Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 174


__ADS_3

Baru saja mengaktifkan ponselnya, beberapa pesan juga panggilan tak terjawab meneror Alana, siapa lagi pelakunya jika bukan Alvi.


Mata Alana membulat sempurna melihat pesan dan panggilan tak terjawab dari suaminya, 265 pesan 65 panggilan tak terjawab padahal baru sehari ia mematikan ponselnya.


Sayang


Alana


Jangan gini Al Aa khawatir


Kamu di mana


Al


Sayang


Plis kamu dimana sayang


Kamu marah sama Aa?


Maaf


Angkat telfon Aa


Alana!!!!


Ponsel Alana kembali bergetar dengan penelfon yang sama, tak ingin membuat Alvi khawatir lagi Alana menjawab panggilan video dari suaminya. Ia juga sudah melupakan masalah semalam setelah mendengar kabar bahagia dari dokter.


Terdengar helaan nafas lega dari seberang sana saat Alana menampilkan senyum bahagia di bibirnya, kali ini senyuman yang sangat tulus, senyuman sedari pagi tak pernah surut di bibirnya.


"Syukurlah kamu baik-baik aja Al, Aa hampir gila tadi." ujar Alvi.


"Aa habis nangis? kok mata Aa merah gitu?" tanya Alana saat melihat mata Alvi memerah belum lagi rambut acak-acakan.

__ADS_1


"Gimana Aa nggak nangis, kamu aja nggak ada kabar dari pagi, Aa takut sayang. Maaf kalau Aa buat kamu kecewa."


"Dih cengen banget jadi lakik," cibir Alana menertawakan Alvi. "Gitu aja nangis, apa jadinya kalau aku beneran pergi sama malaikat Izrail, misalnya," canda Alana tapi tidak dengan Alvi, terbukti tatapan laki-laki itu seketika menajam menghunus mata indahnya.


"Apaansih orang cuma bercanda, yang hamil siapa yang sensitif siapa." Alana seketika menutup matanya, kenapa ia harus kelepasan? padahal niatnya ingin memberi kejutan untuk Alvi saat pulang nanti.


"Njirr bego banget lo Al," Batin Alana memaki dirinya sendiri.


"Hamil?" beo Alvi.


"Hamil? siapa A?" Alana pura-pura kaget semoga saja Alvi tak meneruskan pertanyaannya.


"Kamu tadi bilang Hamil."


"Mana ada, orang bilang 'Habis' ngadi-ngadi Aa mah." Alana menjeda. "Cium dulu Aa," pintanya manja.


Muach


Alana tertawa geli saat Alvi mengecup layar ponselnya sembari mengeluarkan suara.


"Masih Aa, dikit. Tapi itu, setelah bangun langsung segar."


"Kapan pulang? Aa jemput,"


"Nggak tau," bohong Alana. "Nggak kerja A?"


"Masih lemas sayang, nanti jam 10 setelah mual Aa reda," jawab Alvi.


Alana menggangguk mengerti, ia sudah tahu menggapa Alvi seperti itu. Dirinya sudah dapat informasi dari dokter, bahwa ada yang namanya kehamilan simpatik, suami ikut merasakan apa yang ia rasakan. Ini bisa terjadi dengan berbagai faktor, salah satunya, si suami sangat cinta dan punya ikatan batin yang kuat pada istrinya. Bahagia? sangat, malah itu sudah cukup membuktikan cinta Alvi padanya.


"Ngapain senyum-senyum?"


"Pengen aja, emang nggak boleh?" Mengerucutkan bibirnya. "Aa aku rindu suasana kamar, coba kamera belakang, aku mau liat kamar aku, nggak ada yang berubah kan?"

__ADS_1


Alvi mengeleng.


"Kenapa?"


"Malu sayang," jawab Alvi.


"Cepat Aa, atau aku marah!" ancam Alana.


Dengan menahan malu, Alvi mengarahkan kemeranya keseluruh kamar sampai tidak ada yang tersisa. Cekikikan dari Alana mulai terdengar mulai saat melihat foto pengantin mereka ada di atas nakas. Foto saat di bukit berada di meja belajarnya, juga beberapa foto di meja riasnya. Bukan cuma itu, di beberapa dinding yang dulu kosong kini tertempel fotonya dengan bingkai yang sangat indah. Kamar yang dulunya tanpa gambar apapun kini di penuhi fotonya seorang.


"Stop," perintah Alana pada sebuah gambar yang hampir memenuhi salah satu dinding pose seorang wanita tengah tersenyum lebar. "Udah, wajah Aa mana?"


Alvi kembali mengalihkan kamera menampilkan wajanya yang kini memerah karena kedapatan mengoleksi foto sang istri gila-gilaan di dalam kamarnya.


Alana tak dapat menahan tawanya, gadis itu tertawa sampai air mata keluar di sudut matanya. Ia tak menyangka suami kulkasnya sebucin itu. Apa lagi saat melihat foto lumayan besar.


"Itu foto napa besar banget A?"


"Kenapa? suka-suka Aa. Biar sebelum tidur dan bangun tidur bisa langsung liat senyum kamu," jawab Alvi. "Jangan ketawa mulu, kasian perut kamu, nanti sakit."


"Kangen," rengek Alana. "Ayo buat dedek," ajak gadis itu.


"Jangan mancing sayang."


"Liat aku pakai baju apa!" Membuka selimut yang membungkus tubuhnya, memperlihatkan tubuhnya yang terbungkus kain kekurangan bahan yang sangat tipis. "Ayo buat dedek," ujarnya sekali lagi.


"Nakal banget istri Aa. Tidur sana Aa mau ke toilet dulu."


"Hayo mau ngapain? Butuh bantuan Tuan?" goda Alana


"Alana!"


"Iya sayang, iya.... Dah sampai ketemu di alam mimpi."

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa like, komen dan vote.


__ADS_2