
"Seandainya ada Arga, Aa," lirih Alana terus berjalan melihat-lihat hewan di tempat masing-masing.
Mereka terus berjalan dan sampai di sebuah tempat. Tempatnya hewan-hewan yang tidak terlalu ganas dan bisa di pegang. Alana mendekat pada kandang Musang yang sedang memanjat pagar. Bumil itu memberi makan dengan riang setelah mendapat izin dari penjaganya.
"Aa rambut aku di tarik Musang," ujarnya sembari tertawa saat rambut indahnya nyangkut di tangan musang.
Alvi ikut tersenyum melihat betapa gembiranya Alana. Dengan hati-hati ia menarik rambut indah sang istri agar terlepas dari tangan Musang.
Lama mereka berkeliling hingga Alana benar-benar lelah dan meminta pulang dengan sendirinya. Ada-ada saja keingian bumil itu saat melewati beberapa pedangang kaki lima dan melihat bando bulu berwarna pink.
"Aku mau itu Aa." Menarik kaki baju Alvi.
Tanpa protes Alvi membeli Bando itu lalu mamakaikannya di kepala Alana, tetapi gadis itu malah melepasnya, berjinjit lalu memasangkan di kepala Alvi.
Merasa malu dengan sekitar, Alvi melepas bando pink itu lalu memberikannya pada Alana. Tetapi Alana malah menunduk dengan bibir di manyung-manyungkan beserta air mengenang di pelupuk matanya.
Alvi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, meraih kembali bando itu lalu memasang di kepalanya dengan pasrah, kemudian tersenyum pada istri tercinta.
Apapun akan Alvi lakukan demi melihat Alana bahagia, walau itu harus menanggung malu sekalipun seperti yang ia lakukan sekarang.
Alana memegang kedua pipinya dengan wajah berbinar bahagia. "Gemas banget suami aku, pengen ngarungin," gemas Alana memeluk tubuh kekar itu di pinggir jalan, di saksikan semua orang. Ia tidak peduli yang penting dirinya bahagia.
***
__ADS_1
Akibat jalan-jalan seharian tubuh Alana terasa pegal terutama di bagian kaki juga paha. Dengan telaten, Alvi memijat kaki juga paha sang istri yang kini bersandar di kepala dipan.
"Auwww ...," rintih Alana ketika merasakan sesuatu bergerak di dalam perutnya. Bumil itu meringis sembari tertawa merasakan sensi yang berbeda di perutnya. Rasanya sakit tapi bahagia merasakannya.
"Sayang, kamu kenapa, kenapa nangis, ada yang sakit? Bagian mana? Pijitan Aa terlalu keras?"
Alana mengeleng lalu membimbing tangan kekar suaminya untuk menyentuh perutnya. "Cebongnya gerak Aa," ucap Alana.
Alvi ikut bahagia saat merasakan denyutan di perut sang istri. Lelaki itu menunduk lalu mencium perut buncit istrinya berkali-kali dengan genangan air di sudut matanya. Rasa bahagia tak bisa di gambarkan dengan apapun, penantian Alvi selama ini tidak sia-sia. Ia beralih mengusap pipi sang istri menghapus air mata bumil kesayangannya.
"Aku nggak nyangka A, bentar lagi akan menjadi Mommy yang sesungguhnya. Terimakasih udah sabar menunggu selama lima tahun."
Alvi hanya mengangguk menarik Alana kedalam pelukannya. Tanpa menyadari sosok mungil yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Alga juga pengen di peluk," celetuk Arga bertopang dagu sembari mengedip-edipkan matanya.
"Anak Mommy udah pulang? Opa sama Oma mana sayang?"
"Udah pulang Mommy," jawab Arga masuk kedalam selimut berbaring di antara Alana dan Alvi. Ia menghadap sang Mommy yang masih duduk. "Mommy tau?"
Alana mengeleng begitupun dengan Alvi. Kini mereka berbaring, bersiap mendengarkan cerita Arga yang baru saja keluar kota dengan Oma dan Opanya. Ya bunda Anin dan Ayah Kevin ada urusan pekerjaan keluar kota pagi tadi, sekalian jalan-jalan dengan sang cucu. Rencana mereka akan bermalam, tetapi Alana tak mengizinkan alhasil kedua orang tuanya pulang.
"Nggak tau, kan Arga belum cerita," jawab Alvi.
__ADS_1
"Ah iya, Alga lupa." Menepuk keningnya sendiri, membuat Alana tak tahan agar tidak memeluk tubuh kecil itu.
"Jangan peluk Mommy, Alga bukan cowok mulahan,"
Sontak Alana tertawa mendengar perkataan Arga, ada-ada saja tingkahnya setiap mau tidur.
"Siapa yang ngajarin?" tanya Alvi.
"Tadi pas Alga jalan-jalan sama Opa dan Oma. Alga liat olang datang langsung meluk olang lagi. Telus olang itu bilang gini." Arga bangun dan memperagakan orang yang ia lihat tadi. "Jangan peluk aku, aku bukan cewek mulahan!" ujar Arga dengan intonasi tinggi.
Tak sanggup melihat tingkah mengemaskan putranya, Alvi menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Sepertinya ia harus mengurung Arga sampai anak itu tahu mana baik dan buruk. Takut putranya meniru hal-hal tidak baik di luar sana.
"Mommynya nggak di peluk nih?"
"Arga mau peluk mommy nggak?" tanya Alvi mengulum senyum.
"Mau,"
Alvi mendekat lalu memeluk kedua orang yang sangat ia cintai.
...****************...
Jangan lupa vote, komen dan like. Mampir juga di novel baru dedek "Cinta dan Masa Lalu"
__ADS_1
Karungin yuk dedeknya🤗