Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 151


__ADS_3

Melihat tingkah Alvi, membuat Alanan terheran -heran. Laki-laki itu tak henti-hentinya menyunggingkan senyum sejak memasuki kamar. Tingkat kewaspadaan Alana semakin tinggi saat Alvi membuka baju kaosnya begitu saja lalu menarik kakinya agar tidur telentang, padahal ia lagi membaca novel dengan posisi bersandar pada kepala dipan.


Ini bukan pertama kalinya, tapi Alana di buat sesak nafas dengan pemandangan di hadapannya. Perut kotak-kotak dengan keringat yang menghiasi sunggu membuat Alana tergoda. Ia mematung terus menatap perut itu hingga tak sadar kini Alvi berada di atasnya.


Menarik tangan mungil itu lalu menempelkan pada perutnya dengan kerlingan menggoda. "Milik kamu, di pegang aja sayang."


Blush


Semburat merah mengembul di kedua pipi Alana, malam ini ia dibuat panas dingin oleh Alvi. Entahlah apa yang ada di pikiran laki-laki itu dan dari mana suaminya hingga berkeringat sangat banyak di malam hari.


"Mau ngapain?" tanya Alana.


"Ambil jatah selama tiga hari," jawab Alvi mengendus ceruk leher Alana bergantian dengan rahang juga area di bawah telinga.


Alana memejamkan mata ketika Alvi menyesap ceruk lehernya dan meninggalkan tanda kepemilikan disana. Tangan yang semula bertumpu pada kasur mulai nakal membuka satu persatu kancing piyama sang istri.


"Tuan, Maaf mengganggu, di depan ada tamu nyariin nyonya Alana," teriak bi Neneng di balik pintu kamar mereka.


"Siapa bi? suruh masuk aja!" sahut Alana.


Tak ada lagi sahutan dari luar, yang artinya bi Neneng sudah pergi. Alana menghentikan kegiatan sang suami.


"Ada tamu Aa." mendorong dada bidang laki-laki itu.


"Setelah ini sayang," rengek Alvi, tapi tetap saja Alana mendorongnya ke samping.


Alana merapikan piyama tidurnya kembali, mencepok rambutnya asal, berjalan ke arah meja rias, lalu mengoleskan fondation untuk menutupi tanda kepemilikan Alvi di lehernya. Sebelum keluar dari kamar tak lupa ia mengecup bibir Alvi.


"Aku keluar dulu, jangan ngambek Aa sayang," ujar Alana.


"Siapa?" tanya Alvi masih tak rela.


"Nggak tau."

__ADS_1


Awalnya Alana sedikit heran melihat kehadiran Salsa di rumahnya, tapi tetap saja ia melempar senyum menyapa sahabatnya itu.


"Kenapa?" tanya Alana duduk di samping Salsa.


Alana mematung ketika Salsa memeluknya dan langsung menangis.


"Sal, lo kenapa?" tanya Alana mengelus punggung Salsa, mencoba menenangkan sahabatnya.


"Hari ini ulang tahun dia Al, harus...harusnya....dia bersama gue malam ini," lirih Salsa dalam pelukan Alana.


Tak ada yang bisa di perbuat Alana, selain mendengarkan seluruh curhatan hati Salsa, juga menenangkan sahabatnya.


Melihat Alvi datang hendak membuka suara, Alana dengan cepat memberi kode agar laki-laki itu diam dan menyuruh suaminya duduk di sofa lain.


"Gue mau minum," lirih Salsa.


"Biar saya aja," ujar Alvi saat Alana akan berdiri untuk mengambil minum.


Bi Neneng membawa dua gelas air putih lalu meletakkannya di atas meja, wanita paruh baya itu menggangguk setelah Alana mengucapkan terimakasih. Alvi? laki-laki itu masih di dapur untuk mendinginkan kepala juga tubuhnya.


"Malam ini gue bermalam di rumah lo ya."


Alvi mengeleng, memberi kode agar Alana tak setuju, apa lagi saat Salsa mengatakan ingin tidur di temani Alana.


"Iya, gue bakal temenin lo malam ini, jadi jangan sedih lagi okey."


Malam semakin larut, baik Alvi dan Alana tak ada yang bisa tidur. Alvi sibuk dengan dunianya di dalam kamar, sementara Alana sibuk bermain ponsel di samping Salsa di kamar tamu.


Kenapa belum tidur?


Senyum Alana mengembang melihat pesan sang suami.


Belum ngantuk Aa

__ADS_1


Balas Alana


Tidur sayang, udah tengah malam!


Aku kangen sama Aa


Alana memanyungkan bibirnya saat Alvi hanya mengread pesannya.


Aa ada di depan


Pesan terakhir Alvi berhasil mengundang senyum di bibir Alana. Gadis itu perlahan-lahan turun dari ranjang, dan menemui sang suami di depan pintu. Maafkan dirinya karena tidak setiakawan.


***


Pagi harinya setelah kepergian Salsa, Alana menyiapkan keperluan laki-laki itu untuk berangkat ke Bandung. Alana memaksakan senyumnya setelah semua selesai, dan Alvi akan pergi. Sedih? tentu saja dirinya sangat sedih, Alvi akan pergi selama tiga hari. Tapi ia juga tidak boleh egois mementingkan diri sendiri.


Di ambang pintu, Alvi menghentikan langkahnya, sama seperti Alana ia tidak ingin pergi, apa lagi sedari tadi perasaanya tidak tenang seperti akan terjadi sesuatu.


"Kamu ikut Aa ke bandung aja ya, perasaan Aa nggak tenang ninggalin kamu di sini," bujuk Alvi, untuk kesekian kalinya.


"Aku nggak papa Aa, itu cuma perasaan Aa aja," ujar Alana. "Lagian hari ini aku bakal kerumah sakit ngambil hasil USG, sekalian nemenin Kakek kontrol sama dokter Angga."


Demi meringangkan perasaan tidak tenangnya, Alvi mengantar sang istri kerumah Ayah Kevin, sebelum berangkat ke Bandung.


"Jaga diri baik-baik," pesan Alvi mengecup kening Alana begitu lama sebelum gadis itu turun dari mobil.


"Aa juga hati-hati di jalan ya," ujar Alana mencium punggung tangan Alvi.


***


Jangan lupa Vote mumpung hari senin ya akak cantik.


Mampir juga yuk di novel kakak online aku.

__ADS_1



__ADS_2