
Mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, Alana berlari menuju pintu, menunggu Alvi masuk untuk menyambutnya. Senyum gadis itu mengembang ketika melihat pintu terbuka menampilkan sosok pria tampan yang sangat ia cintai.
Ia berjalan semakin dekat, mengambil tas kerja Alvi lalu mencium punggung tangan lelaki itu. Tak sampai di situ saja ia juga membantu Alvi melepas jas kerja suaminya.
Sementara lelaki yang di perlakukan seperti itu diam membisu, pikirannya berperang melihat gadisnya malam ini. Tubuh mungil yang sangat indah itu kini hanya berbalut kain tipis warna hitam dan kekurangan bahan.
Alvi mendudukkan diri di sofa ruang tamu, melepas kancing kemeja di pergelangan tangannya, juga mengendurkan simpul dasi yang serasa mencekeknya seharian.
Menghiraukan keberadaan Alana yang duduk di sampingnya, tak ingin tergoda akan keindahan tubuh gadisnya.
"Aa udah makan?" bergrak erotis duduk di pangkuan Alvi, melepas satu persatu kacing kemeja lelaki itu.
Malam ini biarkan Alana menjadi seorang jala*ng untuk Alvi. Gadis itu terus mengoyahkan imam suaminya.
"Hm."
"Ais, sudah apa belum?" ulang Alana dengan suara manja.
Alvi menelan salivanya sedikit susah sebelum menjawab pertanyaan gadisnya, pertahannya hampir runtuh mendapat sentuhan dari Alana.
"Sudah."
Alana mengangguk mengerti, ia memeluk tubuh Alvi yang sedari tadi bergeming tak merespon santuhanannya, bahkan tangan kekar itu tak melingkar di pinggangnya seperti biasa. Ia membenamkan wajanya di dada bidang Alvi yang hanya di lapisi kaos berwarna putih.
"Makasih kejutannya Aa. Aku suka, tapi sayang udah nggak bisa di pakai lagi."
"Kamu sudah makan?" Menghiraukan perkataan Alana barusan.
Gadis itu mengeleng. "Aku nungguin Aa, tapi Aa dah makan."
"Makan!"
"Cium dulu." Memanyungkan bibir tipisnya.
"Aa capek Alana." sedikit mendorong tubuh yang terus menempel padanya.
Bukannya turun dari pangkuan Alvi, Alana malah memajukan wajahnya, mengecup sudut bibir lelaki itu. "Aa yakin lelah? udah 3 hari loh puasa, nggak mau berbuka dulu gitu?" goda Alana.
"Nggak!"
"Yah padahal dedek Aa bangun loh." Gadis itu menyeringai ketika merasakan sesuatu mengeras di tepat di bawahnya.
Tanpa banyak bicara, Alvi bangkit dari duduknya, tentu saja melingkarkan tangan kekarnya agar gadisnya tidak terjatuh. Lelaki itu membawa Alana masuk kedalam kamar, mengendongnya ala anak Koala. Di luar sangat dingin dan juga Alvi takut ada orang lain yang melihat tubuh istrinya.
"Turun dulu Alana, Aa mau mandi." Suara Alvi masih sama, terdengar dingin dan sangat datar.
Alana mengeleng, semakin mengeratkan pelukannya di leher lelaki itu. "Nggak mau sebelum Aa maafin aku."
"Tau apa kesalahan kamu?"
__ADS_1
"Maaf buat Aa menunggu malam itu, dan maaf aku berbohong kalau aku nggak ketemu pak Dirga. Aku ketemu pak Dirga malam itu tapi cuma urusan kerjaan, aku pulang tanpa makan malam sama dia. Aku pulang sendiri naik taksi Aa, tapi pak Dirga nyusul aku untuk mengembalikan ponsel aku yang terlupa di resto. Beneran aku nggak ngapa-ngapain. Maaf." cicitnya di akhir kalimat.
"Aku janji nggak bakal bertemu pak Dirga lagi, kecuali ada ijin dari Aa, atau sama Aa. Aku juga udah berhenti jadi asisten pak Dirga. Udah ya ngambeknya, aku nggak suka di diemin sama Aa." menyembunyikan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.
Alvi mendudukan diri di tepi ranjang dengan Alana masih dalam gendongannya. Gadis itu melengket bagai perangko di tubuhnya, padahal ia sangat lelah dan juga gerah bekerja seharian.
Alana meraih ponselnya di atas nakas, lalu menyerahkan pada Alvi. "Lihat!" memperlihatkan kontak Wa nya. "Aku udah block kontak pak Dirga, nih aku hapus sekalian."
Seulas senyum terbit di bibir tebal Alvi tanpa Alana sadari. Akhirnya gadisnya mengerti juga apa yang ia inginkan. "Jangan di langgar lagi janjinya, hm."
"Janji."
Alvi meraih tangan kanan Alana. "Tangannya jangan lupa di mandiin bunga kembang tujuh rupa."
"Huh?"
"Tangan kamu sudah di pegang sama Dirga, Aa nggak suka."
Alana tertawa mendengar perintah Alvi, sampai segitunya sampai harus mandi kembang tujuh rupa.
"Alana!"
"Iya Aa, nanti aku cuci." Alana melerai pelukannya hendak turun dari pangkuan Alvi. Namun lelaki itu malah menahannya.
"Mau kemana, Hm?"
"Tanggung jawab dulu."
Alis Alana terangkat. "Aa hamil?" pertanyaan konyol itu keluar begitu saya di mulutnya.
"Iya Aa hamil karena kamu."
"Emang bisa A? kok pas pelajaran biologi nggak ada di jelasin?"
Karena gemes, Alvi mengigit pipi gadisnya. "Jangan sok polos sayang."
"Aku emang polos Aa." Mendekatkan bibir pink nya ke telinga Alvi. "Kalau lagi mandi." tawa Alana semakin kencang memenuhi kamar mereka, akhirnya Alvinya kembali lagi.
"Aa." Gadis itu membelalakkan matanya, ketika Alvi menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, dengan lelaki itu berada di atasnya.
"Aku...aku...aku lapar." rengek Alana.
"Jangan banyak Alasan, kamu yang nawarin Aa tadi."
Alvi memulai aksinya, menyatukan benda kenyal, mereka, melum*at, menye*sap, bahkan mengabsen setiap inci mulut Alana. Membuat sang gadis kewalahan.
"Aa mau bunuh aku?" protes Alana setelah Alvi melepaskan pangutannya.
"Manis?" senyum Alvi tanpa dosa.
__ADS_1
"Mandi dulu!" Mendorong tubuh kekar yang menindihnya. Namun Alvi bergeming, terus melempar senyum, menatap wajah memerah gadisnya.
"Ngapain senyum-senyum ih." menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu di tatap seperti itu oleh Alvi.
"Nanti sayang, sekalian mandi Junub."
"Kalau jatahnya di ambil sekarang, malam nggak ada lagi ya."
"Malam lain lagi. Sore ini bonus buat kamu."
Alana tertawa lebar, pikcik sekali suaminya, bonus untuknya? yang benar saja.
"Ngapain ketawa, Hm." Mengendus aroma di bawah telinga Alana, bahkan sekali menyesapnya.
"Pengen Aj..Ahhh...Aa." menjambak rambut lebat Alvi, ketika lelaki itu mulai bermain di area sensitifnya.
Gerimis sore hari menjadi saksi bisa berbaikannya dua insan di dalam kamar bernuansa kuning itu. Saling memberikan kehangatan lewat sentuhan-sentuhan hangat, bertukar saliva satu sama lain, hingga membawa sang gadis terbang ke puncak nirwana.
Lelah dengan aktivitas yang baru saja mereka lakukan, Alana tertidur pulas dalam pelukan Alvi, setelah lelaki itu membersihkan bekas percintaan mereka.
Alvi tak henti-hentinya menciumi wajah gadisnya, memeluk semakin erat tubuh munggil itu.
"Sesak Aa." protes Alana setengah sadar.
"I Love You... Alana Istriku." bisik Alvi tepat di telinga Alana.
"Hm." gumam Alana.
"Jangan pernah berfikir untuk pergi dari aku Al." mencium bibir pink gadisnya yang sedikit bengkak karena ulahnya.
"Hm."
"Maaf sering buat kamu kesal. Maaf Aa nggak bisa romantis seperti yang kamu inginkan."
"Hm." hanya itu yang terus keluar dari mulut Alana. Entah gadis itu mendengarnya atau hanya igauan semata.
Alvi menciumi tulang selangka Alana sakin gemesnya, wajah bantal gadis berambut indah tersebut sangat mengemaskan, dan juga lucu.
"Terimakasih, karena lebih milih Aa di banding Dirga."
Jangan kira Alvi tidak tahu bahwa Dirga mengungkapkan perasaanya di hari ulang tahun Alana. Ia tahu semuanya. Dirga sendiri yang meminta izin padanya. Namun, rasa takut kehilangan Alana membuat Alvi buta akan kebenaran. Melihat gadisnya bersama Dirga malam itu, apa lagi lelaki itu memegang tangan Alana, ia beranggapan Alana lebih memilih Dirga di banding dirinya.
...TBC...
Ekhem....Ekhem....Ekhem...Kencang amat mesem-mesemnya ya, kode apa tuh? tau lah dedek gemes minta apa kalau hari senin🤣🤣🤣🤭🤭🤭. Jangan lupa lempar Vote, komen, dan like nya okey.
Oh iya Dedek gemes bawa Novel seru lagi buat nemenin hari kalian sambil nunggu Aa Up.
__ADS_1