aku memang terlihat ceria, tapi tidak ada yang tahu setiap malam aku nangis."


"Bunda nggak sayang lagi sama Alana? kenapa bunda tega ngusir aku?"


Bunda Anin mengeleng, memeluk tubuh putri kesayangannya, mengelus punggung bergetar itu. "Bunda sayang banget sama kamu, kamu boleh tinggal selama yang kamu mau di sini sayang, tapi dengan Alvi."


Dengan wajah di tekuk, Anin keluar dari kamar putrinya, kenapa Alana sangat keras kepala?


"Gimana?" tanya Ayah Kevin.


Bunda Anin mengeleng.


"Jangan sedih, nanti mas yang ngomong sama Alana."


...TBC...


Apa kabar readers tersayang dedek?


Ada yang suka cerita berbagi cinta nggak? kalau Iya, aku ada rekom buat kalian.


__ADS_1


__ADS_2