
Alana tersenyum mendapati Arga berkacak pinggang tepat di depan pintu, dari raut wajahnya Alana dapat memastikan putranya sedang kesal karena lama menunggu. Persis seperti sifat Alvi, posesif padanya, bahkan sering memperebutkan dirinya saat akan tidur.
"Kenapa sayang?" tanya Alana.
Alana hanya menunduk tak bisa berjongkok karena perutnya.
Arga tak menjawab, anak laki-laki itu hanya menarik tangan Alana hingga di depan sofa. Melepaskan genggaman tanganya, lalu naik ke sofa agar lebih tinggi dari sebelumnya. Ia merentangkan tangan kearah Alana.
Mengerti keinginan sang putra, Alana melangkah lebih dekat lalu memeluk putra kecilnya. "Kenapa sayang? butuh sesuatu? mau bobo?"
Arga mengeleng.
"Alga mau teng ... teng ... teng ...," jawab Arga menirukan suara yang Alana tidak tahu apa.
"Aa sini deh," panggil Alana, membuat laki-laki yang meringkuk di dalam selimut bangun dan menghampirinya. "Arga katanya mau Teng ... teng ... teng .... Aa tau apa maksudnya?"
"Teng ... teng ... teng?" beo Alvi. "Kamu mau apa bocil?"
"Mau makan teng ... teng ... teng, Daddy. Kata Nenek izin ama Mommy dan Daddy dulu," jawab Arga.
Alana dan Alvi saling pandang, akhirnya mereka bertiga menemui wanita paruh baya yang Arga panggil Nenek di teras depan.
"Bi, Arga mau makan apa?"
Bi Neneng yang berdiri di teras depan memerhatikan penjual baso di depan pagar menoleh lalu menunduk. Ya dari sekian banyak pengurus rumah, hanya Bi Neneng yang tertinggal. Bukan dari seberapa lama wanita tua itu berkerja di rumahnya, tetapi kepercayaan Alvi dan Alana sangat besar, bahkan Bi Neneng di angkat menjadi kepala pelayan karena sudah tahu apa yang tidak di sukai Alvi dan disukai.
__ADS_1
"Den Arga pengen makan baso, Neng," jawab Bi Neneng.
"Oh Baso," ujar Alana.
"Yaudah suruh masuk sini aja penjualnya Bi, biar nggak terlalu jauh!" perintah Alana
Sesuai keinginan, penjual baso itu kini nangkring di halaman luas rumah mereka.
Arga sudah berdiri tepat di samping gerobak penjual Baso di dampingi Bi Neneng.
"Aa ada uang cash? tanya Alana pada Alvi yang sadari tadi berdiri di sampingnya.
"Hm," gumam Alvi. "Itu sehatkan buat kesahatan Arga?"
"Bibi panggil yang lain juga mereka belum makan malam kan? Kita borong basonya," ujar Alana.
Alana merasa prihatin melihat abang-abang baso yang sudah cukup umur tapi masih rela berkeliling malam-malam hanya untuk menafkahi keluarganya. Dengan memborong basonya mungkin akan membatu bapak-bapak itu, juga membuat para pekerjanya kurang lebih sepuluh orang kenyang.
"Aa aku juga pengen." Menatap Alvi.
"Berapa banyak?"
"Tiga mangkuk," jawab Alana.
Alvi mengacak-acak rambut Alana sebelum beranjak.
__ADS_1
"Makasih ya Neng, udah mau bayarin kita-kita," ujar salah satu pekerja rumahnya yang kini duduk di teras depan karena kursi teras tidak cukup. Membuat mereka memilih makan bersama di lantai marmer.
"Kembali kasih Mang," jawab Alana. "Maaf ya mang, bi, saya nggak sopan duduk di kursi. Soalnya kata dokter nggak boleh duduk di lantai, perutnya juga kehimpit," lanjut Alana.
"Nggak papa Neng."
"Mommy, Alga duduk sama mang Diman boleh?"
"Boleh sayang."
Di saat yang lainnya sibuk menyantap baso hangat masing-masing, termasuk dirinya juga Alvi. Lain halnya dengan bocil di samping mang Diman. Baso bukannya dimakan malah di jadikan bola atau kelereng, mengelindingkannya kelantai, setelah itu kembali mengambilnya lalu menaruhnya di mangkuk.
Bocil mengemaskan itu menghampiri Mommy juga Daddynya di kursi, sembari membawa mangkuk khusus anak-anak, lalu memberikanya pada Alvi.
"Daddy, tukelan sama Alga yuk!" pinta Arga dengan polosnya.
Baso di mulut Alana menyembur mendengar tawaran putranya, sementara Alvi hanya melonggo tak percaya. Sama saja Arga ingin mercuninya dengan memakan baso bekas dari lantai.
...****************...
Jangan lupa komen, vote dan like. Mampir juga di novel baru dedek "Cinta dan masa Lalu"
Aduh Kakak Arga lain kali jangan gitu ya sama Daddy🤭
__ADS_1