
Alvi, sedari tadi ia memperhatikan Istrinya yang sedang melaksanakan sholat magrib di samping brangkar. Dalam hatinya ia sangat lega tadi Devan dan Angga begitu mudah mencairkan suasana hingga Alana tak bertanya aneh-aneh tentang Tania.
Entahlah, nama Tania begitu keramat menurutnya, wanita yang selalu mengejar-ejarnya dari kelas 1 SMA sampai kuliah mereka berada di ruangan dan jurusan yang sama. Ia bukan khawatir Alana mengetahui bahwa Tania menyukai nya, ia hanya khawatir dengan respon yang akan di berikan Tania jika mengetahui dirinya sudah menikah.
Tania gadis keras kepala, wanita itu akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang ia inginkan. Terbukti Tania bisa kuliah di jerman bahkan tinggal tepat di samping apartemenya.
Alana sangat mudah terpengaruh , gadis berambut indah tersebut sengat gampang mempercayai seseorang yang baru ia kenal. Itulah yang di takutkan Alvi, Tania bukankah wanita pada umumnya, perempuan itu pandai berbicara seolah apa yang keluar dari mulutnya semuanya benar dan terjadi, bahkan wanita itu pandai memengaruhi seseorang.
Lamunan Alvi buyar ketika mendegar Alana membawa Do'a penutup setelah mengaji, ia melempar senyum ke arah gadis kesayangannya ketika Alana menatapnya. Gadis itu bangkit lalu mengampirinya, meraih tangan kekar lalu menciumnya.
Tak lupa Alvi mengecup kening gadisnya. "Udah lancar ya bacaanya."
"Kan di ajarin sama Aa." jawab Alana.
Gadis itu kembali menjauh, membereskan semua peralatan sholat juga mengaji yang telah gadis itu gunakan. Melihat Alana seperti memikirkan sesuatu Alvi memanggil namanya.
Alvi mengeser tubuhnya sedikit ke pinggir brangkar, berbaring menghadap Alana. "Sini!" panggil Alvi menepuk tempat kosong di sampingnya.
"Nggak mau." Alana mengulum senyum, meletakkan sajadah juga mukena yang telah ia pakai di Sofa.
"Aa masih rindu." rengek Alvi.
Alana tertawa melihat Alvi memanyungkan bibir tebalnya ia mendekat lalu tidur di samping Alvi sesuai perintah lelaki itu.
Grep
Dengan sigap Alvi memeluk tubuh Alana seperti guling, apa lagi sekarang selang infus di tanganya sudah di lepaskan, membuatnya bisa leluasa bergerak. Ia mengecup wajah Alana tanpa melewatkan seincipun membuat gadis itu tertawa dalam pelukannya.
__ADS_1
"Geli Aa." Mendorong wajah Alvi agar menjauh darinya, ia tidak suka dengan bulu-bulu halus di rahang lelaki itu.
Alana menyusuri rahang Alvi, sangat kasar karena mulai di tumbuhi bulu-bulu halus, gadis itu memanyungkan bibirnya tanda tidak terima suaminya se jorok ini.
"Berapa hari Aa nggak bercukur?"
"Sejak kamu pergi dari rumah."
"Kok gitu?"
"Nggak ada yang ingetin, nggak ada yang cukurin."
"Yaampun bayi gede aku di tinggal bentar aja udah kayak gini, gimana kalau aku tinggal bertahun-tahun udah kayak gelandang pasti." gemes Alana.
"Makanya jangan ninggalin."
Pelukan Alvi semakin erat membuat Alana tidak bisa melakukan apapun, bermain ponsel saja sulit, apa semua laki-laki akan menja seperti suaminya jika sedang sakit?
"Geser dikit Aa!" perintah Alana.
"Nggak mau." rengek Alvi semakin menggerakkan wajanya di ceruk leher Alana.
Rasanya ia ingin terus berada di dekat Alana, aroma tubuh gadisnya membuatnya nyaman. Ia tersenyum ketika merasakan elusan di punggungnya. Tanpa sadar ia tertidur padahal masih jam 7 malam.
Sama halnya dengan Alana yang juga tertidur dalam pelukan Alvi. Keheningan tercipta di ruangan itu , hanya detik jam yang bersahut- sahutan dengan suara jangkrik di luar sana. Dinginnya hawa malam ini tak mampu memupuskan kehangatan di antara mereka.
Sakin terlelapnya mereka sampai tidak menyadari kehadiran Bunda Anin dan Ayah Kevin yang kini berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
wanita paruh baya yang baru saja datang kerumah sakit hendak menjenguk menantunya tersenyum ketika membuka pintu ruang rawat Alvi dan mendapati anak dan menantunya tidur berpelukan. Hati Anin merasa lega, akhirnya Alana mau menurunkan egonya demi keuntuhan rumah tangga mereka.
Dengan sigap bunda Anin menarik ayah Kevin agar melihat kemesraan putri dan menantunya. "Lihat mas."
"Udah liat, kenapa? mau juga? ayo kita pulang, kalau perlu buat adik untuk Alana juga mas mau."
"Ais mas." kesal Anin melihat respon suaminya. "Gini amat punya suami dingin dan arogant." gerutnya sembari menutup pintu ruang rawat Alvi dan mengurungkan niatnya masuk karena takut menggangu Alana dan Alvi tidur.
"Jangan pernah berfikir untuk misahin mereka sampai Alana sendiri yang meminta, apapun Alasannya nanti."
"Hm."
"Janji." mengayungkan jari kelingkingnya. Semoga apa yang ia sembunyikan selama ini tidak akan berdampak buruk bagi hubungan Alvi dan Alana kedepannya jika ayah Kevin tahu
"Ngapain harus janji? itu tergantung bagaimana Alvi memperlakukan Alana. Tidak ada kata maaf dan kesempatan kedua jika kasus itu menyangkut perselingkuhan."
"Ternyata aku baik baget ya Mas, sampai mau memaafkan dan memberi kesempatan kedua sama mas padahal udah selingkuhin aku."
"Mas nggak pernah selingkuh ya," sanggah Kevin.
"Iya nggak pernah selingkuh, cuma pernah jalan sama mantan saat aku hamil," cibir Anin.
...TBC...
Penasaran nggak gimana lika-liku rumah tangga orang tua Alana dulu? kalau ia kalian langsung meluncur aja ke novel dedek yang satunya, Terpaksa Menikah.
Oh Iya, Dedek nggak pernah bosen ngasih rekom novel seru buat kalian nih.
__ADS_1