Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Bonus capter 14


__ADS_3

Alvi tersenyum mendengar cerita putrinya, ia mengira Agatha membuat ulah karena nakal, ternyata bukan.


"Kenapa wajahnya kayak takut gitu?" tanya Alvi menarik dagu sang putri agar menatapnya.


"Daddy marah?" tanya Agatha.


"Daddy bangga sama kamu sayang. Perempuan harus jual mahal, bukan karena sombong atau sok cantik. Tapi mereka tahu dirinya berharga. Laki-laki yang benar-benar cinta akan memperjuangkan wanitanya sampai di titik darah penghabisan sekalipun," ucap Alvi mengelus kepala Agatha, membuat gadis itu tersenyum.


"Menurut pengalaman pribadi ye 'kan," cibir Arga yang kini setia berbaring di sofa, dengan ponsel di tangannya.


"Atha sayang Daddy." Agatha langsung memeluk leher Alvi sangat erat.


Alatha yang tak ingin kalah ikut memeluk Alvi. Kini guru kimia itu menjadi rebutan oleh kedua putri cantiknya.


"Alha juga sayang Daddy."


"Oh jadi kalian nggak sayang sama Mommy gitu? Cuma sayang Daddy?" tanya Alana cemberut.


"Hanya Arga yang sayang Mommy dengan tulus," celetuk Arga mengompori. "Sini Mommy sayang." Arga merentangkan tangannya.


"Putra Mommy yang paling tampan, sini cium sayang," ucap Alana melirik Alvi.


Arga langsung beranjak dari tidurnya, kemudian menghampiri Alana di sofa lain yang juga sedang berbaring. Arga mengecup kedua pipi Alana, kemudian ikut berbaring di samping Alana dengan posisi tengkurap.


Arga menggunakan lengan Alana sebagai bantalan, menolehkan kepalanya ke samping kiri membelakangi kepala Alana.

__ADS_1


"Biarin aja Daddy, Mommy ambekan kayak anak kecil," ucap Alatha, sibungsu yang selalu adu mulut dengan Alana mau hal sekecil apapun itu. Jika Arga dan Agatha akrab sama Alana, maka Alatha manja pada Alvi.


"Heh bocil, ingat dia istri Daddy!" tegur Alvi dengan tatapan tajamnya.


"Tapi dia Mommy Arga," jawab Arga.


"Nih bocah benar-benar ya," gumam Alvi, membuat si kembar tertawa. Mereka paling suka menjahili orang tuanya, terlebih sang Daddy yang sangat gampang terpancing jika menyangkut Alana.


"Kartu di bekukan selama sebulan!"


Hanya satu kalimat, tapi berhasil mengalahkan seorang Arga. Laki-laki itu tidak bisa hidup tanpa kartu, terlebih ia sedang mengejar-ngejar cinta anak dari sahabat Mommynya.


"Arga waras, Arga nyerah."


"Udah jam 10 malam, kecobongya Daddy harus tidur!" perintah Alvi.


"Siap paduka raja!" teriak ketiganya dan berlari meninggalkan Alvi di ruang keluarga.


Alvi menaikkan alisnya menggoda setelah kepergian anak-anak mereka.


"Lih apaan, Aa kesurupan?"


"Iya, kesurupan setan bucin. Ayo sayang, waktunya tidur."


"Tidur apa tidur?" tanya Alana.

__ADS_1


"Beneran tidur, kecuali ada bonus malam ini," bisik Alvi menggoda.


Sepasang suami istri itu berjalan ke kamarnya. Membersihkan diri masing-masing dan berbaring di atas ranjang. Alana memeluk sang suami posesif, sembari memainkan jakung laki-laki itu yang sangat menggoda.


"Is kok pakai baju? Biasanya juga nggak," protes Alana. "Ayo buka Aa," rengeknya.


"Lupa sayang," jawab Alvi, sedikit bangun untuk melepas baju kaos yang melekat di tubuhnya.


Kalakuan Alana sering aneh tengah malam, salah satunya tidak bisa tidur sebelum memainkan sesuatu di area dadanya, padahal menurut Alvi, punya Alana menang berkali-kali lipat.


Alana mulai memejamkan matanya, dengan tangan yang terus memainkan satu titik di dada Alvi. Sakin gemesnya Alana bahkan sampai mengigit benda kecil itu.


"Kok aneh ya Al?" gumam Alvi.


"Aneh kenapa A?"


"Kamu gigit bagian atas, tapi kok yang bangun bagian bawah?"


"Ish kirain apaan. Murahan banget tongkal bisbol Aa, di sentuh dikit udah bangun," cibir Alana.


"Murahan cuma di dekat pawangnya sayang," bisik Alvi yang suaranya kian serak karena Alana. "Ayo kita buat dedek gemes untuk anak-anak!" ajak Alvi.


"Ish, buat mulu cetak nggak," gerutu Alana. Dari dulu ia ingin hamil lagi, tapi Alvi menolak karena tidak ingin istrinya berjuang antara hidup dan mati seperti saat melahirkan si kembar dulu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2