
Matahari mulai menghilang di bawah garis cakrawala sebelah barat. Langit berwarna jingga perlahan-lahan mengelap namun belum ada tanda-tanda kepulangan Alana.
Alvi. Guru kimia tersebut tak henti-hentinya memperhatikan jam dinding bergantian dengan benda pipih yang ia letakkan di atas meja. Pesannya tak satupun di balas oleh gadis berambut indah tersebut membuatnya tidak tenang, takut terjadi sesuatu pada Alana di luar sana.
Alana : Kenapa belum pulang?
Alana : Balas pesan saya!
Alana : Kamu di mana?
Pesan yang ia kirimkan hanya menampilkan centang satu yang artinya Alana tidak aktif.
Baru saja akan bangkit suara pintu terbuka terdengar, membuat Alvi mengurungkan niatnya berdiri. Kini ia menatap tajam pada gadis yang baru saja datang. Ada yang beda dengan penampilan Alana sekarang, seperti ada yang hilang.
Alvi terus memindai penampilan Alana, mencari tahu apa sebenarnya yang hilang dari penampilan Alana hingga membuatnya terlihat berbeda.
Merasa di pandangi secara berlebihan, gadis berambut indah tersebut angkat bicara. "Kenapa a? saya lebih cantik dengan rambut pendek ya." pede Alana memutar-mutar tubuhnya tanpa tahu kekesalan Alvi.
"Ini terakhir kalinya kamu keluar rumah sendirian!" ujar Alvi datar lalu masuk ke dalam kamar.
Sebenarnya bukan hanya itu yang membuat Alvi marah, tapi rambut panjang nan indah Alana yang selalu ia pandangi jika pemiliknya sedang tidur kini di potong tanpa izin darinya.
"Maaf, karena saya lupa waktu." ujar Alana duduk di samping Alvi dengan bibir sengaja di manyun-manyunkan, sembari meremas jari-jari tangannya.
Pertahanan Alvi hampir runtuh melihat betapa mengemaskannya tingkah Alana. Tak ingin menyerah Alvi meraih ponselnya pura-pura sibuk. Entah kenapa ia bersikap ke kanak-kanakan jika bersama Alana, selalu ingin di mengerti padahal dirinya jauh lebih dewasa dari Alana.
Selalu ingin di manja namun gengsinya telalu tinggi untuk meminta hal tersebut pada gadis berambut indah di sampingnya.
"Aa."
"Hm."
"Ih masa gitu aja ngambek kaya cewek aja." gerutu Alana. "Liat sini dulu." Alana manarik lengan Alvi agar menghadapnya lalu ia memperlihatkan senyum semanis mungkin . "Saya cantik kan dengan rambut pendek?." ulangnya.
Cup
"Jelek." ujar Alvi setelah mengecup bibir pink Alana membuat gadis berambut indah tersebut menyentuh bibirnya.
"Aa kok di cium." lirih Alana masih menyentuh bibir tipisnya tidak menyangka Alvi akan menciumnya. "Kan jadi malu." lirih Alana menundukkan kepalanya, lalu membentur-benturkannya pada dada bidang Alvi, membuat pria dingin tersebut mengulum senyum.
"Saya nggak suka kamu potong rambut tanpa izin saya." jujur Alvi.
__ADS_1
Alvi memutuskan tidak akan menahan-nahan dirinya lagi, ia akan membuang jauh-jauh gengsi dan sifat dinginya jika bersama Alana. Lagi pula istrin kecilnya terlalu mengemaskan untuk di angurkan begitu saja.
Gadis tersebut mengangkat kepalanya menatap Alvi. "Kenapa?" ia mengedip-ngedipkan matanya.
"Semua yang ada di tubuh kamu milik saya termasuk rambut indah mu." Sontak senyum Alana kembali merekah. Dirinya di buat melayang ke atas awan oleh kalimat Alvi, semoga ini bukan mimpi, biarkan waktu berhenti sebentar saja.
Alana reflek menyilangkan tangannya di depan dada kala mendapati tatapan mesum Alvi. "Aa nakal." ujar Alana berlari masuk kedalaman kamar mandi, tubuhnya surah gerah keliling mall seharian, dan ia juga harus cepat-cepat menghindar jika tidak mau di terkam oleh singa kelaparan.
Kata-kata Azka sampai sekarang masih melekat di pikirannya.
Jika lo di beri kesempatan barang semenit saja menjadi mata laki-laki, gue pastikan lo bakal nutup aurat Al.
Tidak menutup kemungkinan Alvi salah satu laki-laki yang di maksud Azka bukan? apa lagi selama ini Alana selalu berpakaian terbuka di depan Alvi.
Tapi bukan Alana namanya jika tidak membuat ulah sehari saja, terbukti baru saja ia takut di terkam oleh Alvi. Kini ia berjalan santai keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas paha, memperlihatkan bahu mulus dan juga kaki jenjang yang menggoda.
Alvi menelan salivanya beberapa kali, berusaha tidak tergoda dengan pemandangan mengiurkan di depan mata, walau sulit di pungkuri sesuatu mendesak di bawah sana. Tak ingin mengambil resiko membuat Alana takut padanya jika menerkam sekarang ia buru-buru masuk kedalam kamar mandi, dan tahu sendirikan apa yang akan di lakukan Alvi?
Shitt!!
Umpat Alvi, mencuci wajahnya secara kasar. sampai kapan ia akan menahan hasratnya. "Sepertinya ini perlu di bicarakan." gumamnya menatap dirinya pada pantulan cermin.
Alvi molongo tak percaya melihat Alana duduk di meja rias dengan rambut tergerai panjang tidak seperti saat ia baru saja datang. Sial sepertinya Ia di kerjai oleh gadis remaja.
Alana menghentikan aktivitasnya lalu tersenyum tanpa dosa pada Alvi. "Ayah Kevin akan memakanku hidup-hidup jika potong rambut Aa." Ya tadi Alana hanya iseng memakai Wig.
Hening tak ada lagi yang berbicara, Alvi tidur memungungi, Alana, sementara Alana tidur menghadap Alvi, ah sungguh malang nasibmu anak muda.
"Aa."
"Hm."
"Aa." ulang Alana.
"Apa?" tanya Alvi masih memunggungi Alana.
"Aa."
"Apa sayang?" ujar Alvi dengan wajah datar tanpa senyuman namun mampu membuat jantung Alana bekerja lebih cepat, ribuan kupu-kupu kembali beterbangan di dalam perutnya.
Apa sayang
Apa sayang
__ADS_1
Apa sayang
Kalimat itu terus terulang-ulang di telinga Alana
"Aaaaaaaaaa, bundaaaaaa." teriak Alana mencak-mencak di atas tempat tidur.
Alvi menghela nafas kasar kembali menutup matanya walau tempat di sampingnya seperti gempa bumi akibat kelakuan gadis remaja. Niatnya ingin romantis-romantisan malah hancur karena kelakuan ke lewat bar-bar gadis berambut indah tersebut. Padahal sekuat tenaga ia menekan gengsi hanya untuk mengeluarkan kalimat keramat tersebut dari mulutnya.
"Anakmu baper!"
Grep
Tubuh Alana melayang di udara lalu mendarat di pelukan seseorang.
"Diamlah!" perintah Alvi setelah Alana berada dalam pelukannya. "Kenapa kamu susah sekali di ajak romatis-romantisan, Hm?"
Alana mengerjap-ngerjapkan matanya, mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat berteriak tadi, lalu menatap mata elang pria di depannya.
"Aa pengen romantis-romantisan?" tanya Alana dengan wajah polosnya.
"Hm."
"Yaudah ayo!" ajak Alana.
"Ayo apa?" bingung Alvi.
"Ih tadi katanya mau romantis-romantisan." gerutu Alana, tangannya dengan nakal mencubit roti sobek milik Alvi.
"Auw." rintih Alvi menangkap tangan mungil Alana. "Jangan nakal Al." peringatan Alvi. "Tidurlah!"
"Nggak jadi A?"
"Udah nggak mood."
"Nggak mau cium dulu sebelum tidur?" tawar Alana dengan nada menggoda.
"Emang boleh?"
"Boleh." lirih Alana senyum malu-malu. Apakah ia terlihat seperti jala*ng jika bersikap seperti ini pada suaminya? semoga tidak, ia hanya ingin menyenangkan Alvi.
Alvi senyun tipis kemudian mencium kening Alana, lalu turun ke hidung, mata kemudian berhenti di bibir, ia sedikit menyesapnya.
"Tidurlah! belum waktunya." ujar Alvi menarik Alana kedalam pelukannya.
__ADS_1
...TBC...