
Rencana yang telah Alana susun gagal seketika saat Alvi tiba-tiba mengatakan akan pulang ke indonesia tanpa menunggunya. Padahal laki-laki itu sudah berjanji akan menemaninya hingga urusan Alana benar-benar selesai di Boston.
"Nggak bisa di tunda dulu A? dikit lagi ini, satu minggu paling lama," rengek Alana yang tak ingin berpisah lagi dengan Alvi.
"Nggak bisa sayang, Aa ada urusan penting."
Ponsel Alvi kembali berdering untuk yang kesekian kalinya, tapi laki-laki itu tidak menjawab karena ada Alana di pelukannya.
"Sepenting apa sih sampai nggak bisa di tunda? sekali aja," mohon Alana.
Seberapa keras Alana memohon, Alvi tetap pada pendiriannya, berangkat malam itu juga, walau Alana sudah menangis mohon-mohon agar ia tinggal menemani gadis itu.
"Aa jahat sama aku, Aa banyak berubah," tangis Alana di pelukan Alvi.
Alvi melerai pelukan Alana, lalu mengecup kening gadis itu.
"Aa pergi ya. Telfon Aa setelah urusan kamu selesai, biar Aa jemput."
Alvi melambaikan tangannya, saat mobil mulai meninggalkan pekarangan rumah di mana Alana berdiri di depan rumah sederhana itu.
Setelah mobil mulai melaju semakin jauh baru lah Alvi menjawab panggilan dari seseorang, senyumnya mengembang mendengar suara anak kecil di seberang sana.
"Daddy, Alga sakit. Alga mau ketemu Daddy. Alga lindu sama Daddy," rengek anak kecil di seberang telfon.
__ADS_1
"Daddy juga rindu sama Arga. Tunggu ya, Daddy lagi di jalan."
***
Marah karena Alvi lebih mementingkan pekerjaan di banding dirinya, Alana menonaktifkan ponselnya juga berpesan pada bi Ratih agar tidak menjawab telfon rumah jika seseorang menelfon. Gadis itu masih menangis di dalam kamarnya hingga terlelap di kaki ranjang.
Jam dua dini hari ia terbangun kala merasakan pinggang juga perutnya terasa sakit, mungkin karena duduk terlalu lama. Ia merangkak naik ke tempat tidur, meluruskan kakinya agar terasa nyaman.
Menjelang pagi, rasa sakit di pinggang bagian belakangnya belum juga reda, Alana memutuskan akan kerumah sakit untuk periksa, takut terjadi sesuatu pada rahimnya.
"Bi, kalau ada yang nyari aku bilang lagi tidur ya." perintah Alana, setelahnya berlalu pergi. Takut akan ngantuk di tengah jalan, Alana memutuskan naik taksi kerumah sakit.
Gadis itu mengatakan semua keluhannya akhir-kahir ini, mulai dari rasa ngantuk, cepat lelah, saki pinggang dan beberapa keluhan lainnya. Gadis itu mengernyit kala dirinya di beri benda tipis persegi panjang berwarna biru putih.
"Ini apa Dokter?" tanya Alana.
Saat Alana akan menutup pintu ia kembali bertanya pada dokter karena tak mengerti cara memakai benda di tangannya.
"Cara pakainya gimana Dok?"
"Anda belum pernah memakai benda seperti ini?"
"Belum, Dok."
__ADS_1
Doktet tersebut mengambil tespek di tangan Alana lalu menyerahkan tempat urine pada gadis itu. Menyuruh Alana agar menampung urinenya untuk di serahkan padanya.
Dengan malu-malu dan tak enak hati, Alana menyerahkan urinenya pada sang dokter. Ia harap-harap cemas menanti jawaban dokter di hadapannya, ia memang tidak tahu cara memakai tespek itu, tapi ia tahu kegunaan benda itu.
Dokter di hadapannya tersenyum, lalu menyerahkan benda tipis itu pada Alana. "Benar dugaan saya Nona, anda sepertinya sedang mengandung. Lebih jelasnya saya akan melakukan USG," ujar dokter itu.
Deg
Jantung Alana berdetak tak karuan, kalimat ini sudah ia nanti selama empat tahun dan baru kali ini ia mendegarnya keluar dari mulut dokter. Tanpa banyak tanya ia menuruti semua perkataan dokter kandungan itu. Membaringkan dirinya di brangkar, menunggu sang dokter mengoleskan gel yang terasa dingin di perutnya. Ikut memperhatikan layar yang di tunjuk oleh dokter.
Walau tak mengerti sama sekali dengan gambar yang di tampilkan, Alana tetap fokus sembari mendengerkan penjelasan dari dokter.
"Janinnya baik-baik saja Nona. Kisaran usianya kurang lebih 5 minggu. Sebaiknya anda tidak terlalu lelah atau banyak gerak. Karena pada trimester pertama kandungan masih lemah dan rentang keguguran. Perbanyak makan, makan yang bergizi juga minum susu ibu hamil."
"Dokter, jenis kelamin anak saya apa?"
Dokter cantik tersebut tertawa kecil mendengar pertanyaan Alana.
"Untuk sekarang belum di ketahui Nona. Jenis kelamin janin akan diketahui ketika berusia 12 minggu keatas."
Setelah bertanya banyak hal tentang kehamilan, juga di beri obat oleh dokter, barulah gadis berambut indah itu undur diri.
Senyum di bibirnya tak pernah surut sepanjang menyusuri koridor rumah sakit, tak henti-hentinya ia mengelus perut rata itu. Bahkan ia sangat berhati-hati saat berjalan tak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa komen, like, dan Vote.