Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 138


__ADS_3

Rumah gubuk di kelilingi sampah plastik disekitarnya. Disanalah Alana berada, tak menyangka anak-anak yang mereka temui di pinggir jalan tinggal di rumah kumuh seperti ini. Takut terjauh, Alana jalan perlahan-lahan di utungkan ia memakai sepatu kets.


"Ini rumah kamu dek?" Alana kembali bertanya, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ternyata selama ini ia tidak pernah bersyukur, selalu mengeluhkan hidupnya tanpa tahu orang di luar sana ingin menjadi seperti dirinya.


"Iya kak, jelek Ya? kakak pasti nggak nyaman."


Alana mengeleng, mengelus kepala kedua anak itu, "Boleh kakak masuk jenguk ibu kamu?"


"Di dalam kotor nggak ada tempat duduk kak."


Alana jongkok mensejajarkan tingginya dengan anak umur 10 tahun itu lalu menepuk pundaknya "Ini istana kamu, rawat sebaik mungkin, jangan bilang jelek apa lagi kotor!"


Alana tersenyum saat anak-anak lain dari dalam gubuk itu memperhatikannya, mungkin saudara anak-anak yang ia tolong. Alana menunduk agar bisa masuk ke dalam rumah dan bertemu wanita paruh baya terbaring dengan wajah pucat. Hanya berbalut sarung, itupun banyak tempelan di sekitarnya.


"Tante?" Alana duduk di sisi wanita paruh baya itu.


Wanita janda beranak 5 itu berusaha bangun demi menyambut kedatangan Alana.


"Nak, ambilkan dus bersih untuk kakak ini duduk!"


"Nggak udah tante, gini aja nggak papa."


Cukup lama Alana berbincang -bincang dengan wanita paruh baya itu. Menanyakan sakit apa yang di derita ibu beranak 5 itu. Wanita tangguh yang berusaha menghidupi anak-anaknya tanpa di dampingi seorang suami, berusah menyekolahkan salah satu dari anaknya, mengandalkan pendapatan yang tak seberapa sehari. Tapi karena sakit, terpaksa si sulung mengemis untuk memberi makan adik-adiknya.


Setelah berkonsultasi dengan Tante Jesy Mama Rayhan yang seorang dokter. Alana pamit bukan untuk pulang tetapi untuk menembus obat yang baru saja di kirimkan tante Jesy padanya. Tak lupa Alana mengajak anak paling tua dari keluarga itu.

__ADS_1



Usai menembus Obat, Alana membawa anak itu ke mall untuk belanja pakaian juga selimut juga beberapa kasur busa ukuran kecil. Berhenti di sebuah restoran membeli makanan untuk mereka. Serta membeli keperluan sehari-hari dan bahan-bahan dapur yang sangat dibutuhkan, seperti beras, minyak, telur, dan sebagainya.


Setelahnya Alana membawa anak itu kembali. Menunggu mobil yang sengaja Ia sewa untuk membawa belanjaanya. Dirasa sudah cukup, Alana pamit pulang. Rasanya sangat bahagia bisa membantu orang-orang yang membutuhkan.


"Terimakasih nak sudah mau membantu kami." tangis wanita paruh baya itu. Tanpa jijik Alana memeluk wanita rapuh itu lalu mengelus punggungnya. "Ibu nggak tau bagaimana membalas kebaikan kamu nak."


"Cukup do'a kan saya biar cepat punya anak tante." senyum Alana.


"Pasti kak." sahut Anak-anak dengan raut wajah senang membongkar belanjaan yang ia beli.


"Semoga kamu di beri keturunan yang sholeh dan sholeha nak, dan di beri keluarga yang bahagia."


Tak lupa Alana juga memberi janda beranak lima itu beberapa uang.


"Dah adik-adik, belajar yang rajin biar jadi anak yang sukses."


"Makasih kak."


***


Alvi tersenyum mendegar cerita sang istri dalam pangkuannya itu, ia sangat bangga pada gadis manjanya.


Alana melingkarkan tangannya di leher Alvi. "Aa aku boleh minta sesuatu nggak?

__ADS_1


"Boleh sayang, apapun. Selama kamu nggak minta Aa buat ninggalin kamu." Mengecup bibir istrinya.


"Aku mau Aa bangun sebuah sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Banyak di luar sana orang-orang berbakat, tapi terhambat karena ekonomi." pinta Alana serius, menatap mata elang sang suaminya yang selalu membuatnya jatuh cinta.


"Permintaan di terima."


"Benarkah?"


"Iya sayang."


Brugh


Tubuh Alvi terhempas kebelakang, saat Alana mendorongnya cukup keras. Gadis itu kini berada di atas tubuh Alvi, mengecup seluruh wajah sang suami dan mengucapkan cinta sebanyak-banyaknya, juga terimakasih karena mau mengabulkan permintaannya.


"Nantangin kamu, Hm?" Memeluk pinggang Alana, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.


Ekspresi Alana seketika berubah saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana.


"Kok keras?"


"Hah?"


***


Jangan lupa Vote, mumpung masih senin ya😁.

__ADS_1


__ADS_2