Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 172


__ADS_3

Bangun-bangun Alana sudah tak mendapati Alvi di sampingnya, tetapi ia mendengar gemircik air di kamar mandi, juga suara orang mual. Berhasil mengumpulkan nyawanya, Alana berjalan perlahan ke kamar mandi dan mendapati Alvi tengah berdiri di wastafel, menumpu kedua tangannya sembari menunduk.


"Aa kenapa?" tanya Alana memijat tengkuk Alvi.


"Kayaknya Aa masuk angin," jawab Alvi membilas mulutnya dengan air bersih, lalu mengeringkan tangannya. "Kamu butuh sesuatu?"


Alana mengeleng. "Aa pucat banget," gumamnya. "Istirahat dulu ya,"


"Peluk tapi."


"Iya Aa,"


Alvi membaringkan tubuhnya di kasur, sebenarnya ini bukan yang pertama, sejak di Indonesia ia sering mengalaminya bahkan lebih dari ini, anehnya saat akan menjelang siang, tubuhnya langsung segar bugar seperti tidak terjadi apa-apa.


Tetapi berada di dekat Alana membuat mualnya sedikit reda.


"Mau kemana?"


"Mau buat teh anget buat Aa," jawab Alana.


Alana kembali masuk ke kamar membawa segelas teh hangat di tangannya, lalu menyerahkan pada Alvi.


***


Hari yang di tunggu-tunggu Alana tiba. Hari dimana ia akan resmi menyandang gelar sarjana. Bukan hanya orang tua nya yang datang, bahkan tante Jesy juga Tante Fany datang menghadiri hari bahagianya.

__ADS_1


Setelah MUA memberikan sentuhan pada wajah cantik Alana, barulah Tante Fany dan Bunda Anin turun tangan untuk memilihkan gaun yang pas untuk Alana. Kerja sama antara desainer dan penata busana terkenal membuat gaun yang di pakai Alana sangat elegan dan menakjubkan.


Gadis berambut indah itu memandangi dirinya dari pantulan cermin padanganya tertuju pada perut juga buah dadanya. Kedua objek itu sedikit menonjol.



"Kayaknya aku kebanyakan makan deh," gumam Alana tak suka melihat perutnya.


"Kenapa, Hm?" tanya Alvi memeluk Alana dari belakang.


Ia mencuri-curi kesempatan agar bisa lolos dari om Daren juga Om Elvan yang sedari tadi menggangunya.


"Aku gemukan ya A?"


"Dikit!" gumam Alvi. "Tapi tetap cantik, malah cantik baangeeettt." puji Alvi.


"Aduh...aduh udah lama nikah hawa-hawanya masih kayak pengantin baru padahal udah empat tahun lebih," ujar Tante Jesy berniat akan menjemput ponakan tercinta agar segera berangkat. "Kasian MUA nya sayang kalau nyosor sekarang" lanjutnya.


Blush, pipi Alana semakin merona bahkan mengalahkan blush on di pipinya.


Sepanjang jalan menuju lokasi, mata Alana sangat sulit untuk terbuka, bawaanya ingin terus tidur juga malas bergerak. Bahkan saat sampai di tempat tujuan Alana belum terbangun, alhasil ini menjadi PR bagi Alvi sementara yang lainnya masuk lebih dulu.


"Sayang, bangun udah sampai." Mengelus lembut pipi sang istri. "Kamu nggak enak badan?"


Alana mengeleng, memperbaiki gaunnya, juga anak rambutnya. "Aku ngantuk banget A," jawab Alana.

__ADS_1


Gadis itu selalu mengantuk di manapun ia berada.


Alvi dan Alana berjalan beriringan menuju aula tempat acara di laksanakan, duduk di kursi yang telah di sediakan. Mendengarkan acara sesuai susunan yang telah di tentukan, hingga tiba saatnya keputusan lulusan di umumkan. Alvi menggangguk, lalu melepaskan genggaman tangan Alana saat nama gadis itu di sebut.


Saatnya pelantikan lulusan yang di lakukan oleh Rektor juga mengucapkan janji wisuda. Setelahnya para Rektor mengumumkan Penerimaan penghargaan bagi wisudawan yang berprestasi. Betapa bangganya Alvi dan keluarga Alana saat nama gadis itu disebut sebagai lulusan terbaik tahun ini.


"Selamat untuk Alana Seizha Kevindra Adhitama atas perestasi yang telah di capai sebagai lulusan terbaik tahun ini," seru Mc menyambut Alana agar naik ke podium untuk memberi sedikit pidato juga menerima penghargaan dari para Rektor.


Melihat wajah Alana yang sedikit pucat juga mata sayu seperti ingin tidur, Alvi bangkit dari duduknya berjalan ke arah belakang panggung, meminta salah satu staf agar memberi tahu Mc bahwa Alana kurang sehat. Akhirnya Mc tak menyuruh Alana berpidato dan hanya memberi penghargaan setelahnya turun dari panggung.


Bunda Anin menghampiri Alvi dan Alana.


"Kamu kenapa sayang?" khawatir bunda Anin.


"Kayaknya Alana kurang sehat bunda," jawab Alvi masih mengamit pinggang sang istri.


"Kita kerumah sakit ya," bujuk bunda Anin.


"Aku cuma ngantuk bunda, tidur sebentar bangun-bangun pasti dah segar," tolak Alana.


Akhirnya pesta yang di persiapkan untuk merayakan kululusan Alana di tunda, dan memutuskan akan mengadakan di indonesia saja.


Masih sibuk dengan urusan masing-masing, Elvan dan Daren beserta para istrinya pamit ke Indonesia lebih dulu, sementara bunda Anin akan berangkat malam nanti setelah memastikan kondisi Alana baik-baik saja.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa komen, like dan vote nya.



__ADS_2