
Sedih akan sikap semua orang terhadapnya, Alana kini duduk di depan meja rias menumpu kepalanya pada meja, berbicara sendiri seperti orang gila. Tanpa menyadari keberadaan Alvi di dalam kamar mereka.
"Karena semua orang nggak ada yang sayang sama gue, malam ini lo yang temenin gue!" mengajak bicara pentulan dirinya di cermin. "Okey bestie?"
"Selamat Alana, lo emang bestie gue yang the best, sukses selalu, malam ini kita akan berpesta." Merubah suaranya seperti orang lain.
"Nggak mau!"
"Kenapa?" Alana kembali mengubah suaranya.
"Gue sedih nggak ada yang sayang sama gue, Aa juga lebih mentingin pekerjaan dari pada makan malam sama gue. Ayah sama Bunda juga."
Tak sanggup lagi melihat Alama bersedih dan berbicara sendiri, Alvi mendekat lalu menepuk pundak Alana, tersenyum hangat pada gadis itu.
Alana menyentuh bulir-bulir bening di pelupuk matanya, biarkan hanya dia yang tahu kesedihannya tidak perlu orang lain. Berpura-pura tegar adalah pilihan saat ini.
"Katanya banyak kerjaan, kok pulang?"
Rangkulan hangat di tubuh Alana mampu membuatnya terdiam, rasa hangat menjalar di tubuhnya kala Alvi semakin erat memeluknya, ucapan maaf terdengar dari mulut lelaki itu tanpa Alana tahu apa kesalahannya.
__ADS_1
Alvi melerai pelukannya, membenamkan bibirnya di kening Alana begitu lama. Hembusan nafas hangat menerpa kulit putih gadis itu, memejamkan mata menikmati semuanya. Ada apa dengan Alvi sikapnya malam ini begitu aneh.
"Selamat sayang. Selamat atas kelulusan yang kamu raih, Aa akan selalu mendukung apapun keinginan kamu. kejarla cita-citamu setinggi mungkin. Karena guru pertama terbaik seorang anak adalah ibunya."
"Ganti baju dengan yang lebih sopan!" perintah Alvi.
Alana tak mengidahkan terus menatap pancaran mata Alvi, seperti menyiratkan kebohangan.
"Aa nggak nyumbunyiin sesuatu sama aku belakang ini? Aa tau sendiri aku nggak suka di bohongi apa lagi tahu sendiri?"
"Nggak ada sayang."
"Selamat sayang, akhirnya penantian dan perjuanganmu selama ini terbalas. Semoga gelar maba yang sudah direngkuh menjadi awal untuk meraih cita-cita besarmu di sama depan.”
"Makasih bunda." Alana menjeda. "Bunda kapan pulang?"
"Semalam, saat Alvi menelfon bunda dan mengatakan hari ini hari pengumuman kelulusan kamu masuk Universitas sayang."
__ADS_1
Bukan hanya bunda Anin yang hadir, semua orang tersayangnya hadir malam ini untuk merayakan hari bahagianya, makan malam bersama penuh canda tawa dan kebahagiaan, tanpa sadar malam semakin larut.
Pesta berlalu begitu cepat, tetapi bunda Anin dan Kakek Farhan belum ada yang pulang, karena kakek Farhan mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Alana menatap Alvi, mencoba mencari jawaban dari lelaki itu, tak biasanya kakek Farhan seserius ini apa lagi meminta kedua orang tuanya berkumpul. Semoga apa yang ada di pikirkannya tidak terjadi, di mana Alvi mengembalikannya pada orang tuanya dengan alasan klasik yaitu bosan.
"Aa nggak lagi mau ngembaliin aku ke ayah sama bunda kan?" tanyanya sangat polos.
"Ngomong apa kamu, hm?" mencubit cuping hidung gadisnya. "Mereka yang meminta saja belum tentu Aa mau ngembaliin istri Aa."
"Kirain kan A."
"Ngadi-ngadi.
Kemesraan keduanya terhenti ketikan kakek Farhan kembali bersuara menanyakan ayah Kevin yang tak kunjung datang, padahal malam mulai larut dan berganti hari.
"Mas Kevin perjalanan kesini pak." jawab bunda Anin.
...TBC...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, Vote, dan sherr."