
Pergerakan Alana membuat lelaki yang baru saja terlelap kembali membuka matanya.
"Butuh sesuatu?" tanya Alvi.
Alana hanya menatap Alvi sekilas, lalu perlahan-lahan bangun dari tidurnya, ia bersusah payah mengerakkan kakinya walau terasa sangat sakit. Membuat Alvi refleks memegangi lengan gadisnya, takut Alana terjatuh.
"Nggak usah, aku bisa sendiri," ujar Alana menepis tangan kekar itu dari lengannya, berusaha menjejakkan kakinya ke lantai. "Ssstttt." Rintihnya menahan sakit.
"Kamu mau ke toliet kan? Aa bantu, atau mau di gendong?" Sabar Alvi, terus memberikan perhatian-perhatian kecil pada sang istri, lelaki itu tahu sekarang emosi gadisnya tidak stabil pasca keguguran, juga bangun-bangun mendapati kakinya patah.
"Aku bisa sendiri!" bentak Alana. "Aku nggak butuh belas kasih siapapun," lirihnya di akhir kalimat.
"Jangan seperti ini Al!" tegur Alvi.
"Kenapa? nggak suka, Iya?" Alana tertawa menyedihkan. "Kamu nggak dengar aku ngomong apa semalam? pergi dari hadapan aku, dan jangan pernah kembali lagi, aku benci sama kamu, benci!" teriak Alana histeris.
"Stop sayang." Lembut Alvi mendekap tubuh bergetar gadisnya. "Aa punya perasaan, punya hati, dan emosi. Aa juga bisa marah, jadi stop pancing emosi Aa. Aa nggak mau kelepasan dan bentak kamu." Terang Alvi.
Alana melerai pelukan Alvi kasar. "Aku mau ke toilet, minggir!"
"Al...."
"Minggir aku bilang," ujar Alana, kini suaranya tak seemosi tadi.
Alvi menyingkir sesuai pemintaah gadisnya. Namun, ia tetap siaga.
Brugh
Baru saja mencoba berdiri, tubuh Alana oleng, untung saja Alvi dengan sigap menangkapnya. Alana merosotkan tubuhnya ke lantai.
"Aaaaaaaaaaaaa...!" teriak gadis itu sekencang mungkin. Ia belum bisa menerima kenyataan yang menimpanya, selama ini hidupnya hampir mendekati sempurna, tapi hanya kecelakaan kecil membuatnya sangat menyedihkan.
Gadis itu terus memukuli dadanya, berusaha menahan sesak. Ia benci terlihat lemah, dan sekarang bukan lagi lemah, tapi ia menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Malu? jangan di tanya lagi.
Ia mendongak, menatap mata elang Alvi. "Aa kenapa Allah nggak ngambil nyawa aku aja?"
"Hust..." Alvi merapikan anak rambut gadisnya, menyelipkannya ke belakang telinga. "Jangan ngomong gitu! Allah sayang sama kamu, makanya di beri ujian seperti ini." Nasehatnya.
Air mata Alana semakin deras, terisak-isak sembari memeluk tubuh kekar suaminya. "Kenapa Aa nggak pergi saja? kenapa harus susah-sudah jaga aku?"
Sudut bibir Alvi terangkat, nada bicara gadisnya kembali seperti dulu. "Kenapa, Hm?" Menangkup ke dua pipi gadisnya. "Aa suami kamu, sudah seharusnya merawat kamu hingga sembuh."
"Aku nggak sempurna seperti dulu lagi A, kaki aku patah, nggak bisa layanin kamu seperti biasa. Aa pengusaha besar, apa nggak malu punya istri cacat seperti aku? aku aja malu."
"Kesempurnaan hanya milik Allah, sayang. Kenapa harus malu, Hm? kaki kamu akan sembuh."
Lagi bulir-bulir bening berjatuhan di pelupuk mata gadis berambut indah tersebut. "Maafin aku Aa." Sesal Alana, ia berfikir akan lebih baik jika Alvi menjauhinya, dengan begitu lelaki itu tidak perlu bersusah payah merawatnya.
__ADS_1
Ia bukan membenci Alvi, melainkan membenci dirinya sendiri.
"Maaf di terima." Mengecup bibir pink itu, lalu mengendong sang gadis. "Mau ke toilet kan?" tanyanya di jawab anggukan oleh Alana.
Ia menurunkan Alana perlahan-lahan, mendudukkan gadisnya di kloset.
"Ngapain masih di situ A?" tegur Alana ketika melihat Alvi bergeming.
"Nungguin kamu."
"Jorok!" Ejek Alana. "Aku mau Bab, bau tau A."
"Ya nggak papa." santai Alvi.
"Ish...nggak bisa keluar kalau di liatin." Alana memelas.
"Iya...Iya Aa keluar. Kalau selesai panggil Aa."
Alana hanya menganguk dan juga bernafas lega, akhirnya Ia bisa Bab (Buang air besar) dengan tenang. Selesai dengan hajatnya, gadis itu bukannya memanggil Alvi, melainkan nekat berdiri sendiri.
"Aku pasti bisa." Semangatnya, bertumpu pada dinding.
Brugh.
"Auw..." Ringis Alana.
"Aa udah bilang, jangan nekat."
"Sakit Aa."
"Sayang!" itu bukan suara Alvi melainkan suara bariton yang selalu membuat nyali Alvi menciut.
Baru saja akan mengendong Alana, tangan Alvi di tepis oleh Kevin. Lelaki itu mengambil alih mengendong tubuh putrinya.
"Ayah!" tegur Alana ketika berada di gendongan Ayah Kevin. "Jangan gituin suami aku." protesnya, tak suka melihat sikap ayahnya pada Alvi.
Alana menoleh, menatap Alvi yang kini tersenyum kearahnya, seakan mengatakan ia tidak apa-apa.
Anin menepuk pundak Alvi, ia juga merasa tidak suka atas sikap suaminya yang terlalu berlebihan.
"Maafin ayah Alana ya." Lembut Anin.
"Nggak papa bunda, wajar aja ayah Kevin seperti itu." jawab Alvi, walau ia sedikit tidak terima di perlakukan seperti itu.
Lalaki itu menarik kursi hendak duduk di samping brangkar. Namun sebuah bogeman lebih dulu mendarat di wajah tampannya, ia meringis, mendapat serangan tiba-tiba.
Alvi refleks berdiri, kini ia membalas tatapan tajam pria paruh baya di depannya. "Aku salah apa?" Hilang sudah kesabaran Alvi.
__ADS_1
"Masih bisa bertanya apa kesalahan kamu? Kamu sudah teledor menjaga anak saya hingga kakinya patah. Apa harus saya memberi kamu kesempatan ke dua? bahkan merawatnya saja tidak becus hingga Alana harus jatuh di toilet." Cecar Ayah Kevin.
"Iya saya salah!" Suara Alvi tak kalah tinggi. "Tapi apa harus saya di perlakukan seperti ini?" meledak sudah emosi yang ia tahan.
Alana terisak melihat pertengkaran dua lelaki yang ia cintai, kenapa mereka tidak pernah akur layaknya menantu dan mertua pada umumnya? gadis itu meraih tangan Alvi yang terkepal, mengengamnya serat mungkin.
"Udah!" pekik Alana. "Ayah punya masalah apa sama suami aku? kenapa ayah malah pukul dia? Aku yang ceroboh, aku jatuh sendiri, kenapa ayah malah nyalain suami aku?" Tangis Alana semakin pecah, rasanya sakit melihat suaminya terluka, apa lagi penyebabnya ayahnya sendiri.
Bunda Anin, menarik tangan suaminya keluar dari ruang rawat putrinya, ia kesal akan kelakuan lelaki Arogant tersebut, dari dulu sampai sekarang suaminya belum bisa menerima Alvi sepenuhnya hanya karena satu alasan konyol.
"Jangan nangis, Aa nggak papa." bujuk Alvi, duduk di pinggir ranjang, menghapus air mata gadisnya dengan ibu jari.
"Sudut bibir Aa berdarah." ujar Alana menyentuh sudut bibir Alvi.
Lelaki itu mencoba tersenyum, meraih jari-jari lentik yang kini menyentuh sudut bibirnya. Alvi melirik arloji di pergelangan tangannya, hampir jam 8 pagi, tapi istrinya belum sarapan.
"Kamu mau sarapan apa? Aa beliin mumpung ada bunda yang jagain kamu."
"Nggak usah Alvi, bunda bawa sarapan buat kalian," ujar bunda Anin baru saja masuk setelah memberi ceramah panjang lebar pada suaminya.
Bunda Anin mengecup kening putrinya. "Bunda pulang ya, masih ada urusan soalnya, siang bunda kesini lagi."
"Makasih makananya bunda." sahut Alvi, ketika Alana diam saja dalam dekapannya.
"Kenapa, Hm?"
"Maafin Ayah."
"Aa juga bakal lakuin itu kalau ada yang lukain anak kita nanti."
Mendengar kata Anak, senyum gadis itu mengembang, ia melupakan sesuatu sakin sedihnya.
"Apa nih senyum-senyum." Mengecup bibir pink Alana.
"Ayo periksa ke dokter mumpung di rumah sakit Aa, siapa tau aku hamil." antusias Alana.
Alvi menelan salivanya kasar, diam sejenak mencari jawaban yang pas untuk gadisnya.
"Belum, kata dokter kemarin." Bohong Alvi.
"Aku nggak keguguran pas jatuh kan Aa?" Tanya Alana, kini gadis itu menatap mata Elang Alvi.
"Keguguran gimana maksud kamu, hamil aja belum."
"Iya...ya." Alana tertawa merasa konyol akan pertanyaannya
...TBC...
__ADS_1