Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra Part 21


__ADS_3

Usai membersihkan diri setelah habis jalan-jalan malam dengan Arga, kini Alvi membaringkan tubuhnya tepat samping baby Twins A. Ia memainkan jari-jarinya di pipi mulus Alatha dan sesekali mengecupnya, gemas melihat kedua anaknya.


"Udah jam delapan malam, prinses Daddy kok belum pada tidur, hmm. Nungguin siapa sayang?" ujar Alvi mengajak kedua anaknya berbicara, sementara Alana sibuk menyusui Agatha dengan posisi tidur, walau masih terlihat kesusahan.


"Gitu, yang di sapa cuma Alha dan Atha, aku udah nggak. Emang ya kalau udah punya anak, istri di lupain. Jalan-jalan sama Arga aku nggak di ajak lagi."


Alvi mengulum senyum melihat wajah kesal sang istri, sudah seminggu lebih Alana selalu protes bahwa kasih sayangnya berkurang. Ia kini beralih mengelus pipi sang istri, juga memainkan anak rambutnya.


"Mana mungkin Aa lupa sama istri cantiknya. Kasih sayang A ke kamu nggak akan pernah hilang, malahan akan terus bertambah sayang. Arga tadi cuma pengen makan es krim di Indoapril depan."


"Lain kali kalau nyapa mereka sapa aku juga," cemberut Alana.


"Iya istriku sayang," sahut Alvi mengecup bibir dan kening Alana.


Alvi mengambil posisi sama seperti Alana, tidur menyamping dengan tangan sebagai penyanggah memperhatikan ketiga makhluk yang sangat ia cinta. Tangannya dengan lincah menyanggah buah semangka yang hampir saja menutupi hidung Agatha karena Alana hampir aja terlelap.


"Maaf Aa, aku nggak sengaja." Mata yang semula tertutup kembali terbuka kaget akan tangisan Agatha. "Sepertinya buah semangka aku besar banget, kan jadi gini."


"Tapi Aa suka sayang," sahut Alvi mengulum senyum.

__ADS_1


"Ini cuma milik Baby Twins,"


"Enak aja, ini cuma milik Aa," Alvi meremas ketika Agatha sudah kenyang. "Udah untung Aa mau berbagi."


"Kamu dengar sayang, Daddy kamu itu sangat pelit," ujar Alana.


Agatha mengeliat lucu saat Alana mendekapnya gemas. Keduanya larut dalam candaan bermain dengan baby Twins mereka hingga suara bocil terdengar memasuki kamar.


Arga sekuat tenaga memanjat hingga berada di atas rajang, berjalan menghampiri Mommy, Daddy dan dedek kesayangannya.


"Bocil pelan-pelan sayang, gimana kalau kaki dedek keinjak, terus nangis."


"Maaf Daddy,"


"Alga mau tidul sama dedek boleh?" mengerjap erjapkan matanya.


"Boleh dong sayang, tidur sini sama Daddy." Alvi sedikit menyingkir memberi ruang agar Arga tidur di samping Alatha yang sibuk dengan jari mungilnya.


"Alga mau nani lagu bobo buat Dedek, dengelin ya!"

__ADS_1


"Bobo ... booo, dedek Alga bobo ... bobo ... Alga sayang dedek, love you dedek A. Alga bobo ... dedek juga bobo ... Alga sayang dedek ...."


Alvi dan Alana mengulum senyum mendengar nyanyian Arga, mata bulat Arga mulai sayu dan perlahan-lahan tertutup walau mulutnya masih mengeluarkan nyanyian tidak jelas.


Memastikan Arga benar-benar terlelap, Alvi mengendong bocil itu kembali kekamarnya, atas perintah Alana. Karena ia tidak ingin tidur Arga terganggu kerana tangisan Baby Twins tengah malam.


Sepeninggalan Alvi, Alana ikut memindahkan baby Twins di kotak mesing-masing. Meminum segelas susu di atas nakas yang telah di siapkan Alvi tadi untuknya. Menganti bajunya yang mulai basah akibat ASI yang tumpah-tumpah.


Alana belum mengizinkan Baby Twins pindah ke kamar Bayi karena takut tak mendengar tangisan sang anak tengah malam. Kelahiran baby twins juga belum di umumkan pada publik, banyak yang menanyakan apa jenis kelamin anak mereka tetapi Alana selalu menjawab, mereka kan mengumumkan di acara Aqikah nanti.


Perkara Aqikan yang belum dilaksanakan walau umur kedua anaknya hampir satu bulan, kerena Alana ingin 40 hari kematian Oma Jelita selesai dulu. Dirinya tak sanggup jika harus membuat pesta penyambutakn kedua babynya sementara mereka masih berduka.


Senyum Alana mengembang saat keluar dari ruang ganti dan mendapati sang suami tidur beralaskan kedua lengannya dengan dada juga perut terekspos indah. Ia merangak naik ke tempat tidur laku merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Mencium lengan lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alvi.


Dengan nakal Alana mengigit leher Alvi membuat sang empunya tertawa mengelitik pinggangnya. "Jangan nakal sayang, atau Aa nggak bakal biarin kamu tidur sampa pagi."


"Masih ada 20 hari sebelum masa nifas berakhir, wlee kasian banget harus puasa," ledek Alana.


"Aa akan sabar menunggu untuk sesuatu yang memuaskan 21 hari yang akan datang," seringai Alvi.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa like, komen dan Vote. Mampir juga di cerita baru dedek "Cinta dan masa Lalu."


__ADS_2