Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 32


__ADS_3

Satu persatu tamu undangan menghampiri Alana dan Alvi untuk memberikan selamat, tak terkecuali para keluarga besar orang tua Alana.


Devan menghampiri sepasang pengantin baru di atas pelaminan. Tak henti-hentinya dia tersenyum kearah Alvi. Siapa yang menyangka pria anti wanita tersebut kini mendahuluinya.


"Nggak pernah dekat dengan wanita, eh sekalian dekat langsung ijab qabul. Mantap kawan." seloroh Devan bertos ria ala laki-laki dengan Alvi.


Alvi hanya melempar senyum tipis tanpa berniat mebalas gurauan Devan.


"Selamat kakak ipar?" Devan kini beralih menjawab tangan Alana.


Alana melongo di tempatnya, siapa yang tidak mengenal Devan? salah satu aktor papan atas, selain menonton drama korea, dia sering mengikuti film yang di perankan Devan, dan sekarang aktor kesayangannya ada di depan mata.


Tanpa memperdulikan sekitarnya dia memeluk tubuh kekar sahabat suaminya itu. "Aaahh kak Devan, sumpah ini hadiah terindah yang gue dapat." histeris Alana.


Devan mengerling kearah Alvi. "Menang banyak gue Vi." ujarnya membalas pelukan Alana.


"Al sayang!" tegur bunda Anin membuat Alana melepaskan pelukannya.


"Refleks Bun. Nggak papa kan pak?" tanya Alana tanpa dosa pada Alvi.


"Hm."


"Aaaaaaaaaaa!!" Teriak Salsa entah dari mana berlari ke pelaminan. "Mimpi apa gue semalam bisa ketemu kak Devan." sama seperti Alana, Salsa langsung memeluk Devan tanpa memperdulikan tatapan seseorang yang kini memerah dengan tangan tekepal di salah satu meja.


"Yah ponsel gue di sita, padahal mau foto." Salsa melerai pelukannya.


"Next time, lo bisa minta no gue di Alvi." jawab Devan. "Mau nyanyi bareng gue?" tawar Devan.


"Mau!"


"Teman pak Alvi?"


"Hm."


"Dahlah, ngomong sama bapak, kayak ngomong sama patung. Eh nggak deh bukan patung soalnya masih bernafas." Alana bicara sendiri. "Apa ya pak?"


"Selamat menempuh hidup baru sepupu tersayangnya gue." Rayhan merentangkan tangannya hendak memeluk Alana, namun keburu Alana mendorong kepala Rahyan. "Nggak usah meluk-meluk. Hadia gue mana?"


"Besok nyusul."


"Kok besok?"


"Album SWITCH ON (On Ver) dan (Off Ver) beserta photocard nya. Kalau nggak mau nunggu yaudah gue cancel."


Alana mencegah Rayhan pergi, lalu merentangkan tangannya. "Pengen meluk deh, makasih abang sayang."


"Tumben banget akrab gini." cibir Keenan yang baru saja datang dengan yang lainnya, sementara Salsa di atas panggung masih sibuk bernyanyi dengan Devan.

__ADS_1


Ada yang aneh dari sikap Dito yang di tangkap Alana, cowok itu biasanya paling antusias jika bertemu dengannya, atau lebih dulu mengajaknya bicara, tapi sekarang Dito lebih pendiam.


"To, lo nggak mau ngucapin selamat sama gue?"


"Selamat Al." Dito mengulurkan tangannya dengan ekspresi datar.


"Lagi sakit hati dia Al." celetuk Ricky.


"Di tinggal nikah dia sama pacarnya, ngenes banget kan?" lanjut Rayhan.


Keenan mengemplak kepala Ricky dan Rayhan, bisa-bisanya dua cecungut itu malah menyudutkan Dito, sukur-sukur dia masih mau datang, kurang apa lagi perjuangan Dito coba?


"Bego banget tuh cewek mau ninggalin lo, tampan Iya, penyayang apa lagi. Kalau gue jadi lo ya, gue bakal datang ke pestanya, kalau perlu sama cewek lain biar dia tahu kalau lo bisa bahagia walau bukan dengannya." nasehat Alana tanpa tahu cewek yang di bicarakan para sepupunya adalah dirinya.


"Sakin begonya tuh cewek, sampai nggak nyadar bahwa Dito selama ini suka sama dia." timpal Azka yang diam sedari tadi hanya untuk meredam amarah yang berkobar dalam dirinya hanya karena melihat kemesraan Salsa dan Devan di atas panggung.


Alvi sedari tadi hanya bisa menjadi pendengar tanpa menyahut, karena memang dia malas basa-basi.


"To, mending lo nyanyi, lampiasin semua perasaan lo lewat lagu biar lega gitu." usul Alana di setujui yang lainnya.


Setelah Salsa dan Devan nyanyi, kini giliran Dito. Dia hanya seorang diri di atas panggung memangku gitar milik Samuel, mulai memetik dan bernanyi mengitikuti alunan gitar yang dia bawakan sendiri.


Terlambat suda...


kini kau telah menemukan dia...


membuatmu bahagia


Dito menyanyikan lagu Tri Suaka 'Aku bukan jodohnya' dengan penuh penghayatan, dia benar-benar menumpahkan seluruh perasaanya kedalam lagu yang dia bawakan. Sesekali menatap wajah Alana yang kini tersenyum kearahnya, sakit saat senyuman itu terukir di bibir Alana namun bukan dia alasannya.


Ku ikhlaskan kau bersanding


dengannya...


Aku titipkan Dia...


lanjutkan perjuanganku tuk'nya


bahagiakan dia...kau sanyangi dia


seperti ku menyayanginya


Kan ku ikhlaskan dia...


tak pastasku bersanding dengannya


kan kuterima dengan lapang dada

__ADS_1


Aku bukan jodohnya


Gemuruh tepuk tangan dari para tamu terdengar kala Dito selesai bernyanyi.


***


Karena sangat lelah, tanpa membersihkan atau ganti baju Alana merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Baru saja dia akan terjun ke alam mimpi Alvi menarik tangannya untuk bangun.


"Mandi!" perintah Alvi yang kini sudah terlihat segar dengan setelan rumah.


"Besok aja deh pak, lagian setelah mandi sama aja, ujung-ujungnya langsung tidur." sahut Alana kembali merebahkan tubuhnya.


Lama Alana guling-guling di atas tempat tidur namun matanya sudah tidak ingin tertutup lagi, apa lagi dia merasa gerah dengan gaun yang di pakainya. Dengan langkah malas dia masuk kedalam kamar mandi. Benar kata Pak Alvi, mandi adalah jalan satu-satunya.


Dan sialnya dia lupa membawa baju ganti masuk kedalam kamar mandi. Tidak mungkinkan dia keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk sebatas paha, yang ada di terkam habis-habisan, yang kecuali kalau pak Alvi belok mungkin dia akan lolos.


Dia mendudukkan diri di atas kloset mengigit-gigit kecil kuku tangannya, hingga panggilan pak Alvi terdegar.


"Kenapa lama? bunda kamu nyariin!"


"Iya tunggu!" sahutnya.


"Pak!"


"Hm"


"Boleh keluar sebentar nggak? gue lupa bawa baju." jujurnya.


Tidak ada jawaban dari pak Alvi, namun suara pintu tertutup terdengar, yang artinya pak Alvi sudah keluar dari kamar. Buru-buru dia menganti baju dengan piyaman tidur yang lebih sopan ya walau baju tidurnya nggak ada yang sopan, karena rata-rata hanya sebatas paha. Ingatkan Alana, besok dia harus membeli stok baju tidur syar'i.


Alvi masuk kedalam kamar dan mendapati Alana mengeringkan rambutnya di meja rias.


"Bunda nyariin saya buat apa?"


"Pak Dilan sama pak Elvan mau pulang."


"Udah pargi?"


"Hm."


Alvi naik keatas ranjang, menyadarkan tubuhnya di kepala dipang sembari memainkan ponselnya, memeriksa apakah ada masalah di kantor karena beberapa hari ini dia benar-benar tidak memantau karena sibuk mempersiapkan pernikahanya.


"Kita tidur bareng gitu pak?" tanya Alana yang kini berdiri di samping ranjang.


"Iya, kecuali kalau kamu mau tidur di lantai." jawab Alvi meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menarik selimut menutupi tubuhnya sebatas pinggang.


"Ogah." karena tak ingin tidur di lantai, Alana ikut naik di atas ranjang dan tidur di samping pak Alvi.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2