
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Alvi cemas namun dokter Yani hanya melempar senyum.
"Kita bicara di luar bisa pak?"
"Hm."
Alvi berjalan mendahului dokter Yani, lelaki itu duduk di sofa berhadapan dengan dokter paruh baya tersebut.
"Tidak ada yang serius pak, Nona Alana hanya kelelahan." Jelas Dokter Yani ketika melihat raut wajah khawatir di wajah Alvi. Dapat wanita itu tebak, lelaki di depannya sangat mencintai sang istri, dan kabar yang akan ia sampaikan mungkin membuat CEO Anggara grup bahagia.
"Lalu kenapa istri saya belum sadar juga! 2 minggu belakangan ini, istri saya juga mual dan muntah, tapi anda dengan tenangnya tersenyun dan mengatakan tidak apa-apa!" geram Alvi mengepalkan tangannya, ia sedang mengkhawatirkan gadisnya namun dokter Yani malah melempar senyum.
Prank!!!!
Alvi melempar vas bunga di atas meja, membuat Hendri dan juga dokter Yani berjengit kaget.
Dokter Yani refleks berdiri menunduk ketakutan. "Maaf Tuan, tapi itu sudah biasa terjadi bagi wanita yang sedang hamil muda." lirihnya.
"Ha...mil?" lirih Alvi, lelaki itu berbalik menatap wanita paru baya yang menunduk ketakutan karena ulahnya.
"Iy..a Tuan, Nona Alana hamil, usia kandungannya menginjak 7 minggu." lirih dokter Yani.
Tak bisa di pungkiri sudut bibir Alvi terangkat mendengar berita membahagiakan tersebut, kemarahan yang baru saja tersulut kini mereda begitu saja.
"Duduklah," ujar Alvi mempersilahkan dokter Yani duduk.
Dokter Yani pamit undur diri setelah menjelaskan apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan Alana. Tak ingin membuang waktu, Alvi kembali masuk keruangan pribadinya dan mendapati sang istri tengah bersandar di kepala dipan.
Dengan lengkah lebar ia menghampiri Alana duduk di pinggir ranjang dengan senyuman mengembang.
"Kamu sudah sadar? ada yang sakit?"
"Cuma kepala aku doang yang pusing." Alana memegangi kepalanya. "Tadi kenapa Aa teriak kayak nge bentak orang gitu?" tanyanya.
Bukannya menjawab, Alvi malah menarik Alana masuk kepelukannya, menciumi seluruh wajah pucat tersebut "Terimakasih," bisiknya.
"Buat apa?" Bingung Alana.
"Terimakasih sudah mau menghadirkan sosok malaikat di dalam perutmu." Namun itu hanya bersarang di kepalanya tanpa mampu berucap. Pesan dokter Yani, bahwa Alana tidak boleh stres atau banyak pikiran membuatnya mengurungkan niat memberitahu kabar bahagia ini, tidak, mungkin hanya dia yang bahagia dengan kehadiran sosok malaikat di rahim istrinya.
"Terimaksih buat apa?" ulang Alana.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau menjadi pendamping Aa."
"Basi." cibir Alana melerai pelukan Alvi. "Hubungan pernikahan kita sudah terjalin hampir 5 bulan, tapi Aa baru berterimakasih sekarang? aa kemana aja?"
Alvi hanya menanggapi dengan senyuman, ia harus ekstra sabar menghadapi mood orang hamil muda.
"Mau makan apa? ntar Aa beliin, atau mau makan di luar?" Tawar Alvi.
Alana mengeleng. "Sekarang jam berapa?"
"Sore, setelah sholat ashar kita pulang." Alvi mengecup kening istrinya, sebelum berlalu. "Aa ke mushollah dulu."
"Sore?" mata Alana membulat sempurna, berapa jam ia pingsan? "Aa kok nggak bilang, aku ada janji sama pak Dirga jam 3."
"Kamu baru sadar Al, kondisi kamu masih lemah, jangan kemana-mana dulu, Aa sudah kabari Dirga. Besok nggak usah masuk sekolah, aa beri izin 1 minggu sebagai pemulihan." Cerewet Alvi.
***
Jam dua pagi, gadis berambut indah tersebut terbangun, perutnya terasa kosong ia ingin makan sesuatu.
"Aa." Alana menguncang tubuh Alvi namun lelaki itu hanya bergumam tidak jelas. "Aku lapar pengen makan sesuatu." Rengeknya.
Mendengar rengekan sang istri, mau tidak mau Alvi membuka matanya.
"Lapar, pengen makan soto ayam tapi dagingnya, daging kambing."
"Soto ayam daging kambing?" ulang Alvi, yang benar saja, di mana ada penjual soto ayam tapi dagingnya kambing, aneh-aneh aja.
"Iya."
"Sekarang?"
"Tahun depan Aa." kesal Alana menyentak. "Ya Sekarang lah, aku laparnya sekarang."
"Aa mau nyari di mana?" bingung Alvi, ia tidak pernah mendengar soto ayam tapi dagingnya kambing, di jual di toko manapun.
"Terserah Aa yang penting dapat." ujar Alana acuh.
Alvi mengusap wajanya kasar, bangun dari tidurnya, berjalan sempoyongan masuk ke kamar mandi. Di mana ia harus mencari soto aneh itu malam-malam seperti ini?
***
__ADS_1
Satu minggu telah berlalu setelah kejadian di kantor, lelaki kulkas dua pintu ini hampir berubah 180⁰, sangat cerewet dan suka mengatur Alana.
Selama itu pula Alvi dibuat kewalahan dengan sikap Alana semakin menjadi, sering meminta hal-hal Aneh.
Kini lelaki itu duduk di meja makan, sembari melirik jam dinding, setengah 8 malam, tapi gadisnya belum pulang juga. Hujan di luar sana semakin deras membuatkan sangat khawatir.
Berkali-kali lelaki itu menelfon gadisnya, namun tak pernah di angkat, jika bukan karena Alana merengek hampir menangis, ia tidak mungkin membiarkan gadis itu pergi bersama Dirga untuk ke dua kalinya.
"Halo," ujar Alvi datar setelah sambungan telfon terhubung dengan seseorang. "Mana Alana!"
"Ngapain lo nanyain gue? emang gua bapaknya?"
"Dirga sia*lan!" Maki Alvi.
"Wuis santai dong, nggak usah ngegas gitu, Alana aman sama gue, tenang aja," ujar Dirga di seberang telfon sembari melirik gadis berambut indah tersebut yang kini asik tertawa di depan laptopnya.
Dirga mematikan sambungan telfon sepihak, kembali bergabung dengan Alana di sofa, ia memang sengaja mencegah gadis itu pulang dengan Alasan hujan deras.
"Seru kan?" ujarnya mendudukkan diri di samping Alana.
"Banget pak." jawab Alana tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop Dirga. "Nggak nyangka banget, ternyata pak Dirga suka drakor juga."
Dirga senyum penuh arti, misi pertama berhasil, yaitu menarik perhatian Alana, dengan menyukai apa yang di sukai gadis itu. Bahkan ia sengaja mencari judul drakor terbaru hanya untuk ia rekomendasikan pada Alana.
"Alvi telpon saya tadi, nanyain kamu." Jujur Dirga, ia ingin bersaing secara sehat.
"Pak Alvi?" kaget Alana.
Gadis itu menepuk jidatnya, ia lupa mengabari suaminya bahwa pulang telat karena hujan deras, ia mencari ponselnya, mulutnya semakin menganga melihat 38 panggilan, 197 pesan dari suaminya.
"Saya pulang pak." Buru-buru Alana merampas tas ranselnya di kursi samping, ia harus segera pulang jika tidak ingin Alvi marah padanya. Lelaki itu hanya diam ketika marah namun terlihat sangat menyeramkan.
"Saya antar." Dirga mengejar Alana.
"Saya bisa pulang sendiri pak, lagian hujan sudah reda," sahut Alana terus berjalan.
Dirga melepas jasnya ketika Alana hampir mencapai pintu keluar gedung perusahaanya.
"Di luar sangat dingin." Lelaki itu memasangkan jas hitamnya di tubuh mungil Alana.
"Makasih pak, tapi saya...." Alana mematung, perkataannya mengantung di udara, ketika melihat pria yang berstatus sebagai suaminya, berjalan ke arahnya dengan ekspresi yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Aa." lirihnya.
...TBC...