Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 24


__ADS_3

Menurunkan Ego yang menjunjung tinggi dalam dirinya adalah salah satu solusi terbaik agar kakek Farhan berhenti menganggunya.


Bagaimana tidak, kakek tua itu terus-terusan menuntutnya agar menghubungi Alana dan memintanya kerumah sakit, dan itu sangat melukai harga dirinya. Tak pernah bertegur sapa selama hampir dua minggu, tiba-tiba menelfon dan menyuruhnya datang kerumah sakit? bukankah itu terlalu kelewatan bagi orang asing sepertinya?


Dan sekarang dia tengah melakukannya, menelepon muridnya itu tanpa tahu malu. Dan dering pertama langsung di jawab oleh Alana.


"Halo? dengan siapa?" tanya gadis di seberang sana.


Hening, lidahnya terasa kelu hanya untuk mengatakan sesuatu.


"Halo..."


"Alana." panggilnya.


Hening, tak ada sahutan dari sana padahal panggilan masih terhubung.


"Saya pak Alvi."


"Oh pak Alvi...kenapa pak?"


"Kekek Farhan terus..."


"Ah ya ampun Saya lupa pak, saya kesana sekarang."


Tut.


Dia menghampiri Kakek Farhan yang berbaring di atas brangkar. "Alana udah kesini." infonya.


"Kenapa masih disini? sana tunggu di lobi!" perintah kakek Farhan mendorong lengannya yang hendak duduk di samping brangkar.


Disini yang cucunya siapa? sepertinya dia hanya pengawal di mata Kakek Farhan, terbukti dia harus memastikan tuan putri selamat sampai di ruang rawat Raja nya. Sungguh menyebalkan pikirnya.


Menunggu adalah hal yang membosangkan, seperti saat ini, berkali-kali dia melirik arloji di pergelangan tangannya, namun tak ada tanda-tanda kedatangan gadis yang di tunggunya.


Baru saja akan pergi, dia melihat Alana turun dari Taksi lalu menghampirinya tentu saja dengan senyuman yang tak pernah lepas di wajah cantik itu.


Cantik?


Apakah sekarang dia mengakui Alana cantik? entahlah semakin di lihat, dia meresa gadis itu semakin cantik.


"Hay pak Alvi." sapanya.


"Hm."


"Makin dingin aja pak, padahal baru beberapa hari nggak ketemu." ujar Alana, namun tak di hiraukan olehnya dan terus saja melangkah memasuki ruangan tanpa jendela yang akan membawanya ke lantai di mana kakek Farhan di rawat.


"Butuh penghangat ya pak biar nggak dingin?" lanjut Alana dengan senyum di kulum.


Buru-buru dia mengalihkan perhatiannya, hampir saja dia juga ikut tersenyum melihat Alana. Apakah dia sudah gila? hanya melihat seseorang tersenyum, juga bisa membuatnya tersenyum? ini bukan dirinya. Semakin hari, dia semakin tidak mengenali dirinya sendiri.


"Kakek!" seru Alana menghambur memeluk kakek Farhan kemudian mencium tangannya.

__ADS_1


Dia memutuskan duduk di sofa, memfokuskan pikirannya pada File-file yang di kirimkan asistennya, tentang perusahaan Angel Fashion untuk dia pelajari sebelum bertemu dengan Direktur utama nya beberapa hari lagi.


Lama dia berkutat dengan pekerjaan hingga suara Kakek Farhan kembali mengintrupsi memangil namanya.


"Nando antar Alana pulang!"


Dia menghela nafas panjang, melirik jam dinding yang nununjukkan pukul 15:03. Berarti sudah 2 jam lebih dia berkutat dengan pekerjaan. Dia bangkit dari duduknya.


"Ayo!" ujarnya melangkah lebih dulu keluar dari ruang rawat kakek Farhan.


Perjalanan kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya, kali ini terasa hidup, karena Alana terus mengajaknya mengobrol.


"Untung pak Alvi nelpon tadi, kalau nggak saya lupa lagi jenguk kakek Farhan."


"Sesibuk itu?"


"Ih bentar lagi ujian pak, saya harus betul-betul belajar, biar bisa masuk ke Harvard University, yang katanya salah satu kampus terbaik di bidang hukum."


"Kamu benar mau jadi Pengacara?"


"Iya itu cita-cita saya dari kecil." jawab Alana antusias, tepancar jelas di mata gadis itu semangat yang membara.


"Oh." gumanya, memutar kemudi memasuki halaman rumah Alana di mana ada seorang wanita paru baya namun masih telihat cantik sedang menyiram bunga. Baru kali ini dia melihat wanita itu di rumah Alana tapi seperti tidak asing baginya.


Dia turun dari mobil, mengangguk sopan pada wanita yang tersenyum kearahnya, kemudian membuka pintu untuk Alana.


"Bunda!"


Senyum Alana merekah kala mobil pak Alvi memasuki halaman rumahnya dan mendapati bunda Anin tengah menyiram bunga. Saat hendak membuka pintu, lebih dulu pintu mobil di buka oleh pak Alvi.


Dia sempat tertegung, tumben sekali pak Alvi membukakan pintu untuknya, biasanya juga turun sendiri.


"Bunda!!" teriaknya, menghambur kepelukan bundanya tanpa memerdulikan keberadaan pak Alvi.


"Mari Tante." ujar pak Alvi sopan kemudian masuk kedalam mobilnya.


Dia memperhatikan mobil pak Alvi yang menghilang di balik pagar rumahnya, kemudian kembali memeluk tubuh bunda Anin. "Kengen." ujarnya manja.


Bunda Anin mengurai pelukannya, kemudian tersenyum kearahnya. "Bunda masak makanan ke sukaan kamu loh, ayo makan." ujar bunda Anin menariknya masuk kedalam rumah.


"Bunda kok nggak ngabarin, kalau mau pulang."


"Kenapa? biar bunda nggak tahu kalau kamu sekarang dekat sama cowok iya?" ujar bunda Anin dengan nada menggoda dan mencubit cuping hidungnya.


"Siapa pacar kamu?" Bunda Anin meletakkan beberapa makanan kesukaannya, kemudian duduk di sampingnya.


"Siapa?" tanyanya menyendokkan nasi kedalam mulutnya.


"Yang tadi ngantar kamu."


"Ih masakan bunda enak banget loh." dia mengalihkan pembicaraan, belum siap membicarakan tentang pak Alvi pada bundanya.

__ADS_1


"Kalau dia pacar kamu, bawa kerumah kenalin sama bunda!"


"Dia guru Alana."


"Kok bisa di anterin pulang." bunda Anin mengernyit


"Tadi Alana jengukin teman yang lagi sakit, bareng teman sekelas yang lain, sama pak Alvi juga karena dia wali kelas Alana. Karena rumahnya searah, yaudah Alana nebeng, dari pada naik Taksi."


"Oh namanya pak Alvi." Bunda Anin menganguk-angguk mengerti dan itu membuatnya bernaf lega. Aman pikirnya.


"Ayah..."


"Assalamualaikum kesayangan Ayah."


Baru saja akan menanyakan keberadaan sang Ayah, sudah muncul orangnya. Bunda Anin mengelus punggungnya sebelum berdiri, mungkin akan menyambut kedatangan Ayahnya.


"Habisin makannya."


"Iya bunda."


Tak lama kemudian orang tuanya berjalan kearahnya saling merangkul, dan itu membuat hatinya menghangat, beruntung dia memiliki keluarga yang harmonis.


Ayah kevin mengacak-acak rambutnya. "Baru pulang juga princesnya ayah?"


"Iya mas, dari rumah sakit jenguk temannya." jawab bunda Anin.


Cup


Cup


"Ayah mandi dulu." ujar Ayah Kevin setelah mencium keningnya dan juga kening bunda.


Dia dan Bunda Anin saling pandang kemudian tersenyum.


Setelah makan malam dan sholat Isya berjamaah, dia dan orang tuanya berkumpul di ruang keluarga, dia tidur di atas paha ayah Kevin, sementara bunda Anin bersandar di dada bidang ayah Kevin.


"Bunda sama ayah kapan sampainya?"


"Jam sembilan pagi kayaknya ya bun?" tanya ayah Kevin pada bunda.


Ayah Kevin menatapnya datar. "Kata bunda tadi di antar pulang cowok?"


Dia tidak menjawab tapi melirik bunda yang tersenyum kearahnya seperti mengatakan tidak apa-apa.


"Iy-iya." jawabnya gugup.


"Udah lolos belum sama pengawal Ayah."


"Ih ayah, pak Alvi cuma nganter Alana pulang, bukan jadi pacar Alana, jadi nggak usah di uji sama para pengawal abal-abalan ayah." sungutnya, dia tahu siapa yang ayahnya maksud sebagai pengawal, siapa lagi jika bukan 6 inti Avegas.


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2