Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra Part 14


__ADS_3

Mendapat telfon dari Rayhan bahwa Alana jatuh ke kolam dan tidak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang, Alvi membatalkan semua pertemuan penting hari ini. Melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata menuju rumah sakit. Jantungnya sedari tadi berdetak tak karuan takut terjadi sesuatu pada istri dan kedua anaknya.


Mengalami macet berkepanjangan, membuat Alvi sangat emosi, rasanya ia ingin menghajar semua orang di sekitarnya. Kurang lebih satu jam ia menempuh perjalan karena macet, padahal rumah sakit dan kantornya tidak terlau jauh. Memarkirkan mobilnya begitu saja lalu berlari menuju ruang rawat Alana.


Tanpa menyapa siapapun di depan pintu, Alvi menerobos masuk begitu saja lalu langsung memeluk tubuh istrinya.


"Aku nggak papa Aa, cebong juga baik-baik aja," Membalas pelukan Alvi.


Keluarga Alana pamit satu persatu setelah memastikan ponakan kesayangan mereka baik-baik saja dan tidak ada cedera serius. Mama Rayhan yang kebetulan menangani Alana mengatakan, bumil itu hanya shok.


Bunda Anin dan Ayah Kevin juga pulang membawa Arga walau bocil itu terus menangis ingin bersama Mommynya. Mereka memberi waktu Alvi dan Alana berdua saja.


Alana hanya menggangguk saat Bunda Anin menepuk pundakya, sementara Alvi masih diam memeluk istrinya tak mengeluarkan sepatah katapun.


Baju pasien Alana basah berbarengan suara isakan lelaki itu mulai terdengar, pertanda Alvi sedang menangis dalam pelukannya.


"Sayang, aku nggak papa, udah jangan nangis, nggak malu sama cebong," canda Alana tanpa tahu bagaimana khawatirnya Alvi.


"Aa janji nggak bakal ninggalin kalian lagi tanpa pengawasan yang ketat. Maaf karena teledor menjaga kalian," lirih Alvi.


"Bukan Aa yang salah, tapi kolamnya, napa juga harus ada di sana," balas Alana dengan candaan.

__ADS_1


Senyuman di bibir Alana pudar melihat tatapan tajam Alvi. Selama hamil baru kali ini Alvi menatapnya seperti itu.


"Iya maaf aku salah. Aku ceroboh nggak berfikir dulu sebelum bertindak. Aku takut Arga kenapa-napa," lirih Alana menunduk.


"Istirahatlah," perintah Alvi bangkit dari duduknya.


"Mau kemana?"


"Dokter kandungan," jawab Alvi.


Laki-laki itu ingin memastikan kondisi kedua anak juga istrinya. Dari yang pernah ia dengar, air kolam sangat beresiko pada ibu hamil karena mengandung zat-zat kimia. Takut pertumbuhan anaknya di dalam sana terganggu.


Alvi banyak diam, mengajak Alana berbicara saat gadis itu memerlukan sesuatu saja, atau menyuruh makan. Bukan karena marah pada Alana, melainkan marah pada dirinya sendiri karena tidak becus menjadi ayah dan suami yang siaga.


"Aku mau cerita sama Arga!" pinta Alana.


"Udah tengah malam Al, sebaiknya kamu tidur," tegur Alvi.


"Peluk!" ujar Alana merentangkan tangannya tetapi Alvi hanya menatapnya datar membuat bumil itu menghentikan tingkahnya. Tidur membelakangi Alvi.


Alvi merangkak naik ke tempat tidur, menutupi tubuh Alana dengan selimut.

__ADS_1


"Sini peluk suami kamu," ujar Alvi menelesupkan tangannya diantara bantal dan leher Alana.


Menarik bumil itu kedalam pelukannya menyembunyikan wajah Alana di ceruk lehernya.


"Jangan marah Aa, aku takut," lirih Alana hingga hembusan nafas menerpa permukaan kulit Alvi.


"Aa nggak marah, itu respon Alami dari Aa saat merasa ketakutan atau khawatir dengan sesuatu." jelas Alvi.


"Aku janji bakal lebih hati-hati lagi."


"Tidurlah, besok kita pulang kerumah bunda."


"Kok rumah bunda?"


"Biar lebih aman."


Sebenarnya bukan itu tujuan utama Alvi. Tetapi ia ingin memberi pelajaran pada semua penghuni rumahnya. Jika dulu ia merenovasi tangga di rumahnya karena Alana terjatuh di sana, maka sekarang ia akan menjual rumah itu.


...****************...


Jangan lupa komen, vote dan Like. Mampir juga di cerita baru dedek "Cinta dan masa Lalu"

__ADS_1


__ADS_2