Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra Part 2


__ADS_3

Alana mendorong tubuh Alvi sekuat tenaga agar melepaskan pelukan di tubuhnya. Bohong jika Alana mengatakan tidak merindukan sentuhan Alvi, tetapi sakit hatinya jauh lebih besar membuatnya sulit mengotrol diri jika berada di dekat laki-laki itu.


"Lepasin pak," lirih Alana.


"Maafin Aa Al, pulang ya," bujuk Alvi masih memeluk Alana dengan erat.


"Buat apa? pengen bunuh aku perlahan-lahan?" ujar Alana dengan suara bergetar. "Bukannya sebentar malam kamu bakal ngadain resepsi? selamat ya udah berhasil nyakitin aku, kamu hebat," lirih Alana dalam pelukan Alvi. Tubuh dan pikirannya tak sejalan, pikirannya ingin pergi tapi tubuhnya menginginkan pelukan itu.


"Kamu bakal datang kan?" tanya Alvi.


Pertahanan Alana hampir runtuh mendengar pertanyaan Alvi, seandainya  ia tidak berada di pelukan lelaki itu, mungkin dirinya sudah terjatuh. Alana melerai pelukan Alvi dengan paksa, menatap tajam laki-laki di hadapannya.


"Tenang aja, aku bakal datang menyaksikan calon mantan suami aku nikah dengan orang lain," ujarnya penuh tekanan lalu masuk ke dalam mobil.


***


Malampun telah tiba, Bunda Anin dan Ayah Kevin sudah siap untuk pergi, kini mereka tinggal menunggu Alana yang katanya ingin ikut. Bunda Anin menghampiri Alana di dalam kamar dan mendapati gadis itu duduk termenung di depan meja rias entah memikirkan apa.


Alana mengusap setitik air di sudut matanya, memikirkan hidupnya benar-benar tak sejalan yang ia inginkan. Hari yang harusnya menjadi hari  kebahagianya, malah harus melihat suami yang sangat ia cinta akan melakukan resepsi dengan wanita lain. Kenapa harus malam ini? tepat di hari ulang tahunnya?


"Sayang!" panggil bunda Anin. "kamu jadi ikut?"


Alana mengangguk, bangkit dari duduknya, lalu menyambar  tasnya di atas meja.

__ADS_1


Sesampainya di gedung tempat resepsi di adakan, Alana melangkah dengan ragu memasuki gedung yang telah di dekorasi semewah mungkin. Bahkan tamu-tamu yang datang sangat banyak.


"Bunda sama Ayah kesana dulu ya," ujar bunda Anin menunjuk segerombolan para pengusaha.


Alana mengiyakan, dan duduk di salah satu meja yang lumayan jauh dari panggung. Ia menggigit bibir bawahnya melihat semua hidangan, apa lagi cake yang dibawa salah satu pelayan. Tanpa malu ia memanggil pelayan itu lalu meminta cake nya, untung saja itu memang untuk tamu. Sembari menunggu acara di mulai, Alana menyantap cake di hadapannya.


Baru beberapa kali suapan ia merasa mual.


"Permisi, toiletnya di sebelah mana?" tanyanya pada salah satu pelayan.


"Arah jam tiga belok kanan Nona,"


Lagi-lagi hanya cairan bening yang keluar, ia kembali berjalan ke tampat acara berlangsung dengan yang lainnya, sibuk memperbaiki penampilan, ia tidak sengaja menabrak anak kecil memakai tuxedo navi senada dengan gaun yang ia pakai.


"Sepertinya kamu salah orang sayang, aku bukan Mommy kamu." Lembut Alana melepaskan pelukan anak laki-laki itu di kakinya.


"Maaf nona," ujar salah satu wanita menunduk, mungkin pengasuh anak kecil itu.


Alana hanya mengangguk sembari tersenyum, setelah itu pergi dari sana. Ia kembali di tempatnya, pandangannya tertuju pada panggung di mana sudah ada Mc membuka acara. Jantung Alana berdetak sangat cepat saat mempelai dipersilahkan naik keatas panggung.


Ia meremas jari-jari tangannya yang mulai dingin saat melihat Alvi naik keatas pelaminan dengan mengendong seorang anak. Matanya membulat sempurna kala mengenali anak itu. Anak yang ia tabrak tadi ternyata anak dari suaminya, tapi kenapa anak itu memanggilnya Mommy?


Suara Mc kembali terdengar, memanggil mempelai  perempuan. Lama Alana menunggu tetapi wanita yang di panggil tak kunjung datang, hingga ia melihat Alvi meminta Mic pada Mc.

__ADS_1


"Sayang, sini!" panggil Alvi.


Entah sudah berapa banyak air mata yang Alana keluarkan hanya karena laki-laki, tapi mendengar Alvi memanggil seseorang dengan panggilan sayang selain dirinya rasanya sangat sakit. Tak mampu menahan  rasa sakit lagi, Alana bangkit dari duduknya hendak pergi. Baru saja akan melangkah suara Alvi kembali terdengar.


"Alana Seizha Kevindra Adhitama, kamu mau kemana sayang?"


Alana berbalik dan mendapati semua tatapan tertuju padanya.


"Selamat ulang tahun istriku. Happy Aniversari yang ke lima, dan selamat atas pencapain menjadi lulusan terbaik," lanjut Alvi menatap  Alana penuh cinta.


Gemuruh  tepuk tangan mulai terdengar, seiring mendekatnya Alvi pada Alana. Gadis itu masih tak percaya, ia menatap bunda dan Ayahnya yang juga berada di atas panggung bersama anak kecil yang memanggilnya mommy tadi.


Bunda Anin mengangguk sembari tersenyum, tetapi itu belum mampu menghilangkan keterkejutannya. Tak ada penolakan saat Alvi meraih tangannya, ia ikut bagai patung saat Alvi menariknya naik keatas panggung. Ia belum mengerti  dengan semuanya, apa lagi melihat antusias tamu memberi selamat pada mereka.


"Ayah apa yang terjadi?" bingung Alana.


"Nanti bunda jelaskan, sekarang fokus sama tamu bisa sayang? atau kamu lelah?" Alana mengangguk.


Walau belum tahu apa yang terjadi, Alana tetap menuruti perkataan bunda Anin, tersenyum pada semua tamu yang memberi selamat padanya, walau masih engang berbicara atau menatap Alvi yang sedari tadi berdiri di sampingnya.


...****************...


Jangan lupa like, komen dan vote.

__ADS_1


__ADS_2