Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 164


__ADS_3

Jam sembilan pagi Alana terbangun dan tidak mendapati Alvi di kamarnya. Wajah yang terlihat bahagia itu seketika berubah kecewa, apa iya Alvi pergi saat ia tertidur?


Alana meraih baju kaos Alvi di lantai lalu memakainya. Mencuci muka di kamar mandi setelahnya keluar kamar mencari keberadaan sang suami. Bekali-kali Alana memanggil nama Alvi tetapi tak ada sahutan membuat moodnya semakin down.


"Aa beneran udah pergi," lirih Alana barbalik hendak kekamarnya tetapi seseorang memeluknya dari belakang.


"Nyari siapa, Hm?" bisik Alvi di telinga Alana.


"Kirain udah pergi," cicit Alana.


Alvi hanya mengulum senyum, mengedong sang istri ke meja makan, ia sudah menyiapkan sarapan untuk Alana juga dirinya.


Bukannya makan, Alana malah memerhatikan penampilan Alvi yang sangat rapi seperti akan pergi, ia menggigit bibir bawahnya penasaran tapi tak ingin bertanya, takut dengan jawaban Alvi.


Dirinya tersentak saat tangan Alvi mengenggam tangannya. "Makan sayang!" perintah laki-laki itu.


"Aa mau kemana? mau pulang ya?"


"Mau antar istri Aa kuliah, kenapa? mau ikut?" jawab Alvi.


"Pasti istrinya bahagia banget."


"Tantu saja." Mengelus puncak kepala Alana.


***


Sesuai perkataan Alvi, ia mengantar gadisnya ke kampus terlebih dahulu lalu akan mengunjungi kafe milik Ayah Kevin di sekitar kampus sembari nunggu sang istri pulang.


"Keluar jam berapa? nanti Aa jemput," Membantu Alana melepas seatbelt.

__ADS_1


"Dua belas siang kayaknya A," jawab Alana sembari mencium punggung tangan Alvi, memejamkan mata saat benda kenyal menyentuh keningnya.


Alana melambaikan tangannya, saat mobil Alvi melaju mulai meninggalkan parkiran, ia tersenyum saat seseorang menyapanya. Seorang wanita yang kebetulan satu ruangan dengannya.


"Di antar sama siapa?" tanya Anita teman baru Alana di kampus.


"Suami," jawab Alana sembari mengulum senyum. Ada rasa bangga saat mengatakan itu pada Anita.


"Jadi rumor tentang lo udah nikah itu beneran?" Mata Anita membulat sempurna, tak percaya Alana benar-benar sudah menikah.


"Lo nikah bukan karena...hamil kan," lirih Anita di akhir kalimat.


Alana hanya menanggapi dengan senyuman, setiap ada yang mengetahui dirinya nikah muda, mereka akan bertanya hal yang sama. Apa nikah mudah adalah suatu kesalahan di mata orang banyak?


Tak ingin pusing memikirkan pendapat orang lain, Alana mengajak Anita masuk karena sebentar lagi dosen akan datang.


"Lo belum jawan pertanyaan gue Al," ulang Anita.


"Pantesan lo nggak tertarik sama kak Raga padahal dia cowok terkeren di fakultas kedokteran. Ternyata udah ada pawang."


Setelah mata kuliah selesai dan berjalan lancar, Alana menghubungi Alvi agar menjemputnya. Gadis itu sengaja menunggu Alvi di kantin karena tak kuat berdiri terlalu lama apa lagi matahari di luar sangat terik.


Alana mempunyai daya tarik tersendiri bagi kakak tingkatnya mulai dari pertama ia menginjakkan kaki di kampus. Sikapnya yang terlihat cuek dan acuh pada sekitar membuat para laki-laki penasaran akan kepribadian gadis cantik dan mengemaskan itu, salah satunya seorang cowok yang kini berjalan mendekati Alana dan duduk tepat di hadapan gadis itu.


"Di sini ternyata, kirain udah pulang," ujar Raga.


"Ini mau pulang," jawab Alana menyesap jus yang tinggal setengah itu.


"Mau pulang bareng gue nggak? kebetulan gue juga udah selesai," tawar Raga ingin lebih dekat dengan Alana, jika bukan sebagai pacar, teman ia pun rela.

__ADS_1


"Terimakasih kak, tapi nggak perlu," tolak Alana halus melambaikan tangannya pada seorang pria. "Suami gue udah datang," lanjut Alana merapikan tasnya.


Alvi hanya melirik Raga sekilas, lalu mengenggam tangan Alana. Sementara Alana hanya bisa menunduk sembari tesenyum memerhatikan tangannya di genggam erat oleh Alvi.


"Siapa?" tanya Alvi setelah lama terdiam di dalam mobil.


"Kak Raga," jawab Alana.


"Aa nggak nanya nama Al."


"Mau makan di mana?" tanya Alana


"Susah banget ngejawab pertanyaan Aa?"


"Aku harus jawab apa lagi A? tadi kan udah, Dia kak Raga anak fakultas kedokteran," sahut Alana tak mengerti apa yang di pikirkan Alvi.


"Kenapa dia bisa sama kamu?" Intro Alvi belum juga melajukan mobilnya.


"Kak Raga cuma ngajak pulang bareng, tapi aku nolak dan bilang mau di jemput sama Aa, itu aja," jawab Alana tanpa ada yang di tutup-tutup.


"Yakin cuma itu?"


Ekspresi Alana yang semula santai kini berubah serius, ia menatap Alvi.


"Kenapa aku merasa pertanyaan Aa seolah-olah menuduh aku berbuat yang nggak-nggak?" tanya Alana dengan mikik wajah serius. "Aku nggak suka di tuduh asal Aa tau. Jangan sampai aku berpikiran hal yang sebaliknya." Alana menjeda, mengalihkan tatapanya ke luar jendela. "Aku mau pulang," lirihnya.


"Katanya mau makan dulu."


"Udah nggak ada selera," jawab Alana acuh.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like, komen, dan Vote.


__ADS_2