Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Ekstra Part 3


__ADS_3

Lama berdiri membuat kakinya keram apa lagi ia memakai high Hels, baru saja akan mundur, tangan kekar Alvi terlebih dahulu memegang kedua lenganya lalu membimbingnya duduk di kursi.


"Kamu lelah, atau ada yang sakit?"  tanya Alvi penuh perhatian, tetapi Alana diam saja.


Alvi bangkit dari duduknya, memanggil salah satu pelayan, dan berbicara sesuatu. Beberapa menit kemudian pelayan itu datang membawa sepatu kets. Alvi berjongkok tepat di hadapan Alana, menarik kaki gadis itu lalu melepas high hels yang di pakainya, setelahnya memakaikan sepatu kets yang terasa nyaman di kaki Alana.


"Gimana, udah nyaman?" tanya Alvi.


Bukannya menjawab Alana malah menitikkan air mata, perlakuan Alvi sunguh menyentuh relung hatinya, tapi mengingat kelakuan laki-laki itu masih membuatnya sakit hati, apa lagi ia belum tahu yang sebenarnya, siapa anak itu? lalu di mana selingkuhan Alvi.


Jari-jari besar itu menghapus air mata di pipi Alana, berkata selembut mungkin agar gadis itu tidak tersinggung.


"Maafin Aa, Aa bakal jelasin semuanya tanpa ada kebohongan setelah pesta ini selesai," lirih Alvi.


Arga yang sedari tadi dalam gendogan ayah Kevin terus meminta ingin di turunkan, membuat pria paruh baya itu menyerah. Baru saja lepas, anak kurang lebih tiga tahun itu langsung berlari mendekati Alvi dan Alana, memeluk lutut gadis cantik yang mencoba tersenyun pada tamu.


"Mommy," panggil Arga mendongak menatap Alana.


Anak laki-laki itu berusaha naik ke pangkuan Alana, tetapi dengan cepat Alvin meraih dan mendudukkan di pangkuannya tepat di samping Alana.


"Sama Deddy aja dulu, Mommy lelah nggak bisa gendong kamu."

__ADS_1


"Napa Daddy? Alga lindu sama Mommy," ujar Arga masih memandangi Alana yang sedikitpun tak menoleh kearahnya. "Daddy ... Daddy ... Daddy .... Mommy lebih cantik dali poto ya? Mommy Alga cantik kayak boneka belbie." Anak tiga tahun itu terus berceloteh di pangkuan Alvi sesekali menatap Alana, memanggil gadis itu bahkan berusaha mengapai Alana agar bisa duduk di pangkuannya.


"Mommy malah sama Alga? napa Mommy nda mau liat Alga. Alga nakal ya mommy?" lirih Arga setelah berbicara panjang lebar tetapi Alana tak mengubris sama sekali.


"Al, kamu boleh marah sama Aa, tapi jangan marah sama Arga ya! dia anak kecil nggak tau apa-apa. Boleh, Aa minta kamu ajak dia bicara sebentar aja? dari dulu Arga ingin ketemu kamu, sayang," bujuk Alvi tak tega melihat Arga terus merengek padanya.


Menurunkan egonya, Alana berusaha tersenyum pada Arga mengulurkan  tangannya pada anak mengemaskan itu.


"Mommy nggak marah sayang," ujar Alana mengelus kepala Arga yang kini menatapnya dengan tatapan binar bahagia. "Sini sama Mommy," lanjutnya menepuk pahanya agar Arga duduk di pangkuannya.


Alvi menolak tawaran Alana, ia takut terjadi apa-apa pada janin didalam kandungan istrinya, ia tahu semua itu dari bunda Anin, makanya pesta di majukan sangat cepat agar Alana tidak terlalu stress memikirkan masalah yang ia timbulkan. Juga ayah Kevin yang mulai hilang kesabaran, terbukti dirinya tak bisa menemui Alana lagi sebelum pesta berlangsung.


"Arga sama Aa aja, kasian baby kita nanti ke himpit," ujar Alvi berhasil membuat Alana membeku.


"Kamu istri Aa sayang, masa kamu hamil Aa nggak tau."


Waktu terus berjalan tak terasa pesta usai jam 12 dini hari, seluruh tamu undangan juga sudah pergi menyisakan keluarga inti saja. Sedari tadi Rayhan meledek Alana tetapi gadis itu hanya diam saja, antara mengantuk juga bingung akan semuanya.


Sementara Arga tidur dalam pangkuan Alvi.


"Bunda yang jelasin atau kamu?"

__ADS_1


"Biar Alvi aja bunda," jawab Alvi.


Bunda Anin mengambil Arga dalam gendongan Alvi.


"Baiklah, jaga anak bunda ya, jangan di buat menagis lagi. Arga biar sama bunda aja," ujar bunda Anin.


Setelah kepergian keluarga Alana, kini sisa Alvi dan Alana saja di gedung itu. Saat Alvi hendak mengandeng tangan gadis itu, dengan cepat Alana menepisnya.


"Mana mobil kamu?" tanya Alana terkesan ketus.


Sepanjang jalan menuju rumah, Alana berusa agar tidak tertidur. Tapi nihil, pertahanannya runtuh dan terlelap. Bahkan tanpa sadar ia menyandarkan  kepalanya di bahu lebar Alvi


Tak tega membangunkan sang istri, Alvi mengendong Alana masuk ke rumah dengan hati-hati. Menidurkannya secara perlahan-lahan di ranjang, lalu melepas sapatu gadis itu.


"Maafin Aa udah bohongin kamu, Aa tau nggak akan mudah dapetin kamu dengan mudah kali ini," bisik Alvi mengecup kening Alana, lalu beralih pada perut rata sang istri.


"Jangan rewel ya, jangan nyusahin Mommy, jadi anak yang baik. Selamat malam cebongnya Daddy."


Alvi tak langsung tidur, laki-laki itu berjalan kearah balkon menikmati angin malam yang dingin menusuk sampai ketulang-tulang. Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi, melipat kedua tangannya sebagai bantal.


Bodoh. Satu kata yang pantas buat Alvi, berani mengambil resiko hanya karena jatuh cinta pada anak dua tahun yang ia temui di panti asuhan satu tahun yang lalu. Padahal dirinya tahu Alana tidak suka berbagi kasih sayang dengan orang lain.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa Vote, komen, dan Like. Jangan lupa kepoin kisah Azka dan Salsa "Cinta dan Masa Lalu"


__ADS_2