
Hanya Fllu biasa tetapi Alvi begitu manja pada Alana, sejak pulang dari shalat maghrib lelaki itu terus menempel pada sang istri hanya karena bersin-bersin juga sakit kapala.
"Kepala Aa sakit banget," manja Alvi mengusak-usak tepat di ceruk leher Alana.
Perlahan-lahan Ia memejamkan mata menikmati remasan demi remasan Alana di rambutnya, tak memperdulikan omelan kasih sayang yang keluar dari mulut sang istri.
Sayangnya ia lupa sedang berada di mansion Adhitama di mana semua orang bisa saja masuk ke kamar jika tidak mengunci pintu, terbukti sosok menyebalkan sedang berdiri di ambang pintu menganggu keromantisan keduanya.
"Mentang-mentang udah halal, mesra-mesraan tanpa ngunci pintu, mana buat semua orang kelaparan lagi," ujar Rayhan bersandar pada Daun pintu setelah membukanya lebar-lebar. Definisi Sepupu lucnuk yang sebenarnya.
"Salah lo juga buka pintu sembarangan, ngapain? ngintip?" sahut Alana tanpa merubah posisinya tetap menepuk-nepuk punggung bayi besarnya.
"Ogah!" Rayhan menjeda. "Di panggil makan malam di bawah."
"Iya nanti gue nyusul."
"Jangan lama gue lapar," ujar Rayhan sebelum meninggalkan kamar mereka.
Tak bisa bergerak karena Alvi, Alana membangungkan lelaki itu dan menyuruhnya tidur dengan nyaman, tetapi Alvi malah ingin ikut makan malam bersama mereka. Bukan tanpa Alasan, tapi Alvi tak ingin Rayhan menjahili istrinya.
__ADS_1
Kebucinan Alvi terlihat jelas di mata keluarga Alana, sejak keluar dari kamar hingga sampai di meja makan Alvi tak pernah melepaskan genggaman tangannya di tangan mungil gadisnya.
"Aura-aura pengantin barunya masih menguar nih," gurau Tante Fany melihat kemesraan keduanya.
"Harus tante biar awet," jawab Alana tanpa malu duduk di kursi yang Alvi siapkan untuknya.
"Puas-puasin pacarannya mumpung belum ada momogan sayang, kalau udah ada ekor, hmmm," tante Jesy menjeda kalimatnya, gemes sendiri mengingat hari-harinya dengan buah hati yang sangat hiperaktif. "Nggak bakal ada waktu lagi uwu-uwuan." lanjutnya dengan senyuman tanpa mengetahui perkataannya menyinggung ponakan tersayangnya. Maklum tidak ada yang tahu masalah kesehatan Alana selain Ayah Kevin juga Bunda Anin.
Sontak Alana terdiam menatap Alvi seakan mengadu, tetapi Alvi membalas dengan senyuman. "Alana, Aa lapar banget," rengek Alvi dengan ekspresi di buat-buat selucu mungkin. Rela terlihat bodoh demi melihat Alana tersenyum, bukan hanya Alana bahkan tante Jesy juga tante Fany tertawa melihatnya.
Jika yang lainnya heboh membicarakan hal yang tidak penting di selingi canda tawa yang seharusnya tidak di lakukan saat makan malam, Alvi dan Samuel tetap diam, fokus dengan pemikiran masing-masing tanpa berniat menyambung pembicaraan.
Berbicara saat makan adalah satu-satunya cara mengakrabkan diri bagi keluarga Adhitama. Hanya makan malam waktu yang pas untuk mereka, karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ini saja mereka kurang empat orang anggota. Ayah Kevin, bunda Anin, Oma Ajeng, dan Om Elvan berada di luar Negeri dengan urusan pekerjaan.
"Mau nambah Aa?" tanya Alana saat ia menambahkan makan ke dalam piringnya.
"Nggak," jawab Alvi.
__ADS_1
Usai makan malam om Daren mengajak Alvi berbicara di taman belakang sembari bermain catur. Alvi mengiyakan ajakan om Daren tapi sebelum itu ia izin ke kamar dengan alasan mengambil ponsel, nyatanya ia hanya ingin bertemu dengan gadisnya sebentar.
"Nggak papa belajar sendiri kan? jawab aja dulu, catat yang nggak di mengerti nanti Aa jelasin."
"Bukan itu Aa." Sanggah Alana, bukan itu maksudnya mencegah Alvi pergi menemui om Daren. "Katanya kepala Aa sakit."
"Udah nggak sayang."
"Beneran."
"Hm, lagian juga nggak setiap malam main sama om Daren."
Alana mengangguk mengerti. "Aku boleh belajar bareng Samuel?"
"Boleh."
"Makasih Aa." mengecup pipi Alvi sebelum pergi ke kamar Samuel, kamar yang sangat nyaman dan sangat bersih di antara kamar lainnya di Mansion ini.
...TBC...
__ADS_1
Kok makin hari makin sepi ya? apa akhir-akhir ini cerita dedek kurang menarik?🙈