
Tanpa siapapun tahu, Alana berangkat ke Indonesia, urusan kampus yang belum selesai, semuanya akan di urus oleh Ayah Kevin, sekarang ia ingin bertemu dengan Alvi dan membagikan kabar bahagia ini pada semua orang.
Alana mengeret kopernya keluar dari bandara, menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Ah ya, ia sangat rindu suasana tanah kelahirannya.
"Welcome Indonesia!" seru Alana.
Matahari di sore hari sunggu menyilaukan mata indahnya, ia mengambil kaca mata hitam di dalam tas lalu memakainya. Berjalan perlahan-lahan mencari taksi. Jika ada yang melihatnya, tidak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah calon ibu.
Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah mendapat taksi, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, memberitahu sopir taksi itu alamat yang akan ia tuju. Tak henti-hentinya Alana tersenyum, mengelus perut ratanya, bahkan sekali-kali calon ibu itu mengajak babynya berbicara.
"Nggak sabar ya ketemu sama Daddy?" gumam Alana mengelus perutnya. "Sama Mommy juga nggak sabar."
Mengalami macet berkepanjangan di sore hari, membuat Alana terlelap di dalam mobil. Jika bukan sopir taksi yang membangungkannya mungkin ia tidak akan bangun sakin lelahnya perjalan jauh.
"Rumahnya yang mana neng?" tanya sopir taksi setelah memasuki kawasan perumahan elit.
"Pagar hitam no 273 pak," jawab Alana merapikan kembali tasnya.
Gadis itu bersiap-siap turun setelah taksi berhenti dengan aman. Tersenyum ramah pada satpam pengaja rumahnya.
__ADS_1
"Mang tolong bawain koper saya ya. Makasih," ujar Alana setelahnya berjalan memasuki rumah yang sangat ia rindukan, rumah yang ia tinggalkan selama empat tahun lebih. Rumah penuh kenangan bersama dengan Alvi.
Baru saja akan mengucapkan salam, suara seseorang sedang bercengkrama terdegar. Alana mematung di ambang pintu mendengar suara anak kecil juga suara Alvi.
"Daddy, kenapa Mommy belum pulang?"
"Bentar lagi Mommy pulang sayang, tunggu ya," bujuk Alvi.
"Kalau gitu ayo temenin Alga main di taman."
"Daddy nggak enak badan sayang, lain kali ya,"
Tak terasa air mata Alana jatuh membasahi pipi cubinya, tanpa mengatakan apapun, ia berbalik lalu menghampiri satpam yang mengeret kopernya, diraihnya koper itu lalu berjalan ke pagar utama.
"Sepertinya saya lebih rindu sama Bunda, Mang."
Kebetulan taksi yang ia tumpangi belum pergi, gadis itu mambuka pintu mobil lalu menyuruh sopir taksi segera pergi sebelum Alvi menyadari keberadaannya. Walau bingung sopir taksi itu nurut. Gadis yang sedari tadi tersenyum kini kembali ke mobilnya sembari menangis.
"Ternyata Mommy salah sayang," gumam Alana. "Daddy nggak pernah mengharapkan kehadiran kita, dia udah bahagia." Air mata Alana semakin deras isakan di bibir mungilnya kian menjadi.
__ADS_1
Saat mobil akan mendekati rumah orang tuanya, Alana buru-buru menghapus air mata di pipinya, menutupinya dengan bedak agar tak terlihat, juga memasang kaca mata hitamnya.
"Makasih pak," ujar Alana menunduk sopan setelah menurunkan kopernya, ia di sambut hangat oleh mang Ucup sopir pribadi di rumah orang tuanya.
"Ele...ele si enneng, pangling mamang liatnya, makin cantik aja," ujar mang Ucup yang awalnya tak mengenali Alana. "Selamat ya neng atas kelulusannya."
"Biasa aja Mang Ucup mah," balas Alana. "Saya masuk dulu ya Mang."
Jika dirumahnya ia disambut dengan sesuatu yang menyakitkan, maka disini ia di sambut dengan hangat. Bunda Anin langsung memeluknya saat melangkah memasuki rumah tempat ia di besarkan.
"Ya ampun sayang, kenapa nggak bilang mau pulang, bunda bisa jemput di bandara."
"Ayah mana?"
"Masih di luar kota sayang," jawab bunda Anin. "Alvi tahu kamu pulang? kok nggak langsung kerumah?" intro bunda Anin ingin melepas kacamata Alana tetapi dengan sigap gadis itu mencegahnya.
"Aku kangennya sama bunda. Udah dulu peluk-peluknya, Alana lelah mau istirahat."
Tanpa curiga sedikitpun, bunda Anin melepaskan Alana untuk istrirahat di kamarnya, sementara dirinya beralih ke dapur untuk menyiapkan makan malam nanti untuk Alana dan juga Suaminya yang akan pulang malam nanti.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa Komen, vote, dan like.