Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 31


__ADS_3

Siapa sangka hari begitu cepat berlalu baru saja kemarin dia berdebat dengan Alana tentang pernikahan, di tolak oleh Ayah gadis berambut indah tersebut. Dan hari ini dia akan melangsungkan pernikahan, di mana sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi suami orang.


Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi memperhatikan langit-langit kamarnya, sembari pikirannya melayang pada beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan Ayah Alana.


"Om manggil kalian kesini mau memperkenalkan calon suami Alana." Ayah Kevin menepuk pundaknya. "Alvi, kalian tahukan, katanya ngajar di SMA Angkasa."


"Ck, nggak nyangka gue pak Alvi bakal nikah sama Alana." Rayhan berdecak sembari mengelengkan kepalanya. "Yang kuat pak, ngadepin sifat asli Alana, belum yakin gue tuh anak ngeluarin sifat aslinya di depan bapak." peringatan Rayhan membuat yang lainnya tertawa.


"Alvi, Om keluar bentar, kalian ngobrol saja dulu." pamit Ayah Kevin saat mendapat telfon dari seseorang.


"Iya pak." sahutnya.


Keenan menghampirinya lalu memberi selamat ala laki-laki. "Selamat ya pak. Jangain sepupu gue baik-baik, om Kevin banyak musuh di mana-mana." peringat Keenan.


"Akhirnya pak Alvi nikah juga." celetuk Ricky.


Dia menaikkan salah satu alisnya tidak mengerti arah pembicaraan Ricky.


"Pacar mereka pada puji-puji bapak, makanya mereka berdua lega pak Alvi nikah." jelas Keenan.


Tanpa di sangka Samuel yang sedari tadi diam saja melangkah mendekati Alvi lalu memberi selamat ala laki-laki seperti yang di lakukan Keenan.


"Lo kira gue nggak tau apa-apa, hm!" bisik Samuel tepat di telinga Alvi lalu melepaskan rangkulannya.


Kata-kata Samuel sampai sekarang masih tergiang-giang di telinganya, jangan sampai pernikahan yang sudah dia persiapkan batal.


Lamunannya buyar kala mendengar pintu kamarnya di buka dan menampilkan sahabatnya di depan pintu tengah melempar senyum menggoda kearahnya.


"Widih, calon suami orang keren banget gila." heboh Devan sahabat kecilnya. Persahabatan yang sangat awet bukan? padahal sifat mereka berbanding terbalik.


Alvi tak menanggapi selorohan Devan dan malah fokus merapikan jas yang di pakainya.



"Gue pikir lo bakal nikah sama Tania, eh tahu-tahunya nikah sama gadis SMA." goda Devan.


"Bacot!"


"Sukanya sama yang polos-polos ya Vi?"

__ADS_1


Sebelum keluar dari kamarnya, Alvi menyempatkan bebisik di telinga Devan. "Dia punya teman nggak kalah cantik."


***


Sesuai kesepakatan Pesta pernikahan di adakan di Kediaman Adhitama. Mansion mewah tersebut sudah di dekor sedemikian rupa, mulai dari pagar utama, hingga pagar kedua yang langsung terhubung pada Mansion.


Para tamu undangan di hadang untuk melakukan pemeriksaan dan penyitaan ponsel sebelum masuk, untuk menetralisir tidak adanya seseorang yang mengambil gambar dan mempostingnya di sosial media. Tamu yang di undang hanya tamu-tamu peting, teman sekolah Alana, hanya Salsa yang di undang dan Anggota inti Avegas, selebihnya hanya rekan kerja, baik Dari Alvi sendiri maupun dari Kevin.


Bukan hanya para tamu, bahkan ponsel Alvi pun di sita sebelum masuk, dan mau tidak mau sekarang dia harus menemui Alana karena ada yang ingin dia bicarakan. Dia melangkah perlahan menuju kamar yang di tunjuk pelayan tadi, pintu warna biru di sudut ruangan.


Sementara di dalam kamar, Alana mulai di landa kejenuhan, tidak ada teman ngobrol, semua orang sibuk dengan acara pernikahan. Dia bangkit dari duduknya hendak keluar namun tersentak kaget melihat keberadan seseorang yang kini berdiri di depan pintu tanpa berkedip sedikitpun.


"Pak Alvi." tegurnya.


Alvi tak bergeming, terus menatap Alana, satu kata 'CANTIK' dia sedikit tak percaya bahwa yang ada di hadapannya sekarang adalah Alana calon istrinya, gadis ceroboh yang selalu menemaninya dan mau membantunya mewujudkan mimpi kakek Farhan.


"Udah nggak sabar ya sampai-sampai di samperin ke kamar." goda Tante Fany yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Tante." Alana tersipu dan kembali duduk, sementara Alvi mengaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


"Loh...loh ini kenapa mempelai prianya ada di sini?" Hebo Mami Azka yang baru saja datang dengan Salsa. "Ck, setengah jam lagi, setelah itu nggak ada yang bakal misahin."


"Saya pamit."


Ternyata keputusannya menemui Alana tidak tepat, bukannya mendapat jawaban dari apa yang akan dia tanyakan malah malu yang dia dapatkan.


Gugup itulah yang di rasakan Alvi sekarang saat berhadapan dengan ayah Alana. Apa lagi saat tangannya berjabat dengan tangan dingin Kevin calon ayah mertuanya.


Setelah di pastikan semua saksi dan yang lainnya siap, barulah Ijab Qabul di laksanakan.


Kevin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Alvino Vernando bin Abraham Husein dengan anak saya Alana Seizha Kevindra Adhitama dengan maskawin berupa 30% saham Anggara Grup, emas 100 gram 24 karat, uang tunai 300 juta, dan seperangkat alat sholat, Tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Alana Seizha Kevindra Adhitama binti Alfarezi Kevindra Adhitama dengan maskawin tersebut, Tunai!"


"Sah?"


"Sah!"

__ADS_1


Tariak tamu yang hadir berbarengan dengan tepuk tangan riuh.


Beberapa orang tercengang mendegar mahar yang di berikan Alvi pada Alana, salah satunya Rayhan yang sudah hebo sedari tadi.


"Gila pak Alvi mainannya saham." heboh Rayhan masih tek percaya dengan mahar yang baru saja di sebutkan ayah Kevin.


Saham 30% bukanlah perkara sedikit, apalagi saham Anggara Grup, salah satu perusahaan iklan yang kini sedang berkembang pesat.


"Definisi, Sultan ketemu sultan ya gini."


Bukan hanya para tamu yang tercegang, Alana saja yang berada di dalam kamar saat Ayahnya menyebutkan mahar yang di berikan Alvi menganga tak percaya. Dia mengira perkataan kakek Farhan di rumah sakit hanya sebuah candaan, tapi ternyata tidak.


"Cie yang udah jadi istri orang." goda Salsa yang setia menemani Alana di dalam kamar.


"Ayo temui suami kamu." ujar bunda Anin.


Bukannya menuruti perkataan bundanya, dia malah menangis dan memeluk tubuh ramping wanita paruh baya itu.


"Jangan nangis ih, cantiknya nanti hilang."


"Bunda!" lirih Alana.


"Tidak ada yang berubah sayang, kamu akan tetap menjadi putri bunda." Anin tahu betul apa yang dipikirkan anak manjanya.


Bunda Anin dan Salsa menuntun Alana menuruni satu persatu anak tangga.



Semua mata tertuju padanya, Alana malam ini benar-benar menjadi ratu di istananya. Di saat semua menatap Alana dengan binar takjub dan penuh kebahagian. Ada satu sosok di antara banyaknya tamu menatap dengan tatapan sendu dan mata berkaca-kaca.


Sesakit inikah rasanya melihat wanita yang sangat kita cintai bersanding dengan orang lain?


Alana duduk di samping Alvi, menandatangani berkas yang diberikan oleh pak penghulu. Lalu keduanya bertukar cincin.


Dengan tangan gemetar dia meraih tangan kekar Alvi lalu menciumnya. Jantungnya benar-benar tak terkendali hari ini, rasanya jatung itu akan keluar dari tempatnya apa lagi saat merasakan benda kenyal menyentuh keningnya.


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


Ribuan kupu-kupu kini bertebaran di dalam perut Alana kala mendegar bisikan halus tersebut keluar dari mulut pak Alvi.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2