
Setelah memastikan Alana benar-benar pergi barulah Alvi beranjak dari tempatnya berdiri. laki-laki itu melangkahkan kakinya keluar dari bandara. Langkah kaki yang begitu berat seakan ada susuatu yang menahannya.
Alvi melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, kali ini tujuannya bukan rumah juga rumah sakit, tetapi sebuah pusat perbelanjaan setelah memboking satu ruangan untuk ia menonton sendiri.
Cara terampuh yang selalu ia gunakan sebelum menikah saat hatinya dalam suasana yang buruk. Kini ia kembali mengulangnya, karena tak ada lagi tempatnya menenangkan diri di rumah.
Alvi menyandarkan pungungnya pada sandaran kursi, sesekali memejamkan mata dan bayangan Alana terus menari-nari di pikirannya. Menonton film komedi hanyalah peralihan baginya. Kini pria tampan dan dingin itu mulai meneteskan air mata. Lelah pikiran juga lelah fisik tapi tak ingin pulang kerumah.
***
Jam tujuh pagi Alana akhirnya sampai di Boston, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 22 jam. Gadis itu menolak ikut dengan bunda Anin dan lebih memilih tinggal sendiri di rumah yang telah Alvi siapkan untuknya. Dirinya ingin hidup mandiri dan tidak tergantung pada orang tua, lagi pula dia sudah menikah dan bukan anak kecil lagi yang selalu akan tinggal dengan orang tuanya.
"Yakin mau tinggal sendiri? kita kerumah aja dulu, setelah Alvi datang baru balik kesini," bujuk Bunda Anin.
Alana mengeleng tetap pada pendiriannya. "Alana yakin bunda," jawabnya.
Bunda Anin menghembuskan nafas panjang, ia mengecup kedua pipi sang putri sebelum pergi, wanita paruh baya itu juga menjanjikan Asisten rumah tangga untuk Alana agar tidak benar-benar sendiri di rumah.
Tanpa membereskan apapun, gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di kasur, menatap lagit-langit kamar dan sudut ruangan. Suasana kamarnya tidak jauh beda dari kamarnya di Indonesia, Alvi benar-baner mempersiapkan semuanya dengan sempurna.
Benar yang di katakan Alvi, Cuaca Di Boston sangat dingin, bisa-bisa ia mati kedinginan jika keluar tanpa memakai jaket tebal.
Hatcihhh
Alana mengusap hidungnya hingga memerah, mengatur suhu pemanas ruangan, lalu menarik selimut untuk mengistiratkan diri. Sakin lelahnya gadis itu lupa mengabari sang suami yang entah sedang apa di belahan bumi lainnya.
__ADS_1
Alana bukanlah orang asing di Negara ini, dirinya pernah tinggal kurang lebih tiga tahun pas SMP. Jadi ia tidak terlalu khawatir akan ketika tahuan di sini.
Gadis itu meraba-raba tempat di sekitarnya mencari benda yang sedari tadi mengganggu tidurnya karena terus berdering, tanpa memeriksa siapa sang penalfon, Alana menjawab panggilan orang itu.
"Sayang wajah kamu mana?"
Mata yang tadinya terpejam kini terbuka sempurna mendengar suara yang sangat ia rindukan padahal baru berpisah beberapa jam. Alana memindahkan posisi ponselnya tepat di depan wajahnya, tersenyum sangat cerah melihat wajah sang suami.
"Aa aku kangen banget. Sun jauh," pinta Alana memajukan bibirnya, ia tertawa saat Alvi mengikuti keinginannya ikut menempelkan bibir tebal itu ke layar
"Udah,"
Hening tak ada lagi yang bicara, mereka sibuk memandang satu sama lain, Alvi yang sedang duduk bersandar di kepala dipan, sementara Alana tengah tidur dalam balutan selimut tebal.
"Kamu di rumah?"
Alana menggangguk. "Di sini lebih dekat dengan kampus, juga aku ingin hidup mandiri."
"Tapi kamu sendiri sayang, di rumah bunda aja dulu," ujar Alvi tak setuju. "Itu kenapa hidungnya merah? fllu?"
"Dikit, kepala aku juga nyut-nyut gitu."
"Udah makan?"
"Udah, sama bunda tadi. Aa udah makan kan? kok belum tidur?" tanya Alana saat melihat jarum jam menunjukkan angka 11 pagi, artinya di sana sudah jam 11 malam.
__ADS_1
"Minum obat sayang, di laci kedua di samping tempat tidur itu tempat obat, cari obat fllu."
"Iya,"
"Sekarang sayang!" perintah Alvi
Alana menghembuskan nafas panjang, menuruti perintah Alvi tanpa memutuskan sambungan telfonnya, setelah selesai, gadis itu kembali berbaring lalu mengambil ponselnya.
"Kamu serius mau tinggal sendiri?" tanya Alvi tak yakin.
Alana menggangguk.
"Yaudah dengerin Aa, dan turuti semua yang Aa perintahkan ini, kalau perlu di catat! otak kamu lemot dan suka lupa."
"Apaan sih A," kesal Alana tak suka Alvi mengatainya lemot.
"Jemur kemeja dan jas Aa di balkon dan nggak usah di ambil, biarkan mengantung di sana. letakkan sepasang sepatu laki-laki di depan pintu.
Masih banyak lagi yang Alvi sebutkan, dan Alana hanya bisa menggangguk patuh mencatat semuanya.
***
Jangan lupa Vote, komen, dan Like.
__ADS_1