Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 82


__ADS_3

Bi Neneg yang tengah sibuk di dapur tersentak kala mendapati Alvi berdiri tak jauh darinya, wanita paruh baya itu menunduk ketika melihat tatapan tak biasa tuannya.


"Tu...tuan."


"Saya sudah pernah bilang, jangan stok bahan apapun yang berbau pedas di rumah ini," ujar Alvi dingin.


"Maaf Tuan." bi Neneng semakin menunduk ketakutan. "Saya sudah melarang neng Alana, tapi neng Alana sendiri keluar beli."


"Jangan karena istri saya baik sama kamu. Kamu jadi seenaknya seperti ini, ingat status kamu di rumah ini cuma sebagai pembantu, jadi bisa tahu batasan kan? jangan panggil istrinya saya dengan sebutan Neng, dia bukan anak kamu, dia itu nyonya di rumah ini." suara Alvi naik satu oktaf.


Rasanya lelaki itu tak bisa mengendalikan emosinya melihat bahan-bahan makanan yang ia larang ada di dapur, apa lagi cabai adalah penyebab Alana sakit perut tadi.


Bahkan selama mereka menikah, Alvi sangat jarang memakan makanan pedas apa lagi sedang bersama Alana.


Bi Neneng semakin menunduk mendegar perkataan Alvi tadi. Ya harusnya dia tidak melupakan batasanya sebagai seroang pembantu di rumah ini hanya karena Alana baik padanya. Namun, perkataan itu kenapa sangat menusuk di relung hatinya? bi Neneg hanya bisa terdiam mendengar hinaan Alvi.


"Satu lagi, kamu seharusnya...."


"Ada apasih? kok Aa ngomelin bi Neneng?" tanya Alana yang barus saja datang.


"Nggak papa, ayo!" menarik tangan Alana, namun gadis itu melepasnya, lalu berjalan ke arah bi Neneng yang masih menunduk.


Gadis itu mengelus kedua pundak bi Neneng, sembari memberikan senyumnya.


"Aku mewakili Aa, minta maaf sama bibi, jangan di masukin di hati ya perkataan Aa tadi, hari ini dia emang agak sensitif."


"Tidak apa-apa Nyonya."


"Is ngapain manggil nyonya, berasa tua banget ih, manggil neng aja kayak biasa Bi." protes Alana.


"Sudah seharusnya Nya, nyonya kan majikan saya."


Alana menghelas nafas panjang, jangan kira ia tidak mendengar makian Alvi tadi. Gadis itu berjalan, melewati Alvi begitu saja, kembali masuk ke dalam kamarnya, menyibukkan diri dengan ponselnya disofa.


"Liatin apa, Hm?" tanya Alvi yang ikut masuk ke kamar, kini lelaki itu memeluk istrinya dari samping. Menumpukan dagunya pada pundak Alana.


Alana tak menyahut, gadis itu masih sibuk dengan ponselnya, melihat-lihat status Idolnya di sosial media.


"Sayang." rengek Alvi.


"Apaan sih, nggak usah manja. Tadi aja masih bisa ngomel-ngomel sama orang lain, sampai ngebandigin status segala. Aa kira Aa sudah lebih baik gitu?"


"Aa tadi kelepasan..."


"Aa tadi khilaf, maafin Aa, janji nggak gitu lagi." potong Alana melanjutkan kalimat Alvi.


"Mentang-mentang banyak uang, bisa mempekerjakan orang banyak, bisa seenaknya gitu. Ingat, semuanya hanya titipin A, kita itu sama saja di mata Allah. Apa lagi Bi Neneng itu lebih tua dari Aa, Aa harusnya lebih menghormati."


"Bi Neneng juga punya hati, punya perasaan, Aa tau gimana perasaan seseorang jika di hina soal status dan derajat? sakit banget Aa." Ceramah Alana panjang lebar, gadis itu tak pernah merasakan sakitnya di rendahkan, namun hatinya ikut sakit melihat orang tua di maki seperti itu.


"Di sini yang salah Aku, bi Neneng sudah ngelarang tapi aku nekat keluar beli cabai dan lainnya, lalu meminta Bi Neneng memasak semuanya. Kenapa nggak marahin aku aja? nggak tega? takut aku nangis? kasian? sama aja Aa, lebih sakit kalau Aa marahin orang hanya karena kesalahan aku, padahal Aa tahu sendiri di sini yang salah siapa."

__ADS_1


"Aa nggak bisa marah sama kamu."


"Nyenyenyenye."


"Alana." rengek Alvi semakin erat memeluk gadisnya, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. "Udah marahnya, Aa udah minta maaf."


"Gerah Aa." berusaha melepaskan pelukan Alvi.


"Nggak mau." Alvi mengeleng, merengek seperti anak kecil yang takut di tinggal ibunya.


Alana menghela nafas panjang, susah payah meraih laptop di atas meja karena pelukan Alvi. Ia seperti mempunyai baby jika Alvi sedang kumat seperti sekarang, manjanya tidak ketulungan melebihi anak kecil.


Gadis itu menatap penuh selidik, ketika mendengar nada notifikasi pesan dari ponsel Alvi, apa lagi lelaki itu senyum-senyum sendiri.


"Siapa?"


"Hendri," sahut Alvi masih fokus membalas pesan yang masuk di ponselnya.


"Hendri, apa Hendri? jangan-jangan kak Hendri jadi-jadian." tuduh Alana.


Alvi tak menyahut membuat Alana semakin kesal, jangan sampai suaminya ke cantol ulat bulu di luar sana. Jadi janda muda tak ada dalam daftar hidupnya.


"Siniin Hp nya." merebut ponsel Alvi.


"Alana, Aa belum ... Iya, iya." pasrah Alvi ketika melihat tatapan maut Alana. Ternyata istri kecilnya lebih posesif dari yang ia kira.


Lelaki itu mengecup pipi mengembung istrinya, memantau apa saja yang di lakukan Alana pada benda pipihnya.


Alvi sontak mengeleng katika Alana menatapnya.


Tak percaya dengan Alvi, Alana dengan sigap menelfon pemilik nomor tersebut.


"Halo Pak, ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara seorang pria dari seberang telfon.


"Kak Hendri?" Alana.


"No...nona..." gugup Hendri, takut Alvi mengulitinya hidup-hidup jika bicara dengan Alana.


"Bekerjalah dengan baik kak Hendri." setelah mengatakan itu Alana menutup sambungan telfonnya.


Kini wajahnya memerah menahan malu, karena cemburu tanpa sebab, apa lagi ketika Alvi menatapnya dengan alis terangkat sembari mengulum senyum.


"Jangan ketawa ih" mencubit perut Alvi.


Bukannya nurut, Alvi malah tertawa sepuas mungkin, menguyel-uyel pipi gadisnya yang memerah. "Aa nggak bakal selingkuh."


"Udah Aa aku malu." lirih Alana menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvi.


"Udah sehat? kepala sama perut kamu nggak sakit lagi?"


"Sehat dong."

__ADS_1


"Kalau gitu siap-siap kita jalan-jalan sore."


"Beneran?" mata Alana berbinar mendengar kata jalan-jalan, tumben banget Alvi mengajaknya.


"Iya sayang."


Cup


Alana mengecup sudut bibir Alvi. "Sayang Aa banyak-banyak." Berlari masuk ke kamar mandi, membersihkan diri lalu bersiap-siap sesuai perintah Alvi.


Ia mematut dirinya di depan cermin, memperbaiki bando bunga-bunga di atas kepalanya, hari ini ia bepenampilan sangat cute.


"Ya ampun Al, nggak nyangka lo sencantik ini." ucapnya pada diri sendiri.



Gadis itu mendengus kesal, ketika mendengar teriakan Alvi.


"Alana topi sama kaca mata Aa mana?"


"Di laci Aa," sahut Alana.


"Mana nggak ada."


"Ada sayang." gemes Alana menghampiri Alvi yang kini tengah berkacak pinggang di depan lemari.


Selalu saja Alvi tak pernah menemukan barang-barangnya sendiri, mau berangkat kerja, Dasi, sapu tangan, bahkan sepatu harus dirinya yang siapkan.


"Minggir." Mendorong tubuh Alvi, kemudian mengeledah lemari lelaki itu, membuka laci kemudian mengambil kaca mata hitam dan topi hitam yang baru saja ia beli untuk Alvi. "Ini apa Aa?"


"Nggak ada tadi."


"Nggik idi tidi." cibir Alana memasangkan topi dan juga kaca mata pada Alvi. "Tampan banget suami aku."



"Aa memang tampan." Memperbaiki bando Alana yang sedikit miring, kemudian mengengam tangan mungil gadisnya. "Ayo."


"Go!" sorak Alana bergelayut manja di lengan Alvi.


"Aa kalau aku ajak Disya boleh nggak?" tanyanya ketika melihat gadis mengemaskan anak Arka si duda tampan tengah bermain di halaman depan rumahnya.


"Boleh, tapi jangan ajak Arka."


"Ya kali aku ngajak kak Arka, Aa, belum tentu juga dia mau jadi obat nyamuk."


...TBC...


Hayo taukan hari ini hari apa? yaps betul banget, hari ini hari senin, vote readers kesayangan Dedek pasti masih aman, jangan lupa lempar ya🤭.


Sambil nunggu Aa up kalian boleh banget mampir di novel kakak online aku

__ADS_1



__ADS_2