
Rencana yang telah ia susun serapi mungkin dan berharap akan berjalan lancar, harus berantakan saat mendapat telfon dari bunda Anin bahwa Alana ada di Indonesia.
Setelah pertengkaran dengan Alana malam itu, ia tidak bisa tidur, memikirkan perkataan Alana yang ingin berpisah dengannya hanya karena ia mengadopsi seorang Anak. Sampai pada suatu pagi Bunda Anin menelfon dirinya dan mengatakan Alana marah bukan karena Arga, melainkan salah paham karena mengira dirinya selingkuh. Dan betapa bahagianya Alvi saat bunda Anin mengatakan Alana sedang mengandung anaknya, ingin rasanya ia menemui Alana lalu memeluk istrinya seerat mungkin.
Tapi apalah daya, ia mendapat hukuman dari ayah Kevin karena tidak menepati janji agar tidak membuat Alana menangis histeris. Tak sabar ingin bertemu dengan istrinya, Alvi mempercepat pesta yang ia siapkan tepat di hari ulang tahun gadis itu. Membuat kesepakatan dengan bunda Anin dan Ayah Kevin untuk menjadikan salah paham Alana sebuah prank di hari ulang tahunnya.
Flashback off
Tak terasa air mata Alvi kembali terjatuh membasahi tangan mungil Alana. Iya benar-benar menyesali dirinya karena berbohong, hampir saja ia kehilangan wanita yang sangat ia cintai.
""Maafin Aa bohongin kamu lagi,"
"Kenapa harus melampiaskan semuanya dengan merokok? kenapa nggak melampiaskannya dengan shalat? Di mana Alvi yang aku kenal?" Dari sekian banyak penjelasan Alvi, Alana hanya menangkap tentang Alvi yang merusak dirinya sendiri.
"Kamu tahu sendiri aku nggak suka kebohongan, tapi lagi-lagi kamu berbohong dan berlindung di balik kata 'Demi kebaikan aku' "
"Apa susahnya beritahu aku kalau kamu kesepian hidup sendiri? apa susahnya kamu ngomong kalau ingin punya anak Alvi!" betak Alana, meninju dada laki-laki itu. "Selain penghianatan aku juga benci kebohongan. Mungkin dulu aku bisa maafin kebohongan kamu. Tapi sekarang sulit rasanya, mengingat ini bukan pertama kalinya kamu bohong sama aku," lirih Alana.
"Udah sayang, jangan nangis lagi, kasian anak kita," bujuk Alvi menghapus air mata yang tak henti-hentinya membasihi pipi gadis itu. "Aa nggak mau kamu merasa bersalah kalau Aa ngomong pengen punya anak dan kesepian."
"Kamu benar, mungkin aku akan berfikir seperti itu, tapi setidaknya bertanya padaku. Setidaknya hargai aku sebagai istrimu!" maki Alana, tangannya tak pernah berhenti memukuli tubuh kekar Alvi.
Diam, hanya itu yang di lakukan Alvi, menerima semua pukulan istrinya. Hingga pukulan itu perlahan-lahan melemah.
"Aku akan menerima Arga sebagai putraku, tapi tidak dengan kebohongan kamu," lirih Alana setelah lama berfikir.
Tidak ada gunanya terus bertengkar dengan Alvi, itu hanya akan membuatnya semakin frustasi. Berada di dekat Alvi bisa membuatnya tenang, apa lagi saat laki-laki itu memeluknya. Mungkin karena hormon kehamilan juga hatinya yang terlanjur mencitai Alvi.
"Apa yang harus Aa lakukan agar kamu mau maafin Aa?" tanya Alvi
"Kamu nggak perlu melakukan sesuatu. Cukup patuhi perintah aku dan jangan pernah melanggarnya sampai aku sendiri yang memintanya." Alana menjeda. "Aku ingin kita pisah ...."
__ADS_1
"Nggak," tolak Alvi.
"Aku belum selesai ngomong," kesal Alana. "Aku mau pisah kamar, kamu tidur di kamar Arga sampai aku bisa menerima kebohongan kamu."
Alvi menyetujui persyaratan Alana.
"Boleh Aa minta sesuatu?"
"Apa?"
"Panggil Aa seperti biasa, plis!" Menangkup kedua tangannya, memohon agar Alana menyetujui permintannya. Rasa Aneh saat Alana tak memanggilnya dengan sebutan Aa. Panggilan Aa Alana begitu candu bagi Alvi.
Alana menggangguk dan meninggalkan Alvi yang masih senyum-senyum sendiri di pinggir ranjang. Ia mengira Alana akan marah besar padanya.
Merasa semua masalahnya selesai, Alvi menghubungi Devan, agar menjemput Arga di rumah bunda Anin. Tapi siapa sangka keberadaan Alana di rumah ini, awal dari bencana untuk Alvi.
"Aa!"
"Aku mau makan, tapi masakan Aa."
Alvi menelan selivanya dengan kasar, selama beberapa hari terakhir, dirinya hampir tak mengunjungi dapur karena sensitif dengan aroma makanan, dan sekarang Alana menyuruhnya membuat sarapan.
"Aa!" panggil Alana saat tak ada sahutan.
"Iya, sayang. Kamu mau makan apa?"
"Terserah, yang penting Aa yang masak."
Dengan berat hati, Alvi melangkahkan kakinya ke dapur, baru saja menghirup aroma dapur, perutnya mulai teras mual.
"Semangat Alvi! Demi istri dan anak kamu," gumamnya.
__ADS_1
Dengan penuh perjuangan dan penuh siksaan akhirnya sarapan untuk Alana sudah siap. Ia hanya membuat nasi goreng sederhana tanpa banyak campuran apapun.
Setelahnya ia membawa ke kamar di mana Alana tengah duduk di sofa menonton serial anak kembar kepala botak.
"Mau di suapin?" tawar Alvi.
"Aku bisa sendiri," jawab Alana.
Usai sarapan Alana memutuskan jalan-jalan sembari berjemur di halaman rumahnya, sesekali mengintip ke sebelah, tetapi rumah Arka sepi seperti tidak ada kehidupan, padahal ia merindukan Disya.
"Arka nggak ada, dia lagi honaymoon sama istirnya," ucap Alvi.
"Istri?"
"Hm,"
"Daddy ... Mommy ...." Panggil anak kecil berlari setelah turun dari gendongan pria tampan.
"Hay kakak ipar, makin cantik aja," goda Devan.
"Om Epan, jangan gombalin mommy Alga, nanti Daddy malah," ujar Arga menegur Devan membuat Alana yang sedari tadi cemberut tertawa.
"Siapa yang ngajarin gombal-gombalan, hm?"
"Om Layhan," jawab Arga antusias. "Tadi Alga habis ketemu kucing besal di lumah Oma, kata om Layhan, kalau ada yang gombalin Mommy, jadi makanan kucing besal,"
Alvi mengeleng tak percaya, sepertinya ia harus menjauhkan Arga dari Rayhan juga Devan jika ingin Arga jadi anak yang baik.
...****************...
Jangan lupa komen, Vote, dan Like. Mampir juga di cerita baru dedek "Cinta dan Masa Lalu"
__ADS_1