
Alvi menghampiri Alana, ketika melihat gadis itu memasukkan beberapa baju ke dalam koper.
"Kamu mau kemana Al?" ujarnya duduk di samping Alana, mencegah gadis itu memasukkan sesuatu ke dalam koper.
Bukannya menjawab gadis itu malah menoleh, lalu mengembangkan senyumnya, Ia mengecup sudut bibir Alvi.
"Love you." Masih dengan senyuman Alana mengusap pipi Alvi.
"Jaga diri baik-baik ya A, dan semoga kamu bisa mendapatkan wanita jauh lebih baik dari aku."
"Alana."
"Bukannya Aa pernah bilang, hubungan akan bertahan dan bahagia jika kita saling mengerti satu sama lain. Tetapi di sini hanya Aa yang selalu mengerti aku, aku nggak pernah."
"Alana kamu ngomong apa sayang?"
Gadis itu malah tertawa kecil. "Aku mau pisah A, mungkin dengan begini kita sama-sama bahagia."
Alvi mengeleng, meraih tangan Alana yang kini kembali memasukkan baju kedalam koper, ia mengecup punggung tangan itu berkali-kali. "Maafin Aa. Aa khilaf sayang. Aa janji nggak bakal ngulangin lagi."
"Disini aku yang salah kenapa Aa minta maaf? meminta maaf juga nggak ada gunanya, toh semuanya sudah terjadi. Khilaf bisa terulang, janji bisa di ingkari, aku nggak suka sama cowok yang suka nyiksa kalau Aa lupa."
"Alana Aa minta maaf sayang, jangan tinggalin Aa." cegah Alvi ketikan Alana mengerek kopernya keluar kamar.
Gadis itu tak menoleh sedikitpun, bahkan tak merasa iba melihat Alvi yang terus memohon agar ia tidak pergi.
"Alaana!!!" teriak Alvi.
"Aa!" panggil Alana, menguncang tubuh lelaki yang kini terlalap di sampingnya. Namun, terus berteriak memanggil namanya. "Aa kenapa? bangun!"
Keringat dingin membanjiri pelipis Alvi, lelaki itu sontak membuka mata, dan langsung menubruk Alana. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu, memeluknya seerat mungkin, seakan jika ia melepaskannya, gadis itu akan meninggalkannya.
"Aa kenapa?" mengelus rambut lebat Alvi. "Aku cuma mau ke toilet doang," lanjutnya, merasa heran dengan sikap Alvi subuh-subuh buta seperti ini. "Ayo siap-siap sholat subuh!" Mengurai pelukan lelaki itu.
"Jangan tinggalin Aa. Aa janji nggak bakal nyiksa kamu lagi."
Alis gadis itu terangkat, menyiksa? kapan lelaki itu menyiksanya? bahkan membentak saja jarang.
"Ya kali aku mau ninggalin Aa, aku nggak mau ya jadi janda." Kekeh Alana. "Aa nggak wudhu sebelum tidur, Iya? apa jangan-jangan lupa sholat isya juga semalam?" todong Alana, karena ketika ia pulang lelaki itu sudah terpulas di atas ranjang, padahal ia pulang jan 8 malam di antar Keenan.
__ADS_1
Bukannya menanggapi, Alvi malah memperhatikan wajah sang istri, benar tidak ada luka gigitan di bibir pink yang selalu membuatnya hilang akal. Tangannya dengan nakal membuka satu persatu kancing piyama Alana, ingin memastikan bahwa tubuh gadisnya baik-baik saja.
Baru saja membuka kancing pertama, tangannya sudah di tepis oleh gadisnya. "Aa mau ngapain hah?"
"Aa pengen mastiin sesuatu," jawab Alvi kelewat santai.
"Nggak usah mesum subuh-subuh Aa, sana keburu waktunya habis." Mendorong tubuh kekar itu agar beranjak.
Usai menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim, Alana olahraga pagi di taman belakang, dengan Alvi yang terus memperhatikannya dari bangku taman.
Lelaki itu menyerahkan handuk dan sebotol air minum ketika gadisnya ikut duduk.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Alvi tanpa mengalihkan fokusnya pada majalah.
"Kondisinya sudah stabil, tapi belum juga sadar Aa." Sedih Alana, menyandarkan kepalanya di pundak Alvi.
"Nggak usah sedih, semuanya akan baik-baik saja." mengelus punggung Alana, ia tahu gadis itu sangat sedih hampir kehilangan seseorang yang ia sayang. "Kita jenguk dia usai makan siang nanti."
Alana mendongak, sedikit tidak percaya akan perkataan Alvi, lelaki itu dan Avegas tidak begitu akur, apa lagi pada ketuanya. "Nggak usah, di sana banyak anggota Avegas."
"Aa nggak ikut Reuni sama teman-temen Aa semalam?" tanya Alana karena mendapati suaminya ada di rumah semalam.
Alvi tak menyahut, tentu saja ia berbohong pada Alana, malam itu ia datang ke Reuni sekolahnya, tapi bukan untuk bersenang-senang, tetapi memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Dirga ada di sana tanpa istrinya.
Lelaki itu melirik arloji di pergelangan tangannya, jam 9 lewat 14 menit ternyata, pantas saja matahari mulai panas.
"Ada rencana liburan weekend ini?"
Alana mengeleng, ia malas keluar hari ini, lagi pula besok hari senin, ada tryout di sekolah menjelang ujian, ia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Gadis itu mengantar Alvi hingga di depan pintu, terus bergelayut manja di lengan suaminya.
"Aa makan siang di rumah kan?" Alana melepas rangkulannya, kemudian mencium punggung tangan lelaki itu.
Alvi menganguk mengacak-acak rambut indah Alana. "Mau nitip apa?"
"Cepat pulang aja, di rumah aku sendiri nggak ada bi neneng. Oh Iya, Aa mau makan apa biar aku masakin."
Alis Alvi terangkat, masak? ia tak yakin gadis kecilnya bisa masak tanpa bantuan dari bi Neneng.
__ADS_1
"Apa aja." Mencium kening Alana kemudian masuk kedalam mobil, sebelum pergi ia sempat membalas lambaian tangan gadisnya.
Sepanjang jalan ia senyum-senyum sendiri, membayangkan kekenyolonnya subuh tadi, bisa-bisanya ia mimpi menyiksa gadis kecilnya. Semoga mimpi itu tidak akan terjadi sampai kapanpun.
Ia membanting setir kemudi setelah sampai di sebuat tempat gym terkenal di kota itu. Memarkirkan mobilnya kemudian masuk, melewati meja resepsionis begitu saja. Sepi, satu kata yang mengambarkan tempat Gym tersebut.
Akhir pekan seharusnya tempat Gym sangat lah ramai, namun tidak berlaku bagi Gym yang ia datang ngi. Devan selalu membooking Gym tersebut, agar tidak ada yang menganggunya.
"Mau olahraga juga lo Vi?" tanya Devan masih berlari di atas treadmill.
Sama dengan Devan, Alvi juga menaiki salah satu Treadmiil, menyetelnya sesantai mungkin, pandangannya fokus ke depan tapi pikirannya terpecah, sebenarnya ia malu menanyakan ini pada Devan, tapi ia juga tidak tahu mau berbuat apa.
"Alana ulang tahun 2 hari lagi." Alvi memulai pembicaraan.
"Terus?" acuh Devan semakin mempercepat laju Treadmillnya.
"Gue harus apa biar dia senang?" Masih fokus ke dapan walau Alvi sudah mendengar tawa di sampingnya. Selalu saja Devan mengejeknya jika bertanya tentang wanita.
"Ck," decak Devan, memperlambat laju treadmiilnya. "Teman gue benar-benar bucin sekarang." Turun dari treadmill, kemudian duduk di salah satu kursi.
"Wanita itu suka kejutan. Gampang sih kalau lo mau buat di terkejut, buat dia ketakutan, menangis, atau bersedih, setelah itu beri kejutan, di jamin Alana bakal senang."
"Booking salah satu Cafe atau Restoran lalu buat kejutan romantis."
"Buat dia menangis, ketakutan, dan sedih? lo gila, gua nggak bakal lakuin itu," Sangahnya, tak setuju akan ide Devan yang menurutnya tidak masuk akal, ia ingin membuat istrinya senang bukan menangis.
"Anjim!" maki Devan. "Bucin benar lo Vi, gila-gila." Mengeleng tak percaya, seorang Alvino yang notabenenya anti perempuan, selalu menyiksa atau berkata kasar pada perempuan yang mendekatinya, betekuk lutut di hadapan gadis remaja.
"Terus mau lo apa?" lanjut Devan.
"Gue bakal ngajakin dia nonton, habis itu pulang makan kue dikit, karena terlalu banyak makan manis nggak baik, setelah itu belajar, terus tidur biar fokus belajar di pagi hari." Santai Alvi merasa rencanya ini akan membuat Alana klepek-klepek padanya.
Devan menganga mendegarnya, gila nih laki, bukanya buat Alana senang, malah jengkel kalau gini ceritanya.
"Terus ngapain lo nanya sama gue kalau lo udah ada rencana bego!"
"Gue pengen tau aja lebih bagus mana rencana lo sama rencana gue. Tapi sepertinya rencana gue lebih baik." pede Alvi.
"Serah lo Vi, serah." pasrah Devan.
__ADS_1
...TBC...