
Arga yang merindukan sosok seorang ibu tak henti-hentinya mengganggu Alana, bahkan Alvi sampai kewalahan menjaganya. Arga sedari tadi minta di gendong oleh Alana.
"Mommy, gendong Alga," pinta Arga entah untuk kesekian kalinya.
Tak melihat Alvi di sekitarnya, Alana menuruti keinginan anak mengemaskan tiga tahun itu, meraih tubuh Arga lalu mengendongnya. Benar saja, Arga sangat berat seperti apa yang di katakan Alvi.
"Yey ... Alga di gendong Mommy," sorak Arga kegirangan, meronta-ronta dalam gendongan Alana. "Alga sayang Mommy," Mengecup pipi Alana yang semakin hari semakin cubi.
"Mommy juga sayang Arga," balas Alana ikut mencium pipi cubi Arga, ia berjalan memasuki rumah, belum terlalu dalam melangkah suara Alvi mengelegar.
"Alana, ya ampun sayang, udah Aa bilang Arga jangan di gendong, gimana kalau kamu jatuh," Omel Alvi berjalan semakin cepat mendekati dua menusia berbeda generasi yang sangat ia cintai.
Alvi mengambil alih Arga, lalu memapah Alana duduk di sofa ruang tamu.
"Apaansih, aku bukan orang sakit," Menyingkirkan tangan Alvi di punggungnya.
"Kamu memang nggak sakit, tapi kamu nggak boleh terlalu lelah, sayang," jawab Alvi ikut duduk di samping Alana.
Alana tak menyahut, dalam hati ia terus mengerutu. Jangan mengira Alana sudah melupakan kebohongan Alvi. Hatinya masih sangat sakit, lukanya masih basah dan mungkin akan sulit untuk kering dalam waktu dekat. Ia memutuskan tinggal di rumah ini hanya kerena tubuhnya yang selalu merindukan sentuhan Alvi. Ia juga tak ingin menyusahkan ayah Kevin dengan keinginan-keinginan anehnya saat tengah malam. Biarkan Alvi yang merasakannya sendiri.
Makan siang tiba, mereka makan layaknya keluarga kecil yang bahagia, Arga duduk di samping Alana. Dengan telaten perempuan berbadan dua itu menyuapi Arga sampai lupa dengan makanannya sendiri. Rasanya sangat bahagia melihat Arga makan dengan lahap.
Untung saja ada Arga yang bisa mengalihkan pikirannya. Dirinya tak masalah Alvi mengadopsi anak sebanyak apapun, tapi yang membuatnya kecewa karena Alvi tidak jujur padanya.
"Tambah lagi sayang?" tawar Alana mengusap sudut bibir Arga.
__ADS_1
"Al, makan juga sayang!" perintah Alvi.
Alvi meminta Alana untuk makan dengan lahap, tapi dirinya saja hanya makan beberapa suap. Beberapa hari ini nafsu makannya hilang, apa-apa terasa hambar di mulutnya.
Berbeda dengan Alana yang semakin hari porsi makannya semakin banyak, tak masalah makanan apapun itu. Yang penting tidak ada campuran bawang merah.
Usai makan siang bersama, Arga dan Alana melanjutkan acara nontonya di ruang keluarga, kini keduanya tak lagi duduk di sofa, melainkan duduk di karpet bulu. Arga merangkak naik ke pangkuan Alana, lalu duduk bersandar di dada gadis itu. Entahlah tetapi Arga sangat suka berada di dekat Alana. Perlakuan gadis itu yang penuh cinta membuat Arga cepat mengakrabkan diri, apa lagi anak laki-laki itu sering mendengar Alvi mendongeng tentang Alana sebelum tidur.
Lagi dan lagi perusuh datang dan langsung mengambil alih Arga di pangkuan Alana.
"Arga, Daddy udah bilang jangan mau di gendong sama Mommy, apa lagi duduk di pangkuan mommy," ujar Alvi.
"Napa Daddy?" tanya Arga menatap Alvi dengan polosnya.
Alana tersentak saat Alvi tiba-tiba mengelus perut ratanya, jujurnya saja itu terasa sangat nyaman, sampai Alana tak rela jika tangan itu berpindah.
Arga mengangguk antusias terus memandangi perut Alana.
"Dedek Alga mana?"
"Di sini." Masih mengelus perut Alana, bahkan si empunya mengambil posisi yang nyaman agar bisa menikmati elusan Alvi.
"Di pelut, Mommy?"
Alvi menggangguk.
__ADS_1
"Mommy makan dedek Alga?" tanya Arga dengan polosnya, berhasil membuat Alvi mati kutu dan tak tahu harus mengatakan apa.
Alana jangan di tanya, gadis itu sedari tadi mulai cekikikan sendiri melihat interaksi dua manusia berbeda dari segi apapun. Arga si aktif dan cerewet di pertemukan dengan Alvi yang kaku, perpaduan yang sangat sempurna.
"Alana, bantu Aa," pinta Alvi.
Alana hanya mengedikkan bahu, kembali pura-pura fokus pada layar lebar di depannya.
"Daddy, kenapa dedek Alga ada di pelut mommy? kok bisa dedek Alga masuk situ?" Arga terus memberondongi Alvi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa Alvi jelaskan. Takut jika ia menjelaskan secara menteri dan penelitian, Arga malah semakin bingung dan otak suci Arga tekontaminasi.
"Alga mau liat dedek, Daddy," rengek Arga.
Alvi menelan salivanya kasar, harus bagaimana lagi ia meladeni Arga. Tangan yang sedari tadi mengelus perut istrinya berhenti saking seriusnya memikirkan kata-kata yang pas untuk Arga.
"Daddy aja belum jengukin," runtuk Alvi dalam hati.
"Kok berhenti," protes Alana.
"Daddy!"
"Wakturnya tidur siang, Arga dan Mommy tidur dulu." Alvi mengalihkan.
"Tapi Alga ...."
"Sini sayang, tidur sama Mommy." Alana menepuk tempat di sampingnya setelah tidur di atas karpet, rasa kantuk mulai menyerangnya. "Aa tetap di situ elus perut aku!" perintah Alana tak terbantahkan.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa komen, vote dan like. Mampir juga di cerita baru dedek "Cinta dan Masa Lalu"