
Alana duduk termenung di tempatnya mendengar jawaban Alvi, baru kali ini Alvi berkata ketus seperti itu padanya. Ia menyesali perbuatannya yang terlalu kekanak-kanakan tanpa memikirkan resiko dan perasaan orang lain.
Pandangannya kosong, mengigit jari-jari tangannya sampai tak menyadari kehadiran Alvi di dalam kamar. Suara vas pecah berhasil mengembalikan kesadaran Alana, gadis itu berdiri dan mendapati Alvi di ambang pintu dengan pecahan vas bunga berserakan di hadapannya. Vas kesayangan yang sengaja ia simpan di meja dekat pintu kamar.
Kaki Alana gemetar melihat tatapan tajam Alvi, lidahnya keluh hanya untuk mengeluarkan sepatah kata, meremas jari-jari tangannya yang terasa dingin. Alana tahu kesalahannya sangat fatal.
Matanya perlahan terpejam saat Alvi semakin dekat padanya, bersiap menerima hukuman apa saja dari lelaki itu. Tubuhnya tersentak kala merasakan pelukan begitu hangat di tubuhnya, juga usapan lembut di punggun.
"Maaf," lirih Alana dengan suara bergetar ketakutan. "Aa boleh mukul aku, aku nggak bakal nangis, janji," pinta Alana masih dengan suara yang sama.
"Bagaimana bisa Aa mukul kamu, hm?" melerai pelukannya, lalu menghapus air mata Alana dengan ibu jarinya. "Aa rela kehilangan apapun daripada harus mukul kamu. Nilai bisa di rangkum kembali, tapi kalau Aa mukul kamu, penyesalan seumur hidup akan Aa rasakan."
"Tapi aku udah kelewatan, sering bertingkah tanpa tahu akibatnya."
"Jangan di ulangi lagi!"
"Iya Aa, aku janji."
Alvi kembali menenangkan istrinya yang terus terisak.
"Tadi mau nonton drakor kan? sini Aa temenin." Membimbing Alana duduk di sofa, mengambil laptop gadis itu lalu menyalakannya. Megurai rambut Alana lalu menyampirkannya kebelakang telinga terakhir ia mengecup pipi gadisnya.
"Jangan nangis lagi sayang."
Alana mengangguk.
"Aa lanjutin kerja aja, aku mau beresin vas nya dulu."
__ADS_1
***
Bosan di rumah mulu, Alana memutuskan mencari hiburan bersama Salsa, mereka janjian akan pergi ke Mall dan belanja banyak hal. Kali ia tidak lagi menolak tawaran sopir pribadi Alvi untuk mengantarnya kemanapun, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Lama tak bertemu membuat kedua gadis remaja itu hebo sendiri saat bertemu, berpelukan ala teletabis sebelum masuk ke pusat perbelanjaan lumayan terkenal di kota itu. Tujuan pertama mereka tentu saja makan, setelahnya baru jalan-jalan mengelilingi Mall.
Alana menghentikan acara makannya ketika benda pipih di dalam tasnya berdering, ia tersenyum melihat siapa penefon itu.
"Siapa?" kepo Salsa.
"Miss Tania," jawab Alana sembari mengeser ikon hijau di layar ponselnya.
"Iya miss," sahut Alana setelah menjawab telfonnya.
"...."
Mata Alana berbinar mendengar jawaban Miss Tania.
"...."
"Sip, saya tunggu."
Memutuskan sambungan telfon, lalu melanjutkan makannya. Salsa yang kepo tingkat dewa kembali bertanya siapa itu Miss Tania kenapa Alana begitu senang.
"Miss Tania siapa?"
"Temannya pak Dirga, dia baru pulang dari Jerman dan katanya ingin ketemu hari ini sekalian keliling kota." Alana menyesap jus sebelum melanjutkan kalimatnya. "Asik banget orangnya, ntar aku kenalin." Antusiasnya.
__ADS_1
Lama keduanya menunggu hingga seseorang memanggil nama Alana. Wanita cantik berambut sebahu yang sangat cantik idaman semua pria tengah ternyum ke arahnya.
"Alana kan?" tanya wanita cantik seumuran pak Alvi.
"Iya kak..." Alana menyipitkan matanya seperti mengenali sosok wanita cantik itu. "Miss Tania?"
"Hm."
"Daebak cantik banget." heboh Alana.
Bukan hanya Alana, Salsa saja sebagai seorang perempuan memuji kecantikan Miss Tania, fisik hampir mendekati sempurna apa lagi ketika tersenyum.
Siapa sangka sosok cantik dan berwibawa itu sangat mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan kedua remaja bar-bar modelan Alana. Mereka menghabiskan waktu mengelilingi Mall, mencoba beberapa permainan yang menyenangkan hingga tak sadar hari mulai gelap.
Salsa dan Miss Tania pulang lebih dulu, sementara Alana duduk di dalam cafe menunggu sang suami untuk menjemputnya. Alana tersenyum melihat Alvi menghampirinya.
"Banyak banget belanjaan aku ya A?" cengir Alana mengekor di belakang Alvi yang kini menenteng banyak paper bag.
"Kurang."
"Hilih kurang," gumam Alana.
Sepanjang jalan Alana menceritakan kegiatannya hari ini bersama miss Tania dan Alvi hanya menyahut seperlunya saja fokus menyetir.
...TBC...
Jangan lupa komen, vote, dan like, biar dedek makin semangat crazy up🤗
__ADS_1
Mampir juga di novel kakak dedek yuk.