
Peluh membasahi seluruh tubuh munggil gadis berambut indah tersebut, nafasnya masih tesengal-sengal setelah meladeni keganasan sang suami di atas ranjang, namun lelaki itu sepertinya tidak ada lelahnya, terus bermain di area sensitifnya.
"Again." pinta Alvi tanpa menghentikan aktivitasnya, menyusu seperti anak kecil di dua gundukan milik istrinya.
"Aku lapar...Aaahhh..." Alana mendesis kala Alvi semakin mencecap benda kenyal itu, membuat maha karya yang entah keberapa.
Ia sedikit mendorong tubuh kekar Alvi, namun lelaki tersebut malah menyembunyikan wajahnya di antara gunung kembar Alana tanpa melepas penyatuan mereka. Menciumi aroma yang begitu memabukkan, tidak pernah merasa puas jika bermain dengan istrinya.
"Jangan menyepitnya Al." Erang Alvi ketika merasakan milik Alana kembali menjepit tongkat bisbolnya.
"Again."
Senyum Alvi terbit semakin lebar mendengar kata itu keluar dari mulut sang istri, ia mengecup wajah malu-malu Alana kemudian berbisik di telinga gadis itu penuh sensasi.
"Dengan senang hati sayang."
***
Alana, gadis itu mendengus kala terbangun dari tidurnya namun Alvi tidak ada di sampingnya, ia menyambar kemeja kebesaran Alvi di lantai, memakainya, lalu mencepol rambutnya asal.
Keluar kamar tanpa memperdulikan penampilannya, kancing kemeja bagian atas terbuka, paha mulus terekspos indah, ia menuruni satu persatu anak tangga.
"Aa!" panggil Alana.
Sontak kedua lelaki dewasa di ruang tamu menoleh dan mendapati seorang gadis berpakaian sangat seksi. Devan, lelaki itu menelan ludahnya beberapa kali melihat tubuh indah Alana.
Brugh
Bantal sofa mendarat mulus di wajah tampan Devan.
"Mau gue colok mata lo?" kesal Alvi berlari menghampiri gadisnya, tanpa banyak kata ia mengendong tubuh munggil itu masuk kedalam kamar, tidak sudi rasanya tubuh indah yang selalu ia jamah di nikmati sahabatnya sendiri.
"Aa turunin ih, aku mau ketemu kak Devan."
"Devan sudah pulang!"
"Aa bohong!"
Alvi menyerahkan benda pipih di atas nakas.
"Buat apa?" Alana bingung.
"Tanya sama Devan dia pergi atau belum."
Baru saja Alvi kana menurunkan tubuh mungil itu. Alana malah mengalungkan lengannya di leher Alvi.
"Jangan di turunin, aku mau kayak gini." menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alvi.
"Lain kali kalau keluar kamar penampilannya di perhatikan Al, Aa nggak mau ini terulang lagi." ceramah Alvi mendudukkan diri di sofa dengan Alana di pangkuannya.
"Iya." terus memerhatikan jakung Alvi naik turun. "Boleh aku gigit?" tanya Alana malu-malu, tapi ia sangat mengigingkannya.
__ADS_1
"Bayarannya?" seringai Alvi.
"Aa boleh cium aku."
Baru saja aku menyesap jakung yang terlihat sangat indah itu, perutnya bergejolak, rasa mual kembali melanda padahal hari hampir siang.
Ia menutup mulutnya, berlari masuk ke dalam kamar mandi, menuntaskan rasa mualnya, lagi, hanya cairan kekuningan keluar.
"Kita ke dokter!" itu bukan permintaan melainkan perintah dari Alvi.
Gadis berambut indah tersebut mengeleng, ia takut ke rumah sakit, ia benci obat-obatan, ia takut akan di rawat inap.
Alana merentangkan tangannya "Gendong lagi." manjanya.
Semakin hari Alana semakin manja namun tak membuat Alvi kerepotan, ia bahkan lebih suka jika gadisnya bersikap manja seperti ini, yang artinya Alana membutuhkannya, gadis itu mempercayainya.
"Aku pengen makan spageti."
"Aa beliin atau kita jalan?" tawar Alvi namun di balas gelengan oleh Alana. Gadis itu tak ingin keduanya.
"Aa yang buatin."
Alvi menurunkan Alana dari pangkuannya mengelus lembut perut rata gadinya. "Daddy masak buat Mommy dulu ya Alvi junior." canda Alvi namun ia sangat berharap itu benar ada.
"Hais, Aa aku nggak mau hamil ya." Alana menepis tangan Alvi dari perutnya. "Sekolah aku belum selesai, masa depan aku masih panjang."
"Aa cuma..."
"Aku memang cinta sama Aa, tapi aku bukan gadis bodoh yang rela meninggalkan cita-cita ku demi mengandung anak kamu."
"Alana!" tangan Alvi tekepal, ia hanya bercanda dan sedikit berharap, ia tidak pernah memaksa Alana mengandung anaknya, tapi kenapa perkataan gadis itu begitu melukai harga dirinya.
"Kamu kenapa, Hm?" Alvi masih berusaha bersikap lembut walau dadanya bergejolak.
"Maaf!" Alana menghambur kepelukan Alvi, perasaannya sangat sensitif jika mendegar kata Anak, ia juga tidak sadar kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Nggak papa." Alvi mengelus rambut Alana, namun suaranya tak selembut tadi. "Aku mau masak dulu." Ia melerai pelukan Alana lalu berjalan keluar kamar menuju dapur.
Prank!!
Gelas di tangan lelaki itu pecah, perkataan Alana terus berputar seperti film di pikirannya.
Bi Neneng yang mendengarnya berlari ke arah dapur dan mendapati tangan tuannya mengeluarkan darah segar, namun pemilik tangan hanya bergeming menatap kosong kedepan.
"Ya ampun tangan Tuan..." bi Neneng hendak menyentuh tangan kekar itu namun Alvi menjauhkan tangannya, tidak ingin wanita lain menyentuh bagian tubuhnya selain istrinya.
"Pergilah!" ujar Alvi datar dan terdengar dingin, membuat bi Neneng cepat-cepat berlalu melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Jika Alvi sedang sibuk di dapur, lain dengan Alana yang tidak tahu sama sekali kemarahan Alvi. Gadis itu sibuk bertelfonan dengan bundanya, melepaskan rindu.
"Alvi mana?" tanya sang bunda.
__ADS_1
"Aa Aku lagi masak bunda."
Di seberang sana bunda Anin terkekeh mendengar panggilan Alana.
"Iya Aa kamu, bukan Aa bunda." goda bunda Anin.
"Bunda."
"Alana, bunda nggak suka ya kamu bersikap seenaknya sama Alvi, kamu itu seorang istri sayang, harusnya kamu yang masak bukan suami kamu."
"Aku sesekali bantu bibi masak, nggak pernah nyuruh Aa." cemberut Alana membela diri. "Tapi hari ini Alana pengen banget makan masakan Aa."
"Sayang, jangan terlalu manja sama Alvi ya!"
"Kok gitu." Alana mengembungkan pipinya, tidak setuju dengan bundanya.
"Manja boleh, tapi tahu tempat sama waktu sayang. Jangan manja atau banyak maunya pas Alvi baru pulang kerja. Orang lelah susah mengontrol emosi, jangan sampai dia bentak kamu terus nangis."
"Iya bunda." Alana mengangukkan kepalanya.
"Satu lagi, saat suami pulang kerja, sambut dia dengan senyuman, salim tanganya, jangan membicarakan hal-hal serius yang bisa saja memicu pertengkaran. Bicarakan hal penting saat kalian bersantai atau bersiap tidur, agar pikiran tidak terlalu terbebani." patuah Bunda Anin panjang lebar.
"Assiap bunda sayang." Alana mengacungkan jempolnya.
"Kata Alvi kamu sering muntah? terus pucat." selidik Anin.
Alana menganguk. "Iya bunda, Alana juga nggak ngerti, mood Alana akhir-akhir ini juga sering berubah-ubah tanpa sebab. Kadang manja banget sama Aa, kadang marah."
Bukannya khawatir wanita paruh baya di seberang sana mengulum senyum mendengar curhatan buah hatinya.
"Bunda kok senyum-senyum gitu." kesal Alana.
"Bunda pengen cucu sayang, tapi bentar lagi bakal terkabul kayaknya. Habis makan, ke dokter bareng Alvi ya!"
Alana mengaruk kepalanya bingung, apa hubungannya muntah-muntah dan punya cucu?
"Maksud bunda apasih?"
"Kapan kamu ngasih cucu sama bunda?"
Alana mencebik, rasanya sangat kesal jika ada yang menanyainya tentang itu. "Alana nggak mau hamil dan punya anak bunda." jujurnya.
"Jangan ngomong gitu sayang. Kalau suami kamu dengar gimana? kamu nggak mikirin perasaannya? setiap laki-laki pengen keturunan."
"Aku takut pas hamil atau punya anak, Aa lebih sayang sama dia dari pada aku, aku nggak mau kasih sayang sama perhatian Aa terbagi."
Bunda Anin menghela nafas kasar di seberang sana, sifat posesif Alana belum hilang juga, sebelum menikah putrinya tidak ingin mempunyai adik. dan sekarang, setelah bersuami, putrinya tidak ingin mempunyai anak dengan alasan yang sama.
...TBC...
Jangan lupa lempar Alana Vote biar berubah pikiran yaðŸ¤
__ADS_1
Ramaikan-ramaikan agar author upnya makin semangat, kalau bisa tiap hari😂