
Alana terus memperhatikan wanita paruh baya yang baru saja mengaku-ngaku menjadi mertuanya. Alisnya terangkat ketika menyadari sesuatu.
Benar, wanita itu mirip dengan foto wanita yang ada di album foto keluarga Alvi, seketika senyumnya mengembang, merasa bahagia, akhirnya ia bisa bertemu dengan ibu yang telah melahirkan suami yang sangat ia cintai.
"Mama Anna," lirih Alana.
Wanita itu menoleh kemudian tersenyum kearahnya, tanpa menunggu lama Alana menubruk wanita paruh baya itu, tak peduli dengan keadaan yang bisa saja membahayakan mereka karena wanita yang di sebut Mama Anna sedang menyetir.
"Senang banget bisa ketemu mama."
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis melerai pelukan Alana dengan alasan ia sedang menyetir.
"Aa udah tau?"
"Belum."
"Kok belum? Aa rindu banget sama mama, pasti dia bahagia dengar mama sudah pulang." Senyum Alana tak pernah surut dari wajahnya, ia sangat-sangat bahagia, apa lagi membayangkan wajah Alvi ketika mendengar kabar bahagia ini.
Ia menegadahkan tangannya kearah ibu mertuanya. "Boleh Alana pinjam ponsel mama?"
"Buat?"
"Buat ngabarin Aa."
"Nggak usah, biar ini jadi kejutan untuknya." Ibu Anna membanting setir kemudi ke arah kiri memasuki sebuah perkampungan yang lumayan sepi, membuat Alana yang sedari tadi terdiam kembali membuka suara.
"Kita mau kemana?"
"Kerumah mama, kamu mau kan?"
"Banget." Antusias Alana.
__ADS_1
Melihat itu Anna senyum penuh misterius, ternyata mengibuli Anak seorang Kevindra sangat lah mudah. Wanita itu memarkirkan mobilnya di depan rumah yang terbilang sangat besar di kampung itu, Anna kembali senyum tipis menyuruh Alana keluar dan ikut dirinya masuk ke dalam rumah tua itu.
Mengikuti semua perintah Ibu Anna, duduk di sofa menunggu tuan rumah menyiapkan sesuatu untuknya . Jujur saja bulu kuduk Alana meremang melihat situasi rumah tua itu, sangat menyeramkan, apa lagi rumahnya temarang cahaya.
"Maaf ya mama belum perbaiki lampu di beberapa ruangan, belum ada waktu," ujar Ibu Alvi meletakkan nampang berisi dua cangkir teh hangat lalu ikut duduk tepat di hadapan Alana.
Ibu Alvi terus memperhatikan Alana dari ujung rambut sampai ujung kaki, terlihat sangat sederhana tetapi tetap saja aura anak sultan masih terlihat jelas. Tanpa Alana sadari ibu Alvi tersenyum sinis kearahanya.
"Minum dulu Al!"
"Makasih Ma." Meraih segelas teh hangat yang baru saja di suguhkan ibu Alvi sebagai bentuk menghargai pada tuan rumah.
Pembicaraan terus mengalir di antara mereka, hingga Alana tak sadar di luar sudah gelap.
"Sudah berapa tahun menikah dengan Alvi?" intro ibu Alvi.
"Belum lama Ma, sekitar 7 bulanan," jawab Alana malu-malu. Tak henti-hentinya ia menatap wanita paruh baya yang sangat cantik itu, tubuh yang ramping bak model, pantas saja suaminya sangat tampan.
Alana hanya tersenyum menangapi perkataan ibu Alvi, ia sedikit oleng juga ngantuk, kepalanya mulai pusing, mata berkunang-kunang tak sanggup di buka lagi.
"Alana ngantuk Ma," lirih Alana berbarengan dengan tubuh itu ambruk di atas sofa.
Ibu Alvi tertawa jahat, menghampiri Alana yang kini tertidur, menyusuri wajah mulus nan cantik gadis itu. Sangat mirip dengan Kevin, hanya bibir dan alis yang di turunkan Anin.
"Menantuku yang malang," ucap ibu Alvi mendramatis. "Kamu sangat baik sayang. Tapi takdirmu salah karena lahir di rahim wanita jala*ng seperti Anin." Menghempaskan wajah Alana tak peduli kukunya baru saja mengores wajah cantik gadis itu.
***
Jika Alana di suatu tempat tak sadarkan diri, lain halnya dengan Alvi yang sedari tadi duduk tak tenang di dalam rumah sederhana itu, perasaannya kali ini berbeda apa lagi Alana belum pulang padahal jarum jam sudah menunjukkan angka 9, no gadis itu juga tidak aktif.
Baru saja ia juga menghubungi Salsa, tetapi jawaban gadis itu tak membuatnya bernafas lega. Salsa mengatakan tak bertemu Alana, bahkan gadis itu tidak datang ke taman tempat mereka janjian, alhasil gadis itu pulang dengan kekecewaan apa lagi ponsel Alana tidak aktif.
__ADS_1
"Kamu di mana sayang?" menatap nanar ponsel yang nampilkan wajah gadisnya sedang tersenyum sangat manis.
Alvi mengacak-acak rambutnya kasar frustasi memikirkan di mana keberadaan Alana malam-malam seperti ini, apa lagi hujan sangat deras.
Ia menghubungi Hendri, menyuruh asisten kepercayaannya untuk melacak keberadaan Alana. Sementara ia nekat menerobos hujan deras menuju rumah orang tua Alana, berharap gadis itu ada di sana.
Seperti biasa kedatangannya akan di sambut hangat oleh bunda Anin.
"Ya Ampun Alvi, baju kamu basah nak, kenapa nggak naik mobil? mana Alana?"
Alvi diam membisu mendengar pertanyaan Bunda Anin, jika wanita paruh baya itu bertanya tentang keberadaan Alana, berarti gadis itu sedang tidak ada di rumah.
"Masuk dulu nak!"
"Nggak bunda, Alvi harus cari Alana."
"Nyari Alana?" bingung bunda Alnin.
"Alana dari sore belum pulang," lirih Alvi. "Alvi takut dia kenapa-napa di jalan.
Brugh
Alvi jatuh tersungkur ketika satu bogeman mentah mendarat di wajahnya, tetapi ia diam saja menerima itu, ia tahu Ayah Kevin pasti sangat marah.
"Mas!" Kaget bunda Anin.
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Alana, jangan harap kamu bisa menemuinya lagi," ucap Ayah Kevin penuh amarah, meninggalkan Anin dan Alvi di depan pintu.
Pria paruh bayah itu menghubungi semua anak buahnya untuk mencari keberadaan anak tunggal kesayangannya, tak lupa memerintahkan Anggota Avegas untuk ikut mencari.
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa Vote, komen dan like okay!