
Mendegar kakek Farhan keluar dari rumah sakit dan akan tinggal di rumah barunya, gadis berambut indah tersebut sangat bahagia, sekarang ia akan punya teman mengobrol yang asik, tidak seperti Alvi yang seperti patung jika di ajak bicara.
Ia menuruni anak tangga satu persatu perlahan-lahan, rasa nyeri di bagian intinya belum juga hilang padahal hari menjelang siang.
Bi Neneng menghampiri Alana kala melihat gadis itu menuruni satu persatu anak tangga. Pesan Alvi agar tidak membiarkan Alana menuruni anak tangga karena sedang tidak enak badan masih melekat dalam otaknya.
"Aduh Neng, kalau butuh sesuatu tinggal teriak aja, jangan turun, Neng kan sakit." khawatir bi Neneng.
Alana mengenyit, sakit? sejak kapan dia sakit, kenapa raut wajah bi Neneng terlihat sangat khawatir. Ia menepuk pundak wanita paruh baya itu sembari tertawa.
"Alana nggak sakit bi, nggak usah berlebihan deh."
"Tapi kata Tuan..."
"Makan siangnya udah siap?" potong Alana kala mendengar suara mobil di garasi, itu artinya Alvi dan kakek Farhan sudah datang. Ia sengaja menyuruh bi Neneng memasak menu spesial.
Tanpa menunggu jawaban ia sedikit berlari membuka pintu berniat menyambut kedatangan kakek Farhan, namun langkahnya terhenti di ambang pintu kala tubuh kekar menghalanginya. Ia menatap kesal lelaki di depannya.
"Minggir Aa, aku mau nyambut Kakek." Ia sedikit mendorong bahu kekar itu namun tak bergerak sama sekali.
"Hiyaaaa." teriak Alana ketika tubuhnya melayang ke udara, di gendong seperti karung beras oleh Alvi. Ia memukul-mukul pinggang kekar lelaki tersebut, berteriak menyuruh Alvi menurunkannya. "Aa, turunin, aku mau ketemu Kakek."
Bruk
Ia merengut kala Alvi menurunkannya di atas ranjang. "Nyebelin banget sih."
"Ganti baju." titah Alvi.
"Ganti baju atau saya cium."
Bukanya takut, Alana malah memanyungkan bibirnya. "Hilih Aa kira aku takut, ayo cium" cibirnya masih belum menyadari kekesalan Alvi.
"Saya..."
"Aa sayang, kata mbak Desi, jangan pakai kata saya, aku aja biar lebih romantis." gemes Alana menangkup kedua rahang tegas Alvi.
__ADS_1
"Siapa Mbak Desi?" selidik Alvi.
"Itu yang lagi baca tulisan ini, ia nggak mbak?" Alana melepas tangkupannya lalu turun dari ranjang namun Alvi menahan pergerakannya.
"Aku lapar Aa!" bentak Alana tidak mengerti jalan pikiran Alvi, makan siang sudah tiba, cacingnya pada ngamuk minta di isi, belum lagi ia belum bertemu kakek Farhan, malah di tahan di kamar oleh lelaki yang entah apa maunya.
"Ganti baju kamu!"
"Dahlah ngomong sama Aa bikin darah tinggi, aku lapar pengen makan."
"Say...Aku akan buat kamu kenyang selama sembilan bulan jika kamu melewati pintu kamar tanpa menganti baju." ujar Alvi dingin membuat langkah Alana terhenti, jika suara Alvi sudah berubah itu artinya lelaki tersebut sedang marah.
Apa ada yang salah dengan pakaiannya? sepertinya tidak, Tank top hitam di padukan celana jens sepertiga paha, pakaian yang selalu ia gunakan jika di rumah, dan baru kali ini Alvi mempermasalahkannya.
Walau begitu ia tetap nurut berjalan kearah lemari mengambil baju daster yang ia beli beberapa hari yang lalu, kemudian memakainya.
"Puas?"
"Hm." bukan tanpa Alasan Alvi tiba-tiba menghadang Alana di depan pintu, di pos jaga banyak satpam nongkrong, ia tidak ingin tubuh gadisnya di nikmati banyak orang. Dan lagi sekarang ada kakek Farhan di rumah mereka, jangankan orang lain, kakek Farhan saja ia tidak sudi jika melihat paha dan lengan mulus Alana.
***
Merasa di kucilkan Alvi memilih masuk keruang kerjanya, mengalihkan rasa cemburu yang tak mendasar.
Sementara di tempat lain sepasang manusia berbeda generasi sedang asik tertawa, bukan lagi mereka menonton Tv, tapi Tv yang menonton mereka.
"Nando mana?" tanya Kakek Farhan.
"Paling juga di ruang kerjanya Kek, mau Alana panggilin?" tawar Alana hendak bangkit namun di cegah oleh kakek tua itu.
Farhan ingin membicarakan hal serius dengan Alana tanpa kehadiran Alvi di sekitar gadis itu.
"Nando nggak pernah bentak, bikin kamu nangis atau mukul kamu kan?" Selidik kakek Farhan, ia tidak ingin Alana jadi sasaran akan ke egoisannya ingin melihat Alvi menikah dengan orang yang tepat.
"Nggak, malah Alana yang sering bentak atau buat Aa kesal." jujur Alana dengan senyum mengembang. "Tapi Aa nggak pernah marahin aku."
__ADS_1
Kakek Farhan bernafas lega, akhirnya Alvi sedikit, demi sedikit berubah dekat dengan Alana. Saat SMA ia sering mendengar kabar dari Devan bahwa Alvi selalu membuat teman ceweknya menangis di sekolah.
Sebenci itu Alvi pada makhluk bernama perempuan, lelaki itu tidak segang-segang menyakiti atau membentak hingga gadis yang mengerjar-ejarnya menangis. Namun semuanya berubah saat gadis ceria berambut indah masuk kedalam kehidupannya. Emosi yang selalu tersulut jika melihat perempuan, apa lagi mendekatinya, bisa ia kendalikan.
Puas berbincang-bincang dengan kakek Farhan Alana kembali ke kamar dan mendapati Alvi duduk bersandar di atas ranjang tanpa memakai baju. Ia mengembangkan senyumnya naik ke atas ranjang lalu tidur di samping lelaki itu.
"Ingat kamar?" cibir Alvi masih fokus pada buku yang ia baca.
Bukannya menjawab Alana malah pindah posisi tidur di pangkuan Alvi menghadap roti sobek lelaki itu.
"Aku ingin jadi ibu Aa." Alana mulai memancing, ia ingin membicarakan ini pada Alvi. Ia sudah tahu bahwa wanita yang ada dalam foto itu adalah ibunya Alvi, dan kakek Farhan sudah menjelaskan semuanya.
"Nggak usah, cukup jadi istri aku." dingin Alvi melirik Alana sinis. Tidak suka wanita bergelar ibu di sebut-sebut di depannya.
"Auw." ringis Alvi ketika Alana mengigt roti sobeknya.
Lelaki itu meletakkan buku yang ia baca di atas nakas lalu menunduk memperhatikan wajah gadisnya.
Alana membalas tatapan elang Alvi, lalu tersenyum manis tanpa dosa namun terlihat sangat mengemaskan. "Bikin gemes roti sobeknya, Aa." cengirnya memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Potongannya juga lebih banyak dari milik Azka." lanjut Alana tanpa sadar.
"Minggir aku mau tidur." dingin Alvi, tak suka mendengar istrinya menyebut cowok lain apa lagi tadi gadis berambut indah itu mengatakan pernah melihat roti sobek Azka.
"Nggak mau." Alana melingkaran tangannya pada pinggang Alvi.
Kenapa Alana sangat tidak peka? apa ia tidak menyadari kecemburuan Alvi. Api cemburu yang sedari tadi tersulut pertama kali saat kakek Farhan menginjakkan kaki di rumahnya di tambah Alana menyebut cowok lain di depannya.
"Siapa lagi cowok yang pernah kamu liat rotinya?"
"Ken, Rayhan, tapi perut Rahyan nggak banyak malahan nggak terlalu kentara kayak milik Aa. Terus Samuel, Ricky dan Dit...ehhhmp."
Tanpa basa basi, Alvi membungkam mulut Alana dengan bibirnya, tidak tahan mendengar semua yang dikatakan gadis itu, ia cemburu namun gengsi untuk mengakuinya.
"Ganas banget sih." cibir Alana dengan nafas tersengal-senga akibat serangan tiba-tiba Alvi yang sangat kasar.
"Again!" pinta Alvi.
__ADS_1
Alana mendengus. "Again-again, noh sama sabun, nggak usah sama aku." kesal Alana berpindah posisi tidur membelakangi Alvi. Sikap Alvi hari ini sangat berbeda, sering membuatnya kesal dan juga memaksa tanpa sebab. Sama sekali tidak ada manis-manisnya.
...TBC...