Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 93


__ADS_3

Setelah kepergian Devan dan Angga, Alana kini fokus pada lelaki yang masih tertidur di atas brangkar, tangan lentik itu sedikit bergetar ketika akan menyentuh wajah Alvi.


"Maafin aku, A." mengelus rahang juga pipi Alvi.


Alana terisak melihat kondisi Alvi, tubuh memerah penuh ruam, bisa di pastikan sangat gatal.


"Sakit banget ya A? Aa capek banget ya sampai kebersihan dan kesehatan saja nggak sempat Aa perhatikan?"


Alana menunduk mengecup sudut bibir Alvi, cukup lama hingga ia tidak sadar tetesan air matanya yang jatuh ke pipi Alvi membuat lelaki itu terbangun karena merasakan perih.


Bukannya merintih Alvi malah tersenyum, ketika membuka mata, gadis yang sangat ia rindukan ada di hadapannya, bahkan gadis itu sedang menciumnya, ia mengelus rambut indah kesayangannya. "Ngapain kesini? nggak sekolah?"


"Kapan Aa masuk rumah sakit? kenapa nggak ngabarin aku?"


"Aa nggak mau ngerepotin kamu," jawab Alvi terus menatap wajah Alana, gagal sudah rencanya memberi kejutan buat gadis itu akibat penyakit anehnya.


"Aku gagal jadi istri yang baik, aku bahkan nggak tau Aa punya alergi. Kenapa nggak pernah cerita?" mengusap air matanya kasar.


"Jangan nangis!"


"Aku nggak nangis, air matanya keluar sendiri."


Alvi mengulum senyum melihat hidung memerah Alana, dengan sigap ia menjawil cuping hidung itu. "Terus namanya apa, Hm? Cengen?"


"Aa," kesal Alana.


"Dalem sayang."


"Nggak usah bercanda orang lagi sakit juga."


"Siapa yang sakit? Aa sehat cuma kulit aja penuh ruam."

__ADS_1


Alana membantu Alvi ketika lelaki itu ingin bersandar. Dengan sigap Alana mengambil tisu lalu melap air yang keluar dari mata Alvi. "Nggak sakit apa, orang meler gini, mana matanya merah, belum lagi tubuh Aa pasti gatel."


Bukan cuma itu, bahkan hidung Alvi berair, tetapi Alana tanpa jijik membersihkannya, se kotak tisu siap siaga di atas pengkuan gadis itu, siap siaga kalau saja Alvi butuh.


"Hatchiiii." bersin Alvi sangat keras membuat Alana kaget, tapi detik berikutnya gadis itu tertawa.


"Bersin Aa estetik ya," tawa Alana sembari memberikan tisu pada Alvi, tak lupa gadis itu menyemprotkan antiseptik di telapak tangan Alvi.


"Pulang Al, Aa nggak mau kamu ikut-ikutan sakit."


Bukannya menjawab Alana malah nekat naik ke atas brangkar, berbaring di samping Alvi, lalu memeluk pinggang lelaki itu. "Aa kalau ada masalah cerita sama aku, jangan di pendam sendiri. Kalau Aa nyimpan semuanya sendiri sama kayak sebelum nikah, lalu gunanya aku sebagai istri apa?"


Alvi tak menyahut, lelaki itu malah memejamkan matanya, sibuk menahan rasa gatal di seluruh tubuhnya, belum lagi sakit kepala yang mulai menyerang. Tak sanggup menahan, Alvi melepaskan rangkulannya pada Alana, hendak mengaruk apa saja di bagian tubuhnya agar merasa lega.


Menyadari kegelisahan Alvi, Alana duduk sila di samping lelaki itu, dengan sigap ia menahan tangan Alvi. "Mau ngapain?"


"Garuk"


"No Aa." mengoyang-goyangkan jari telunjuknya tepat di depan Alvi. "Nggak boleh di garuk, ntar perih Aa sendiri yang repot."


"Gantel banget sayang."


"Aku tahu Aa, tapi nggak harus di garuk juga. Bilang sama aku yang gatal di bagian mana, biar aku elus."


"Punggung Aa," jawab Alvi masih dengan posisi yang sama.


Menuruti keinginan Alvi, Alana menelesupkan tangan lentiknya kedalam baju Alvi, mengelus secara perlahan punggung lelaki itu. "Gini?"


"Iya."


"Tangannya jangan di gerakin mulu Aa, tuh liat keluar darah kan," omel Alana ketika melihat darah keluar dari selang infus Alvi, akibat terlalu aktif bergerak.

__ADS_1


Lama kelamaam Alvi semain melunjak, menunjuk sana-sini bagian tubuhnya yang terasa gatal agar Alana mengelusnya. Tapi gadis itu sama sekali tak mengeluh, hanya sesekali menghela nafas.


"Baring dulu!" perintah Alana.


"Nggak mau." manja Alvi.


"Aa sayang, baring ih, biar lebih gampang ngelus perutnya."


Dengan terpaksa lelaki itu kembali ke posisinya, setengah berbaring agar memudahkan Alana mengelus perutnya. Diam-diam ia mengulum senyum melihat betapa telatennya Alana, ia menyelipkan anak rambut gadis itu kebelakang telinga.


Bukan karena apa Alana sangat betah mengelus perut Alvi, gadis itu punya motif terselubung. Sedari tadi gadis itu terus memainkan roti sobek Alvi, saking gemesnya ia menggigit kecil perut kotak-kotak itu.


"Lapar banget kayaknya." sindir Alvi.


"Gemes banget Aa," sahut Alana menoel-noel satu persatu potongan-potongan daging berbentuk roti itu.


"Masih gantel baget ya Aa?"


Alvi mengkode Alana agar bersandar di dadanya, lelaki itu mengelus punggung mulus gadisnya yang masih terbalut seragam sekolah.


"Gatelnya nggak bakal berhenti sampai ruam di tubuh Aa hilang, jadi nggak usah di pikirin."


"Aku punya ide." Girang Alana melepaskan pelukan Alvi, kemudian turun dari brangkar, gadis itu berjalan ke arah pintu lalu menguncinya. "Beres," ucapnya ternyum penuh Arti.


"Kenapa di kunci?" binggung Alvi.


"Biar nggak ada yang liat kalau aku lakuin itu sama Aa."


...TBC...


Hayo ada yang tau Alana mau ngapain sampai kunci pintu segala?🤭

__ADS_1


Yuk mampir di novel kakak online aku. Nama tokoh perempuannya sama loh, itung² lepas rindu sama Alananya Aa😉.



__ADS_2