Hay Pak Guru

Hay Pak Guru
Part 109


__ADS_3

Suara guntur besahut-sahutan, membuat Alvi terbangun dari tidur nyenyaknya, Ia maraba-raba tempat di sampingnya, tak ada orang, juga tempat itu sudah dingin, pertanda Alana sudah lama bangun.


"Alana!" panggilnya masih dengan mata terpejam, mengumpulkan nyawa yang entah pergi kemana.


"Aku di sini Aa," sahut Alana dari balkon.


Alvi menyugar rambutnya kebelakang, berjalan kearah balkon dengan mata setengah terbuka, memeluk Alana dari belakang, menumpu dagunya pada pundak mulus gadis itu.


"Masih ngatuk," lirih Alvi. "Ayo tidur lagi!" manjanya.


Alana tersenyum, membalik tubuhnya menghadap sang suami, setengah berjinjit agar bisa melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu.


"Udah hampir magrib Aa, melek dikit napa sih?"


"Nggak mau." manja Alvi, mengelengkan kepalanya, sedikit membungkuk agar bisa menyanggah kepalanya pada ceruk leher gadis itu. "Pokoknya Aa mau tidur lagi."


"Utu...utu suami aku manja banget bangun tidur." Gemas Alana mengelus rambut Alvi. "Pakai baju dulu Aa ntar masuk angin."


Lagi dan lagi Alvi mengeleng.


Duar!!!!

__ADS_1


Suara guntur kembali terdengar membuat Alvi tersentak dalam pelukan Alana. Gadis itu tertawa melihat ekspresi bingungnya. "Nahkan melek juga."


Alana terus mundur merentangkan tangannya ke arah luar, berharap tangan kecilnya itu dapat menyentuh air hujan. Melihat usaha Alana akan sia-sia Alvi membantu gadis itu, ikut merentangkan tangannya lalu memindahkan air ke tangan Alana.


Namun, ia menyesali sikap inisiatif itu ketika Alana mencipratkan air hujan kearahnya. "Dingin sayang."


"Masa?" ledek Alana berlari meninggalkan Alvi di balkon.


"Mau kemana lagi?" frustasi Alvi melihat keaktifan Alana hari ini.


"Hujan-hujan Aa," sahut Alana sebelum menghilang di balik pintu.


Alvi menghela nafas panjang ketika melihat gadisnya di bawah sana sedang asik bermain di bawah guyuran air hujan. Berlari ke sana kemari menikmati dinginnya udara sore menjelang magrib.


Ia hanya mengeleng dan terus memerhatikan gadisnya dari balkon, dirinya tidak terlalu suka air sangat berbanding terbalik dengan Alana. Itulah mengapa mereka sering berdebat ketika akan berlibur, Alana memilih tema Laut sedangkan dirinya memilih tema gunung.


Senyum di bibirnya hilang melihat Alana berbicara dengan seorang lelaki di bawah sana, tanpa menunggu waktu Alvi menyambar baju kaos putihnya yang tergeletak di lantai lalu memakainya asal. Menyusul gadis kesayangannya di halaman depan.


"Ekhem," dehem Alvi membuat Alana dan Arka menoleh. "Ngapain?" intronya.


"Ini kak Arka nanya rencana aku mau kuliah di mana," jawab Alana.

__ADS_1


"Kalau Alana belum ada rencana, saya ada rekomendasi sekolah hukum buat dia." Arka ikut menjelaskan.


"Istri saya akan kuliah di Harvard University." Dingin Alvi.


"Makasih kak rekomendasinya, nanti saya bicarakan dengan pak Alvi."


Sepeninggalan Arka, Alvi juga meninggalkan Alana di halaman depan, walau gadis itu terus berteriak memanggil namanya.


"Aa ambekkan kayak cewek, cemburuan pula, untung cinta kalau nggak, udah aku tinggalin!" teriak Alana sakin kesalnya.


Langkahnya terhenti, berbalik menatap gadis yang tak jauh darinya.


"Sana masuk ntar Aa jadi duyung kena air hujan." ledek Alana.


Alvi melempar payung yang melindungi tubuhnya dari air hujan, berjalan mendekati gadis menyebalkan itu lalu mengendongnya seperti karung beras.


"Aa turunin aku!" Memukul punggung Alvi.


"Awas aja kalau kamu ninggalin Aa."


__ADS_1


...TBC...


__ADS_2