Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 58


__ADS_3

Bangun tidur bukannya mandi, lelaki berbadan tegap itu malah senyum-senyum sendiri di pinggir ranjang. Salting, itulah yang dirasakan Alvi, hanya karena kertas selembar di atas meja.


Kertas yang sengaja Alana tinggalkan untuk sang suami sebelum berangkat ke sekolah.


Dear suamiku


Aku pamit dulu ya A, jangan lupa makan, ingat nggak boleh minum kopi di pagi hari, mandi biar wangi, Aa bau.


Love you


^^^Alana cantik istri Aa tampan^^^


Senyum lelaki itu semakin lebar melihat pesan terakhir Alana.


Di sampaikan kepada CEO Anggara Grup, sekiranya tidak masuk kerja hari ini dan di peruntukkan istirahat di rumah. Jika CEO Anggara Grup melanggar perintah, maka jabatan akan di turunkan tanpa peringatan.


^^^Alana Seizha Kevindra Adhitama, pemegang saham terbesar Anggara Grup.^^^


Jika saja gadis berambut indah tersebut ada di sampingnya, mungkin sekarang Alvi sudah menerkamnya habis-habisan saking gemesnya.


Sekarang ia benar-benar kalah telak dengan Alana, gadis itu berhasil membuatnya bertekuk lutut, dan sekarang gadis itu menjadi pemegang saham terbesar Anggara Grup setelah dirinya. Ia hanya memiliki 25% sementara istrinya memiliki 30%.


Alvi meraih ponselnya di atas nakas, mendial no gadis cantik yang berhasil memikat hatinya, sambungan pertama langsung terhubung, memperdengarkan suara yang begitu candu untuknya.


"Assalamualaikum aa sayang, Aa dah bangun, udah sarapan? nggak minum kopi kan?" Cerewet Alana di seberang sana.


"Waalaikumsalam." Jawab Alvi tak berniat menjawab pertanyaan yang lainnya. "Bentar lagi pulang sekolah kan? Aa bakal jemput jangan kemana-mana!" Titahnya.


"Assiap kapten.....auw!"


Brugh


Pletak


"Alana! kamu dengar Aa kan? kamu di mana? Al jawab Aa, kamu baik-baik saja kan!"


Suara rintihan dan ke gaduhan di seberang sana membuat Alvi panik seketika, ia melempar benda pipihnya ke atas ranjang, berlari masuk kedalam kamar mandi, hanya membasuh wajah dan sikat gigi, setelah itu menyambar kunci mobil dan juga cardigan.


Sepanjang jalan, Alvi terus menelepon Alana, namun no gadis itu tidak aktif lagi.


Shi*it!! Umpat Alvi, menancap gas, membawa mobil sport birunya membelah jalan raya dengan kecepatan di atas rata-rata.


***


"Maaf...maaf gue nggak sengaja," ujar salah satu siswi yang menabrak tubuh Alana.


Acell membantu Alana berdiri, mengambil ponsel gadis itu.


"Nggak papa santai aja," ujar Alana walau pinggangnya sedikit sakit.


"Beneran nggak papa?"

__ADS_1


"Iya, nggak papa, mending lo cabut sekarang sebelum anggota Avegas liat." Perintah Alana ketika melihat Anggota Inti di ujung koridor berjalan ke arahnya.


Takut akan perkataan Alana, Acel ngacir begitu saja meninggalkan gadis yang di tabraknya, di matanya Avegas sangatlah menyeramkan.


"Hay cogan-cogan?" sapa Alana.


"Hay Cecan." Balas Rayhan mengedipkab sebelah matanya.


"Belum pulang?" tanya Keenan.


"Nunggu pak Alvi jemput."


Alana senyum kikuk melihat tatapan menyelidik dua cowok cuek di depannya. Ia mengaruk tengekuknya, sepertinya sebentar lagi ia akan di interogasi.


"Gue duluan," ujarnya cepat hendak melangkah namum tangan mungilnya di tarik oleh Samuel.


"Lo sakit? pucat gitu?" tanya Samuel.


"Ngapain jalan bungkuk gitu Al? lo habis jatuh?" selidik Azka.


"Nggak!" tegas Alana.


"Kita kerumah sakit!" Samuel menarik tangan Alana ke parkiran, ia tidak suka jika wajah imut sapupunya pucat seperti ini.


"Iya...iya gue bakal kerumah sakit tapi sama pak Alvi. Itu dia udah datang." Tunjuk Alana pada mobil sport biru baru saja masuk ke gerbang tinggi SMA Angkasa. Akhirnya penyelamatnya datang, ia lebih baik pergi bersama pak Alvi jika harus pergi bersama Azka dan Samuel, kedua cowok itu sangat pemaksa.


"Dah cogan-cogan." Alana melambaikan tangannya, berlari menghampiri mobil Alvi yang terbilang jauh dari parkiran motor.


Tubuh mungil itu kini berada dalam dekapan Alvi, lelaki itu menciumi puncuk kepala gadisnya berkali-kali tanpa memperdulikan tempat di sekitarnya, ia sangat khawatir, sepanjang jalan di selimuti rasa takut terjadi apa-apa dengan gadisnya.


Kapala yang tadinya bersembunyi di dada bidang Alvi perlahan-lahan mendongak, menatap mata elang lelaki itu. "Aa kenapa? aneh deh." Heran Alana.


Cup


"Aa, malu di liatin orang."


"Kamu nggak papa kan? kamu jatuh? ada yang sakit? kita kerumah sakit ya." Alvi tak memperdulikan ucapan Alana, sibuk sendiri dengan pikirannya.


"Jantung aku Aa." Ringis Alana memegangi jantungnya.


"Jantung kamu kenapa?"


"Jedak jedug kalau liat Aa, jiah." Alana ngacir, masul ke mobil.


Alana terus mengulum senyum, memerhatikan suaminya yang kini mulai membanting setir kemudi keluar dari lingkungan SMA Angkasa.


"Salim dulu dong."


Alvi hanya mengulurkan tangan kananya tanpa melirik Alana.


"Ngambek lagi pasti," cibir Alana. "Padahal cuma bercanda doang."

__ADS_1


"Jangan bercanda tentang kesehatan Aa nggak suka!"


"Iya...iya, nggak lagi."


Tangan mungil itu meraih tangan kiri Alvi, menyatukan jari jemari mereka. Menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu. Belakangan ini ia ingin terus berada di dekat Alvi walau kadang emosi atau rasa mula tiba-tiba muncul jika dekat dengan lelaki itu.


"Berangkat bareng siapa tadi?"


"Ken."


"Beneran nggak ada yang sakit? ponsel kamu kenapa nggak aktif?"


"Cuma pinggang aku sedikit sakit kerena kebentur tadi Aa, untung baby aku nggak kenapa-napa." Alana mengulum senyum sembari mengelus perut ratanya. "Ponsel Aku rusak nggak bisa nyala, sebelum pulang beli ponsel dulu ya."


Alana mengernyit ketika Alvi menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lelaki itu kini menatap gadisnya dengan tatapan serius.


"Serius kamu hamil?"


Gadis itu tertawa mendengar pertanyaan Alvi, jadi lelaki itu berhenti hanya menanggapi candaan recehnya?


"Bercanda doang Aa, serius amat."


***


Alana, gadis itu menggigit bibir bawahnya memikirkan kata-kata bunda nya tadi, apa benar Alvi kecewa padanya. Sejak pembahasan hamil tadi siang, Alvi lebih banyak diam, dan menghabiskan waktunya di ruang kerja.


Perlahan-lahan ia mengganti posisi tidurnya, dari membelakangi Alvi kini ia menghadap lelaki itu, menatap dalam-dalam wajah tampan suaminya yang kini telelap sembari memeluknya.


Ia mengelus pipi Alvi, membuat lelaki itu membuka matanya.


"Kenapa, Hm?" tanya Alvi, mengengam tangan mungil yang kini menempel pada pipinya. Mengecup jari-jari lentik di mana salah satunya tersemat cincin pernikahan mereka.


"Maaf." lirih Alana dengan mata berkaca-kaca, terus menatap mata elang Alvi.


"Untuk?"


"Bercanda aku keterlalun tadi, nggak seharusnya aku ngomong gitu."


"Jangan nangis, Aa nggak suka." Alvi tak mengubris perkataan Alana, ia malah menghapus air mata yang membasihi pipi mulus istrinya.


"Aku nggak mau punya anak bukan berarti aku nggak cinta sama Aa. Jujur karena alasan itu aku nggak mau hamil A, aku takut Aa akan berpaling dan lebih cinta sama anak Aa kelak."


Alvi senyum tipis, semakin erat memeluk pinggang Alana, mendekap kepala gadis itu, menyembunyikannya di dada bidangnya.


"Itu nggak akan terjadi Al, kamu akan menjadi satu-satunya buat Aa."


...TBC...



Besok hari Senin jangan lupa lempar Vote biar author makin semangat💪hadiah juga boleh.

__ADS_1


__ADS_2